Tahun Baru di Wediombo

Januari 2, 2009

Sejak tahun lalu, saya selalu merayakan momen pergantian tahun dengan mengunjungi sebuah tempat yang jauh dari peradaban. Memang tak ada yang istimewa dengan pergantian tahun, cuma pergantian waktu saja. Seperti halnya pergantian waktu biasanya, kita hanya mengantar matahari pulang ke peraduan dan menyambut gelap menyelimuti langit. Sekali lagi, keistimewaan itu diatur oleh kita sendiri. Bahkan sore ini, boleh kita sebut sebagai momen berharga, kalau kita mau. Kali ini, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pantai Wediombo di titik waktu pergantian tahun 2008 ke 2009.

Adalah Zen yang merekomendasikan tempat ini. Awalnya saya ngeri juga kalau membayangkan harus mengendarai motor saya yang sudah sekarat itu, apalagi bayangan pantai yang sepi tak berpenghuni. Kemudian setelah ditawarkan kepada para jelata, hanya beberapa yang sanggup menelusuri jalan berliku naik-turun khas Gunungkidul. Walau tidak jadi berkemah seperti yang disarankan Zen, berlima kami menuju Wediombo dengan kendaraan masing-masing : Gage, Choro, Gun, Nico dan Saya sendiri.

Road to Wediombo

Pantai Wediombo bisa dijangkau dari Jogjakarta dengan mengendarai kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Utamanya jika menggunakan kendaraan pribadi kita bisa lebih cepat dan sewaktu-waktu datang-pergi. Jikalau menggunakan kendaraan umum yaitu bus dari Jogjakarta-Wonosari dan Wonosari-Jepitu lalu diteruskan dengan naik ojek akan memakan waktu lebih lama, plus tak bisa semaunya datang dan pergi.

Road to Wediombo

Jarak keseluruhan dari kota Jogja ke lokasi adalah 70 kilometer dengan variasi medan jalan yang mulus namun berliku naik-turun bukit. Turunan yang curam harus dibalas keesokannya dengan tanjakan yang tinggi pula. Demikian pula sebaliknya. Belum lagi tikungan yang tiba-tiba menghadirkan truk besar atau bus-bus ngebut yang bisa bikin panik. Konsentrasi dipacu sepanjang perjalanan, sebab sepinya jalanan malah bisa membuat konsentrasi buyar dan ngantuk.

Sampai dengan rute Jogja-Wonosari kita akan direpotkan dengan jalan meliuk ala bukit pathuk dan hamparan pohon-pohon yang teduh. Sisa perjalanan Wonosari-Jepitu adalah sisa perjalanan yang mengesankan. Hamparan bukit hijau dan peladangan jagung milik penduduk akan menyambut dan mengiringi perjalanan. Sesekali rombongan berpapasan dengan penduduk yang baru pulang dari ladang dengan memanggul sebongkok rumput atau kayu bakar.

Plang petunjuk arah akan banyak ditemukan sepanjang perjalanan. Ada dua pilihan untuk menuju tempat ini, bisa menggunakan jalur menuju Pantai Baron lalu mengambil arah ke kiri atau menggunakan arah Semanu yang lebih bagus jalannya. Pertanda jika kita sudah mendekati  pantai ini adalah air laut sudah tampak dari bukit yang jauh. Mirip pemandangan pelabuhan-pelabuhan di Lampung.

Barisan Pantai

Gunungkidul adalah surganya pantai di Jogja. Mulai dari trio pantai yang terkenal, Baron-Krakal-Kukup, belakangan ini potensi beberapa pantai lainnya bersinar lebih moncer. Mungkin karena orang ke pantai memang cari suasana sepi, dan bukan hiruk-pikuk lalu lalang manusia macam ketiga pantai pertama. Maka, sebut saja Sundak, Ngrenehan, Drini, Siung, Wediombo sampai Sadeng yang berderet-deret berpagut dengan bibir laut selatan, muncul sebagai primadona baru. Pantai yang sepi dan pasir putih adalah godaan bagi setiap penggila pantai. Air yang masih jernih dan ikan-ikan kecil adalah tawaran menarik tersendiri dari pantai-pantai ini.

Wediombo

Pantai Wediombo adalah pantai paling timur nomer dua dari barisan pantai di Gunungkidul setelah Pantai Sadeng yang dekat dengan muara Bengawan Solo purba. Pantai berpasir putih, lengkap dengan batuan beku luar atau aliran lava purba dan breksi gunung api yang berasoisasi dengan batuan terobosan Gunung Batur (gunung purba).  Pantai berbatu besar mengingatkan kita pada salah satu scene dalam film Laskar Pelangi, bedanya kalau di pantai Bangka-Belitong adalah batuan granit, jika di Wediombo ini adalah berstruktur batuan andesit.

Pantai Wediombo

Pasir putih yang terhampar di pantai ini memang tak seluas jika dibayangkan dari namanya (Wedi=pasir, Ombo=luas). Pada kondisi surut saja, pasir terhampar hanya sekitar sepuluh meter dari bibir pantai. Namun kecantikan pantai ini secara keseluruhan membuat kami tak sempat memprotes keadaan itu. Pasir yang bersatu dengan cangkang kerang adalah tidak bersahabat bagi telapak kaki telanjang, sehingga sandal jepit menjadi snagat berguna. Batu-batuan besar sisa aktivitas lava purba itu menjadi tempat yang tepat untuk memandang luas pantai yang digempur ombak. Di kiri dan kanan, kami dikepung sisa pegunungan purba, Manjung dan Batur. yang bermuka tebing karang langsung berhadap-hadapan dengan ombak pantai selatan.

Senja Terakhir 2008

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam mendaki bukit dan menuruni lembah, akhirnya kami tiba di pantai keren ini. Sejak kami datang pantai sangat sepi, ada beberapa penduduk setempat yang mencari ikan, jingking (sejenis kepiting) dan kerang di pinggir pantai. Semakin sore, suasana semakin mengesankan. Senja turun perlahan sempurna di ufuk barat. Beberapa mendung hitam menutup badan langit sehingga matahari tak tampak sempurna. Semburat merah jingga dan sisa biru langit tersisa di penghujung tahun 2008 ini.  Setelah berganti celana pendek, saya langung menyambar kamera dan mengabadikan momen ini. Gunawan langsung menceburkan diri ke pantai bening ini, hingga basah-basahlah dia menjadi obyek pemotretan Gage. Nico berjalan menelusuri garis pantai dan sesekali memotret suasana pantai. Sedangkan Choro, harus setia menjaga tas-tas kami di atas batuan besar sambil memandangi senja di pantai. Entah pria mana yang sedang dimanjakan dalam pikirannya.

Senja terakhir

Sampai saat matahari benar-benar akan ditelan cakrawala, kami semua berkumpul. Ini adalah saat berharga, kami berkumpul dengan teman-teman terbaik. Meski tak bisa semua bala cahandong berkumpul di tempat ini, namun kami tetap senang karena kami memandangi langit senja yang sama. Langit senja yang memantulkan sinar matahari jingga. Kami semua diam, terus menatapi langit barat, membungkus harapan kami dalam-dalam.

Malam pergantian Tahun

Bermalam di Pantai Wediombo jangan dibayangkan sebagai menginap di berbagai pantai terkenal. Tersedia bilik-bilik bambu mirip rumah panggung dengan penutup berupa kerai bambu dan kain tipis untuk menghalangi angin pantai yang tajam. Harga sewanya bervariasi, namun masih dalam ukuran kantong yang tak terlalu kejam. Setelah mempertimbangkan kondisi penginapan yang kurang manusiawi, kami memutuskan untuk tidak menginap di penginapan tersebut. Kami akan tidur di balai-balai milik warung makan yang berderet di pinggir pantai. Si pemilik warung sangat baik menjamu kami dengan nasi goreng dan mie rebus panas. Segelas es teh melengkapi malam yang aneh itu. Sambil istirahat leyeh-leyeh, kami bersenda gurau dan menjahili Choro. Akhirnya saya dan Gun bergantian tidur sebentar di balai-balai sederhana itu, sedangkan sisa malam dihabiskan Nico dengan terlelap sampai pagi. Saya, Gage, Choro dan Gun memainkan berbagai permainan kartu remi sampai pagi ditemani tek poci. Tidak perlu saya sebutkan skor satu persatu, karena kita semua pasti tau siapa juaranya. Hehehe. Halo, Gun?

Memang merayakan tahun baru dengan bermain kartu adalah yang yang cukup aneh dan tak lazim, namun menghabiskan malam dengan menjahili Choro adalah bukan hal yang bijak. Mungkin di balik perbukitan Gunung Kidul teman-teman lain merayakan tahun baru dalam keramaian dan padat jalanan, namun jutsru kami merayakannya di tempat sepi. Bahkan sampai sore benar-benar lenyap, kamilah sang pemilik pantai. Baru kemudian menjelang pergantian malam, satu persatu rombongan lain datang bergabung di warung sebelah.

Pagi Pertama 2009

Setelah semalaman tak tidur, saya pun berniat sebentar memejamkan mata, namun tidak berhasil. Pasir putih dan ombak lembut pagi hari menggoda saya untuk datang menghampiri. Sekali lagi dengan penjagaan tas oleh Choro, kami berempat datang merapat lagi ke pantai. Godaan untuk melihat penyu-penyu liar yang menurut cerita penduduk setempat sering berlabuh ketika pagi. Meski tak menemui apapun, kecuali suara penyu, kami pun dihibur dengan banyaknya binatang laut di pinggir pantai berbatu-batu itu. Ular laut, ikan-ikan kecil dan landak laut rupanya bersembunyi di cekungan-cekungan batuan setelah semalam terbawa air pasang.

Nelayan di Pagi Hari

Matahari mulai bersinar lagi dari balik bukit di timur kami, menyiratkan semburat sinar yang memantul ke bukit sehingga air lautpun bersinar-sinar terang. Para pemancing yang bertarung dengan ombak untuk mendapatkan ikan-ikan kecil adalah obyek menarik untuk diamati walau keselamatan mereka cukup mengkhawatirkan. Nelayan yang (telat) pun berangkat satu persatu dengan perahu motor menyusul teman-temannya yang sudah berangkat dahulu saat pasang. Walaupun sekarang bukanlah musim yang tepat untuk melaut, namun tak ada pilihan membuat mereka pun harus tetap melaut. Jumlah tangkapan yang tak terlalu banyak terutama dari jenis ikan, namun mereka masih bisa menangkap berbagai jenis lobster air laut yang cukup menggiurkan harganya.

Setelah berkeliling sampai ujung utara garis teluk Wediombo, kami pun akhirnya sarapan dengan nasi merah dan mie goreng. Setelah kenyang, dengan bertelanjang dada, kami pergi mandi di laut. Mula-mula cuma bibir pantai yang kami lumat, namun akhirnya tak kuat menahan godaan untuk menceburkan diri sepenuhnya ke laut. Pantai ini tergolong aman untuk mandi-mandi karena struktur pantainya yang cukup landai. Walaupun begitu, kita harus ekstra hati-hati dengan batuan-batuan yang cukup tajam di beberapa tempat.  Lepas bermain air dan melewati sesi pemotretan oleh Nico, kemudian kami mengubur badan dalam pasir. Yang jelas, pagi pertama di tahun 2009 itu kami lewatkan dengan tertawa-tawa.

Kembali ke Jogja

Setelah petualangan menarik di Pantai Wediombo, kami menuntaskan rasa penasaran dengan pantai lainnya. Adalah Pantai Siung yang terkenal sebagai lokasi favorit baru bagi aktivitas panjat tebing di pantai selatan. Hanya berjarak sekitar 7 km dari tempat kami menginap, dengan jumlah biaya retribusi yang sama dengan Pantai Wediombo. Sampai di pantai yang sangat ramai itu, dalam hati saya bersyukur telah menginap di Pantai Wediombo yang cantik. Karena pantai Siung ini tidak lebih menarik ketimbang pantai Wediombo, selain kelebihan fasilitasnya. Kami pun merencanakan makan siang yang gagal di pantai ini. Gelaran tikar dengan memuluk nasi di tangan rupanya cuma khayalan karena tak ada warung makan yang menyediakan menu selain bakso dan mie. Akhirnya kami pun meninggalkan tempat ini dan kembali menelusuri jalur-jalur ekstrim menuju kota Jogjakarta. Dalam perjalanan pulang, karena semalam bergadang, maka saya menaiki kendaraan separuh sadar. Untungnya ada teman-teman yang melindungi saya dari depan belakang. Terima kasih teman-teman!

Gambaran lokasi bisa disimak di video vimeo berikut (dari Gage Batubara) dengan bumbu-bumbu testimonial dari penghuni Pantai Wediombo. Sedangkan koleksi foto boleh dilihat di gallery flickr & tumblr saya.

27 Responses to “Tahun Baru di Wediombo”

  1. sarah Says:

    wakakakkak
    ahhhh….. liputan video itu membuatku tertawa…
    kalian lucuuu hohohooh….
    btw Happy New Year 2009…

  2. genthokelir Says:

    selamat tahun baru kawan dan mari kita sukses bersama
    semoga mimpi di tahun lalu jadi kenyataan di tahun ini
    semangat pertemanan cairkan segala kesulitan
    indahnya tulisan dan foto fotonya begitu menghibur salut
    salam persahabatan

  3. nicowijaya Says:

    aku tidur biar ga disuruh nanya jam lagi gara2 kalah main. hahaha.. memalukan!

  4. aGoonG Says:

    Waah … Sarah Pertamax !
    Kayaknya damai banget. Bisa menikmati suasana pergantian tahun dengan melalui detik demi detik bersama dengan alam. Pasti tak bosan melihat terbenamnya matahari terakhir kali di 2008. Jauh dari bising dan riuhnya suara mercon yang mengangkasa, digantikan gemerisik angin, dan deburan ombak. Selamat menempuh tahun baru 2009 semuanya (dance)

  5. Goen Says:

    Untung gak ada foto saya dikubur di pasir..

    Eh… *segera cek flickr*

  6. zen Says:

    Nto, ada satu titik pantai lagi yang lebih tersembunyi di Gunung Kidul. Menjelang pergantian tahun 2009-2010, baru akan saya kasih tahu lagi.

    😀

  7. yogie Says:

    asik bgt kyanya…

    besok kesana ah…

    naik kopata…

    hehehe…

  8. antobilang Says:

    # sarah
    selamat tahun baru juga buat sarah, kapan ikut ke wediombo?

    # genthokelir
    sebelum taun baru 2010, saya harus ke gunungkelir.

    # nicowijaya
    hahahaha…. “tahun baru jam berapa ya, mbak?”

    # aGoonG
    agung taun baruan di mandra?

    # Goen
    di milis sudah.

    # zen
    tak tunggu, zen. kapan ke jogja lagi?

    # yogie
    seru sangat, tak terlupakan 😉

  9. choro Says:

    jadi kamu mempromosikanku sebagai PENJAGA TAS?

    harusnya kamu menambah pujian lagi mas,
    choro adalah calon istri idaman, karena selain pandai menjaga tas, choro rajin membayari dan juga memesankan minuman dan makanan, selain itu juga tidak mengintip ketika kalian lepas celana.

    *gapenting*

  10. alle Says:

    klo berani pajang itu foto ala ratri studio! :p

  11. guspitik Says:

    zen memberi petunjuk kuwi sakwise mbok wenehi sunsilk pirang mbotol?

  12. hedi Says:

    ga percuma zen punya alias pejalan jauh, dia harus tahu tempat2 keren kayak gitu

  13. winda candra Says:

    hmm, wediombo emang oke juga tuh.
    relatif masih sepi.
    aku puas bener waktu kesana. udah coba daki bukitnya jg kan?

    kemarin tahun baru aku sempat ke pantai juga, tapi ke ngobaran.
    tetirah, biar dapet wangsit sama keris bwehehehehehe

    kalo pantai ngandong gimana?udah nyoba belom 😉

  14. arya Says:

    diawali nongkrong di djambur dulu ndak?

  15. cK Says:

    ntok, kapan mau aplot kalender 2009?

    *up up and away*


  16. […] Lembaran baru telah dibuka, 1430 Hijriah & 2009 Masehi. Pesta terompet, kembang api dan konvoi bermacet-macet sampek pagi telah lewat. Apakah makna dari semua itu? Apakah cuma sekedar berlalunya waktu, bergantinya kalender, saling bertukar sms greeting? Tidak! Melainkan… perubahan apakah yang telah kita jalani? Perbaikan apakah yang telah kita lakukan? Dan… nilai tambah apakah yang telah kita raih? […]


  17. aku yang wong ngGunungkidul aja malah durung pernah kesitu tok, jauuuuh banggeeett.. 😀

  18. kahfinyster Says:

    taon baru d luar kota enak g sh,, jdi mw nyoba,,

    salam kenal yah,,

  19. ndoro kakung Says:

    Asyem aku ra diajak

  20. chic Says:

    wooogh kereeeen…. 😯

    dulu pantai favorit saya adalah Sundak… Saya belum pernah itu sampe Wediombo.. huhuhu

    Met tahun barun Ntok! :mrgreen:

  21. zam Says:

    yang sangat disayangkan dari pantai-pantai di Jogja adalah, akses ke sana yang sulit.

    bila dibandingkan dengan Ujung Genteng, pemandangan pantai di Jogja emang ndak kalah, cuma masalahnya adalah akses ke Ujung Genteng masih bisa dilakukan dengan menggunakan kendaraan umum..

    dan satu lagi, pantai di sana “tidak aman” untuk berenang-renang. eh, udah nyobain ke Ngobaran dan Ngrenehan?

    semoga Pemkab Gunung Kidul bisa “mengelola” obyek wisata eksotis ini..

    akhir tahun kita sama-sama ke pantai! yay!

  22. jarwadi Says:

    kok ga mampir kte tempat ku, aku seh dekat2 pantai wedi ombo hehehe

  23. yuliaslovic Says:

    mas… mw nanya nieh..
    klo dWediombo dah ada pen9inapan lom ya?
    trus listrik j9 dah masuk blum??
    cZ bzk perTn9ahan jaNuari ak mw ksana mas hehe_
    oiya .. lo buat campiiing ad t4na gag ya…
    tiket masuk brape mas ?? bnsin brape liter>>
    cory kBanyakan comment nih hehehe_ biar blogna +ruaMe

  24. s H a Says:

    Yang sunset di flickr gg ada yah

  25. dHarto..!! Says:

    karena kemaren belum sempet dateng dan menginap di Wediombo, mungkin lain kali ke Jogja aku bisa kesana 😀

    karena kemaren cuma sempet dateng ke Siung dan Sundak

  26. yeny Says:

    Salam kenal..Aku mau tanya nih apakah disana ad tempat untuk penginapn gtu ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s