Wayang, Bebayanging Kauripan

Desember 17, 2008

Festival Wayang Indonesia ke-2 sudah usai. Kelir sudah digulung, lampu blencong dipadamkan, wayang dikemasi ke dalam kotak. Pentas penutur budi pekerti itu sudah usai, yang meskipun kini sifatnya menyedihkan — menjadi asing di kalangan bangsanya sendiri, menjadi tontonan saja bukan tuntunan— namun kita patut berbangga masih ada anak negeri yang peduli terhadapnya. Berlebihan mungkin jika saya mengatakan banyak dari kita yang tidak peduli pada nasib dan keberlanjutan wayang itu sendiri, tapi ini kenyataan yang terjadi.

wayang

Memang, tidak semua orang bisa menikmati wayang dengan kadar daya tarik yang sama, apalagi tingkat penyerapan ceritanya. Tapi lihatlah tekad Alle, salah satu jelata CA itu mengatakan, walau tak faham bahasa yang digunakan dalang, tapi dia menikmati dinamika orchestra gamelan yang maha indah itu. Pencarian panjangnya diganjar pentas Wayang gaya Palembang di akhir hari, yang bisa membuat orang Palembang itu tertawa terbahak-bahak. Juga Ekowanz yang dasarnya seorang musisi, justru menikmati sisi dramatisasi naik-turun tempo musikalitas berdasar alur cerita wayang. Saya sendiri harus jumpalitan mengikuti alur cerita yang dibawa dalang, karena bahasa yang saya pahami juga cuma sepotong demi sepotong. Jika tak membaca sinopsis cerita dari belantara web sebelum berangkat menonton wayang, bisa dipastikan akan tersesat di belantara cerita wayang. Bisa bersyukur kalau ada sesi goro-goro Punakawan Semar dan anak-anaknya atau Togog-Mbilung yang menggunakan bahasa ngoko. Kalau Momon jangan ditanya, gosipnya waktu kecil dia pernah akan dimasukkan kursus dalang, rupanya karena belum cukup umur karena waktu itu batas minimalnya adalah usia 17 tahun.  Jika takdir dulu mengijinkan, mungkin kita bisa menyaksikan Ki Herman Saksono memainkan lakon “Salya Gugur” melebihi apa yang dilakukan Ki Hadi Sutikno di Festival Wayang Indonesia ke-2 lalu.  Ini misalnya lho.

Jaman saya kecil dulu, di Lampung sana, Wayang adalah pertunjukan mahal. Untuk mendatangkan dalang dari Jawa, seorang sahibul hajat harus merogoh kocek dalam-dalam hingga puluhan juta rupiah. Penontonnya membludak dari sore sampai semalam suntuk. Mungkin karena memang dasarnya banyak orang Jawa di Lampung sana, sehingga wayang bisa menjadi obat kangen suasana Jawa di tanah rantau. Sejak kecil itu pula saya suka menonton wayang –walau hanya 2-3 jam pertama– yang ditanggap para sahibul hajat, baik perkawinan maupun khitanan. Karena pastinya tak kuat jika harus begadang sampai semalam suntuk, maka mempelajari cerita wayang saya dapatkan dari gambar tempel yang banyak digunakan untuk bermain para anak laki-laki (di kampung saya, gambar tempel itu disebut ‘wayang’ meski bentuknya kotak, walaupun tidak selalu bergambar pe-wayang-an). Sebuah buku Mahabaratha tak bersampul, berisi cerita perang Bharatayudha saya tamatkan saat masih SD. Walau tidak hafal keseluruhan, tapi setidaknya saya tau dari buku tersebut bahwa Rama – Lesmana ternyata tidak ikut perang Bharatayudha.

Gambar Wayang dari Juragan Joesatch
Begitu saya ke Jogja, dulu pernah berfikir tontonan Wayang adalah hal yang mudah saya dapatkan. Rupanya saya salah. Di sinipun, pagelaran wayang menjadi barang langka yang harus blusukan untuk menemukannya. Festival Wayang Indonesia-2 yang baru saja usai digelar ini menjadi momentum baru, bagi saya pribadi untuk kembali menggali makna-makna cerita wayang itu sendiri yang penuh dengan tuntunan moral dan etika.

Kesannya mungkin latah, jika saat ini saya mengatakan CLBK sama wayang. Tapi saya tidak menemukan kata yang pantas selain itu. Saya membayangkan akan sangat miris ketika suatu saat anak-cucu kita cuma mengetahui Wayang sebagai bagian sejarah. Tidak berlebihan, karena memang zaman yang akan menentukan pilihannya. Sebagaimana budaya wayang yang diciptakan oleh interaksi sosial kemasyarakatan, maka kelangkaan wayang sendiri juga akan menjadi buah dari ketidak pedulian sistem masyarakat itu sendiri untuk menghargai mahakarya pendahulunya.

Gambar : (1) Dari koleksi pameran di TBY, (2) Gambar Wayang Tempel yang dibeli Joesatch saat FKY seharga seratus lima puluh ribu rupiah.

24 Responses to “Wayang, Bebayanging Kauripan”

  1. Nike Says:

    Saya orang Palembang aja, blom pernah nonton Wayang Palembang. yang kayak apa ya?


  2. Aku paling suka kalau antobilang mulai menebar isu.

    *kembali sekarang membaca yang serius lagi*

  3. itikkecil Says:

    hah? Momon mau jadi dalang?
    *dipentung karena los pokus*

  4. sekelebatsenja Says:

    waktu dulu kecil di desa, aku sering diajak simbah nonton wayang.
    naik sepeda malem gelapgelapan
    ah, aku jadi ingat lagi

    rindu campur sedih aku..

    mogamoga wayang ndak cuman berakhir dimuseum


  5. wooouuwww…ki herman saksono ???

    aku minta adegan waktu adegan syur di kisah arjuna sasrabahu dong, ki herman, yg merupakan cikal bakal lahirnya rahwana dan adek2nya :mrgreen:

  6. zen Says:

    Gak perlu blusukan kok nek arep nonton wayang. dolan ae nang siti hingil alkid. nang kono kerep kok. semalam suntuk maneh.

    Btw, NG bulan depan ada naskah ttg wayang loh, Nto.

  7. antobilang Says:

    @ Nike
    Sama dengan wayang purwa lainnya, hanya menggunakan bahasa palembang dan gending pengiringnya menggunakan musik khas Palembang.
    Tapi tenang bae, gak ado tujah2an.

    @ Ki Herman Saksono
    Sendiko dawuh, ki dalang.

    @ sekelebatsenja
    hehehe, ayo nonton wayang…

    @ restlessangel
    hedian tenan ndoro putri sing siji iki, ora adoh2 seko bab kaya ngunu :mrgreen:

    @ zen
    yoi kang, wingi ya sempet blusukan ke Sonobudoyo, rutin setiap malam, walaupun instant 2 jam satu lakon. 😀 itupun baru tahu seminggu yg lalu. thanks infonya kang, bulan ngarep tak tuku NG.

  8. hedi Says:

    aku mendukung jika momon mau jadi dalang sekarang ini sampai ke depan, ga ada kata terlambat 😛

  9. didut Says:

    asli kl aku mudeng ama bhs jawa aku bakal mantengin wayang sampe pagi …. sampe saat ini hobbyku hanya membaca habis komik wayang dari awal sejarah sampe habis

  10. Bet Says:

    wowww asyik jua tu apa lagi kalau goro-goro dateng tambah gayeng

  11. zam Says:

    wayang itu bukannya punya Malaysia, yak?

    *ndelik*

  12. abdee Says:

    Wayang di Sasono Hinggil tiap malam minggu minggu kedua.
    Kecuali bulan desember ini digelar malam minggu ketiga karena sasono hinggil sedang direnovasi. Insya Allah, saya selalu nonton meski tak kadang tak sampai pagi.

    Btw, berarti saya kemarin sempet liat sampeyan bersama Hormon selama FWI. Rombongan yang selalu berada di depan.

  13. arya Says:

    wah, aku waktu kecil seneng nonton wayang krn rame aja… banyak bakul jajanan hihihi. bapakku penggemar wayang.
    meski ga terlalu fond of wayang, aku sempat berniat ngasih nama anakku dgn nama wayang, yaitu abimanyu. tp ndak jadi 😀

  14. ladybugfreak Says:

    ayo kerumah tok, ikut ndalang sama bapakku 😀

  15. Fikar Says:

    Semoga saja momon yg ndalang 🙂

  16. dobelden Says:

    saya kangen dengan kolaborasi wayang kulit dan wayang golek dan penyampeannya dengan dua bahasa juga…

  17. aGoonG Says:

    [berharap]@Momon ndalang di Jumintenan (woot)


  18. nonton besok malam minggu di boulevard, dab. saya bakal di sana 😀

  19. Goen Says:

    Sepakat dengan Momon…

    Berakhirnya Era Pengumuman.. Yeah!

  20. s H a Says:

    Waktu saya kecil, SD, sampai kelas 4 kalo gg salah, saya sering disuruh ke desa oleh simbah yang ada di Klaten minimal seminggu sekali nonton wayang. Kalau mau saya pasti dijanjikan digorengin tempe goreng beliao yang uenak tenan. Kangennya. . . Sekarang pun kadang simbah masih sering ngajak, tapi uda gg kaya dulu. Udah beda. Semakin gedhe kok malah mbleler. . .

  21. Dony Alfan Says:

    Ki Herman Saksono? Wui, namanya udah pas bener buat jadi dalang.
    Di Solo dan sekitarnya ada beberapa dalang cilik yang top markotop lho

  22. Husni Azwari Says:

    WAYANG PALEMBANG cakmano kalu WAYANG PALEMBANG tu dimasyarakatkan tidak hanya berbahasa palembang halus/bahasa jawa.tapi berbahasa seperti bahasa daerah ku:SEMENDE atau bahasa OGAN,MUSI,KOMRING,RAWAS,BESEMAH,dan bahasa daerah asli sumsel lainnya.sehingga WAYANG PALEMBANG itu.tidak kesannya hanya milik “PALEMBANG” saja.tetapi menjadi milik semua suku asli sumsel.Mudah-mudahan WAYANG PALEMBANG akan lestari dan memasyarakat.aku dewek belum pernah nonton WAYANG PALEMBANG tsb.Kepengen nonton tapi kapan dan di mano pentasnyo.

    husniazwari@yahoo.co.id


  23. mampir aja di blog ku , hanantahanantacom


  24. banyak tuh gambar wayangnya, ntargue kasih tau siapa sebenarnya gatotkaca, bhima dan lain2, gue tunggunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s