Wajah Televisi, Wajah Kita

Januari 8, 2009

Benda kotak itu seringkali disebut sampah. Sampah yang merusak pola pikir anak-anak generasi terbaru. Bahkan tanggal 20 Juli setiap tahunnya dikampanyekan sebagai hari tanpa menonton televisi. Tapi, sampah dengan berbagai macam merek itu tidak pernah benar-benar hilang. Semakin banyak, itu pasti.

Hal yang sering dikeluhkan tentunya bukan soal televisi sebagai sebuah produk atau penemuan ilmiah, akan tetapi soal: isi tayangan. Isi yang ditayangkan oleh televisi seringkali (dianggap) sebagai peruntuh nilai-nilai kehidupan. Lewat siaran berisi seksualitas, kekerasan, ajaran hedonisme serta kriminalitas sekaligus. Atas apapun tuduhan yang ditimpakan kepada televisi, malam ini saya menemukan televisi benar-benar mampu menunjukkan kekuatannya sebagai cermin wajah manusia sesungguhnya.

Wajah Televisi

Ketika itu saya melihat mayat-mayat bergelimpangan di sebuah siaran berita, rudal-rudal pemusnah turun dari langit Palestina. Ratusan jiwa melayang cuma memancing reaksi kecaman dan kutukan, saja. Reruntuhan air mata turun dari ibu-ibu di Gaza menangisi putra yang direnggut perang. Diamnya para pemimpin dunia pun digenapi dengan berbagai aksi protes yang ujung-ujungnya pun bakar sana-bakar sini. Di bagian lain, saudara-saudara di timur nusantara sedang menunggu uluran tangan, sambil meratapi puing-puing yang hancur saat bumi menggeliat. Pada sebuah rolling news, gempa susulan sebesar 5,4 SR kembali menggoyang bumi Manokwari.

Ketika itu pula, dengan cepat remote memindahkan channel. Kepada saya ditunjukkan seorang petinggi partai sedang membahas hasil  survey perolehan suara pemilu partainya –yang masih akan digelar tiga bulan lagi.  Televisi berbeda, seperti sedang siaran  di dunia yang aman benderang, menampilkan kuis dengan pemandu ber-tanktop, genit menunggu penelepon menjawab : “bulan”, untuk menggenapi tebak-tebakan pepatah “bagai pungguk merindukan….”. Televisi sebelahnya lagi, memperlihatkan gemerlap dunia di sebuah klub malam Jakarta dengan pertunjukan penari setengah telanjang meliuk-liuk di atas meja.

Remote berputar-putar, dari kesedihan, air mata, darah, gelak tawa, nafsu, dan kekuasaan sekaligus. Televisi, seburuk apapun stigma ditumpukan di wajahnya, tapi televisi adalah cerminan wajah kita. Wajah ketidakpedulian.

29 Responses to “Wajah Televisi, Wajah Kita”

  1. Mbelgedez™ Says:

    Mangkanya ndak usah nonton tipi.
    Ndengerin Geronimo atau Rakosa sajah…..

  2. Mbelgedez™ Says:

    Atau kalo ndak, langganan tipi berbayar sajah, seharian nonton Nat GEO, atau Discovery….. :mrgreen:

  3. Mbelgedez™ Says:

    Jangan lupa, yang seger-seger ada di “Fashion TV”…. 😆

  4. serdadu95 Says:

    ….kitaaaa??!
    Lu aja kaleee gue nggak :mrgreen:

  5. yogie Says:

    nonton jogjatv aja….ada Pangkur jenggleng…*eh bner gak ya nulisnya?

  6. choro Says:

    err.. aku nonton tipi kalo dapet kabar ada anak CA diwawancara =D sisanya, dari monitor pc atau laptop aja bisa kok..

    emang gitu tivi sekarang, bukan kualitas isi tayangan yang di perdulikan, tapi kuantitas iklan dan pasar yang dipentingkan ;D

  7. arya Says:

    aku nonton tipi buat nonton bal2an, berita dan kadang film mancanegara *asyu lali nonton starsky and hutch*

  8. aGoonG Says:

    Jarang nonton TV
    *Tak Punya*

  9. westnu Says:

    saya sih menonton tv untuk cari informasi

  10. sandal Says:

    Wah, tipimu tipi plasma Ntok?
    Kapan-kapan aku nonton di tempatmu yow!


  11. kl yg bagus ya ditonton, kl yg enggak ya sudah dimatikan.

    tipi kan benda mati, kita yg punya remote dan kuasa memilih.
    semudah itu sih, sebenernya.

  12. itikkecil Says:

    *ngakak baca komen om serdadu95*
    ada pilihannya kan? gak usah nonton tipi sekalian

  13. hedi Says:

    sama seperti polisi yg bobrok, karna masyarakat umum indonesia juga bobrok 😦

  14. rasyid Says:

    Wah, untuk aku, sebagai mahasiswa rantau, dan berprofesi sebagai kontraktor, tukang ngontrak rumah maksudnya, tak punya tipi. Jadi jarang kali aku liat aneka acara di tipi. Paling2 liat tipi pas ke burjo. hehehehe

    salam kenal

  15. cK Says:

    saya jarang nonton tipi lokal… 🙄


  16. Saya nongtong tipi cuma kalo pelem holiwud dan bal-balan. Jadi masih lumayan tho, pak lik?

  17. ngodod Says:

    bal2an sama berita. itu yang paling sering kulihat.


  18. Saya seringnya nyalain tipi utk pelengkap berinternet dan ngeblog.. gitu pak..

  19. didut Says:

    kalo ga ada tipi rmhku jadi sepi bgt nto

    *cari istri*

  20. grubik Says:

    Throw away your television, lagune red hot chili peppers

  21. guspitik Says:

    “Benda kotak itu…”
    wajahmu kotak???

  22. novan Says:

    wuaduhh, kog aku malah yang sering ditonton ma tv ya?!, zzzzz zzzz zzz

  23. mahdi kecil Says:

    malah kadang tv nyang nongtong aku, je!
    *tidur*


  24. Mampir mapir eh masuk sini
    Duh duh ane bingung nih mo ngomong apa ya bang, maju terus blogger Indonesia

  25. mastongki Says:

    tiba-tiba merindukan serial unyil yang masih orisinil, yang sekarang pasarnya direbut makhluk kotak kuning, anak kecil berponi berteman kethek, songoku, dan masih banyak lainnya.

  26. Ekonikoe AN Says:

    Memang banyak sampah (sampah apa adanya atau sampah yang dikemas ulang dan diwangiin atau sampah yang dibedaki atau yang dikasi dasi) di tv kita, mas. Tapi kalau jeli dan selektif, masih dapat kita temukan mutiara yang terselip.

  27. Lumiere Says:

    konon dalam komunikasi ada teori yg namanya uses & gratifications jadi, ya.. kita2 ini yg pegang kendali ^^ bagus ya ditonton, enggak ya matiin aja, beres toh? 😉


  28. ambil yang baik saja,yang tidak cocok jangan di tiru,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s