Tambak Bayan di Suatu Sore

Mei 31, 2009

Semoga bukan cuma saya yang ‘kuper’ sehingga tidak mengetahui keberadaan daerah miskin ini. Tambak Bayan yang menyimpan penggalan cerita tentang kemiskinan, sampah dan keterpinggiran. Saya yang lugu ini pernah beranggapan daerah macam begini cuma ada di daerah kejam ibukota Jakarta. Saat saya bosan dengan jalanan rupanya membuat mata saya menengok tumpukan sampah di jembatan Jalan Solo, sebelah Alfa yang sudah diakuisisi Carefour. Ada beberapa petak rumah dan ada aktivitas manusia. OMG, kemana saja saya selama bertahun-tahun di Jogja hingga melewatkan hal seperti ini?

Bantaran sungai Tambak Bayan ini bukanlah TPA semacam di Piyungan, tapi hanya pembuangan oleh masyarakat sekitar saja.  Jumlah sampahnya cukup banyak, mengingat kawasan di sepanjang  Jalan Solo ini memang kawasan ekonomi yang cukup kecang lajunya. Hotel-hotel berbintang, kawasan pertokoan hingga kampus memadati kawasan ini. Ibarat laron yang mengerumuni cahaya-cahaya petromaks, pemulung pun datang mengerumuni sampah-sampah dan memilahnya untuk didaur ulang.

Di tengah laju kemilau gemerlap kota Jogja yang makin glamour, keberadaan para pemulung  menjadi sejumput rasa pahit dalam manisnya pembangunan kota. Masyarakat miskin kota, yang terpinggirkan dan terasing. Setiap hari dikaisnya sampah-sampah, yang oleh orang-orang kaya produsen sampah tak sempat dipisahkan. Merekapun berbaik hati memisahkan plastik dan kertas, dan ditukarkan dengan kehidupan.

Bersama keluarga, mereka tinggal dalam sekitar 40 rumah semi permanen. Tinggal bersama sampah-sampah kehidupan mereka. Lalat, bau busuk yang menyengat dan potensi penyakit adalah bagian dari cerita resmi tentang komunitas masyarakat pemulung. Sudah menjadi paket tak terpisahkan.  Di saat para calon presiden peserta dagelan politik bernama Pilpres sedang memilih nomer urut di KPU, mereka bahu membahu memilih dan memilah sampah-sampah hasil produksi masyarakat kaya.

Sore itu, Pak Joko yang sedang memetik senar-senar gitar saya hampiri. Beliau berbincang tentang rencana penggusuran pemukiman tersebut karena lokasi itu akan dijadikan entah-apa-tapi-ada-kata-kata-kontraktornya-gitu-deh. Pak Joko sudah tinggal di tempat itu sejak 5 tahun lalu bersama istri dan ketiga anaknya. Pak Joko menuturkan, dia bersama beberapa pemulung lainnya memiliki juragan yang siap menyediakan rumah penampungan sementara. Senin besok mereka resmi harus meninggalkan lokasi sampah itu, lokasi di mana kehidupan mereka disangkutkan.

Matahari makin tak nampak di langit suram ditelan mendung. Sementara itu, Pak Tugiyo dan istrinya masih berkutat dengan sampah-sampah kertas dan plastik yang mereka kumpulkan seharian, mereka sedang merapikan untuk dimasukkan ke kantong bekas pupuk. Pak Tugiyo berasal dari Gunungkidul, meninggalkan lahan pertaniannya yang tandus untuk mengadu nasib memilah sampah untuk hidup. Dalam sehari, beliau menuturkan, jika banyak sampah yang datang beliau berdua bisa mendapat uang 10-15 ribu rupiah.

Istri Pak Tugiyo, sambil mengunyah inang (susur),  bercerita dulu daerah ini cukup ramai (sampahnya). Sehingga pendapatan mereka bisa cukup banyak. Namun sekarang, dengan adanya rencana penggusuran kawasan itu karena akan digunakan untuk kepentingan lain tentunya sumber kehidupan mereka tak lagi banyak. Entah, akan kemana mereka mencari rejeki. Mungkin Tuhan punya cerita untuk mereka.

Istri Pak Tugiyo menutup pembicaraan : “ya hidup ini kan cuma cerita mas…biar bisa diceritakan sama cucu nanti

Iklan

38 Responses to “Tambak Bayan di Suatu Sore”

  1. Sugeng Rianto Says:

    Istri Pak Tugiyo menutup pembicaraan : “ya hidup ini kan cuma cerita mas…biar bisa diceritakan sama cucu nanti“

    kamu cucunya to?! salam buat simbah, Potret kehidupan bangsa kita, tak peduli berapa banyak angka kemiskinan, angka pengangguran, yang penting pesta jalan terus. 😥

  2. nicowijaya Says:

    wajah jogja iki nto!

  3. antobilang Says:

    @nico : aku di sana cuma butuh waktu sejam kurang lebih 😀 ayo yang lain pasti bisa 😉


  4. Ah, ironis dan memprihatinkan, sungguh…
    Semoga Tuhan melindungi mereka, Amin.

  5. zam Says:

    welcome to big city, my brother!

  6. antown Says:

    jakarta tidak hanya neraka, tapi juga jahanam. eh sama aja ya. kenapa sih harus jakarta yang mendapat predikat begitu. ah mbuhlah,…..

    semoga kita semuanya bisa hidup damai aja deh.

  7. cahayasura Says:

    foto-fotonya sudah bercerita… 🙂

  8. arezk Says:

    hanya bisa mengeLus dada,
    semoga negeri ini bisa Lebih sejahtera rakyatnya, amien,,,

  9. Babe Says:

    fotone apik tenan…

  10. dian Says:

    apa ya, yang bisa kita lakukan untuk mereka? biar ngak cuma berhenti di sedih aja.
    kalo nunggu presidennya kok kesuwen…

  11. morishige Says:

    sumpah saya belum pernah ke situ…

  12. Aki Says:

    Bukannya memang selalu ada tempat seperti ini dimana- mana di tanah- air?

  13. bodrox Says:

    nice pics…


  14. tambak Bayan bukan yang masuk film Kamulah Satu-satunya?
    🙂

  15. bumimagenta Says:

    Di masa depan, tugas memilah dan mengolah sampah harusnya bukan tanggung jawab mereka sendirian lagi.

    Udah saatnya kita bareng-bareng milah sampah supaya pekerjaan mereka sedikit lebih ringan. Ya kan?

    I love you all…
    🙂

  16. wahyu am Says:

    foto2nya duhh 😦

  17. abeeayang Says:

    *miris*
    cantik to, poto dan ulasanmu

  18. -GoenRock- Says:

    Ya ampun, ngenes tenan 😐

  19. Investasi Says:

    itulah potret sisi lain indonesia kapan kita lepas yaa

  20. aL Says:

    yuk, mencoba berusaha untuk tidak hanya bersedih atau tertawa dan mengelus dada sembari berucap “indonesia..indonesia..” atau “indonesia gitu loch”, tapi segera ulurkan tangan.

  21. se7en_pearl Says:

    kalo kita bener” mo telusuri Indonesia,msh byk lg tempat laen nya yg jg bgto naseb nya..
    dmn yg miskin akan semakin miskin…
    Mungkin memang Tuhan punya cerita sendiri buat mereka..

  22. phery Says:

    sebenere masih banyak mas daerah kayak gini selain di tambakbayan. Kayaknya tiap kota di Indonesia punya deh daerah kayak gini

  23. geRrilyawan Says:

    orang-orang yang terlupakan…
    ada di sekitar kita, tapi kadang nggak kita lihat dan rasakan keberadaannya.

  24. Bisnis Says:

    posting yang menarik buat saya tapi dari gambarnya aja sudah mewakili tulisannya , salam kenal

  25. rhys3 Says:

    Ngenes.

    Lebih ngenes lagi, karena saya yang di Jogja ga pernah tau tempat tersebut 😐

  26. KangBoed Says:

    SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

  27. KangBoed Says:

    apdeeeeeeeeeeetttttttt

  28. Babesajabu Says:

    Postingan yang sangat menarik…
    Salam….

  29. Gotung Says:

    Dari gambarnya sudah dapat di mengerti…

  30. penjual kopi Says:

    tambak bayan….4 tahun ini aku hidup disitu…tempat itu menggambarkan cerita pilu tentang miskin dan anak2 ngekos

  31. ansav Says:

    Kelam sekali, realita indonesiakah ini?

  32. pandu Says:

    kata blogger bogor “beuhhh, alus-alus pisan euy potona!! memang kang anto mah mani jago motona!”

    Humanis banget fotonya mas anto.
    Terus motret yahhh plus ngeblog..

    Salam silaturahmi dari blogger bogor (blogor)

  33. wawan Says:

    Sekitar tahun 2000 saya sering PP dari TB II – Alfa, kayaknya sampah masih sedikit didaerah itu, dan dari trotoar kita masih bisa memandang luas daerah sekitanya (refreshing), tak kira sekarang dah lebih baik, tapi ternyata…

  34. rimba Says:

    Negara ini tidak henti-hentinya menampilkan gambaran kehidupan yang selalu termaginalkan oleh kekuasaan. entah sampai kapan bung Anto kehidupan seperti itu akan segera beranjak dari negeri yang kaya raya. berbahagialah bagi orang-orang yang masih memiliki mata hatinya untuk menyapa mereka dengan senyum. minimal itu. salam kenal

  35. MagicStix Says:

    Tambah semangat, Guam Chat.


  36. Masih kuingat waktu ku masih anak anak….
    sekitar tahun 1989, usiaku 12 tahun waktu itu.
    Aku masih bisa melihatmu sebagai kampung yang bersih dan ramah. Masih banyak pohon-pohon yang rindang dan setiap orang bisa berteduh dibawahnya, tapi sekarang tinggal kenangan… Pohon rindang berubah menjadi bangunan bangunan beton yang panas… hanya orang mampu saja yang bisa berteduh padanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s