Karnaval Kekecewaan

Oktober 26, 2008

Acara yang digaungkan sebagai pamungkas peringatan Hari Ulang Tahun kota Jogja ini ternyata jauh dari harapan. Saya berani bertaruh, sebagian besar penonton yang datang telah kecewa berat dengan penyelenggaraan acara ini. Selain itu, panitia pun mestinya kecewa karena gagal menyajikan sesuatu yang terbaik di saat perayaan Ulang Tahun kotanya.

Mengutip informasi di situs resmi acara tersebut, “Jogja Java Carnival” adalah sebuah pesta akbar karnaval internasional yang menampilkan berbagai bentuk kesenian, baik tradisional maupun kontemporer. Dari kelompok kesenian lokal, regional, maupun internasional yang dirancang secara profesional dengan mengambil lokasi Malioboro sebagai landmark Kota Jogjakarta. beberapa negara yang didaulat untuk tampil dalam event ini antara lain Malaysia, Lebanon, India, Jepang, Korea dan China.

Mulanya, saya sempat merasakan kegembiraan yang membuncah saat melihat orang yang tumpah ruah di jalanan Malioboro. Banyak sekali orang yang menunggu pawai karnaval peringatan dirgahayu kota Jogja 252 Tahun ini. Para Plurker juga semenjak siang sudah meributkan untuk datang ke acara ini. Begitu besar harapan orang terhadap suksesnya acara karnaval yang melibatkan negara-negara sahabat ini.

Diambilnya jalan Malioboro sebagai venue memang ide brilian untuk menegaskan jalan tersebut sebagai landmark penting di kota ini. Namun ternyata hal ini berubah jadi blunder, karena aktivitas yang cukup padat di jalan ini membuat panitia tidak mampu (kesulitan) men-steril-kan jalan dari lalu lalang manusia. Tidak adanya pembatas antara penonton dan jalan membuat kondisi semakin sulit dikendalikan, Bahkan beberapa menit sebelum acara dimulai (rencana pukul 18.00) jalan masih penuh sesak. Dan kesulitan untuk menyingkirkan penonton itu memang sudah bisa diprediksi sejak awal.

Kemudian sekitar pukul 8, acara dimulai dengan berbagai macam sambutan serta doa. Tepuk tanganpun bergemuruh dari ujung nol-kilometer hingga ujung utara Malioboro. Namun gemuruh applause itu berubah, menggunung jadi kekecewaan, karena rombongan pawai tak kunjung lewat. Penonton yang sedari tadi berkeliaran di separuh badan jalan, kini merangsek masuk memenuhi jalan. Untungnya ada hiburan musik gamelan yang diputar berulang-ulang, sampai Funkshit hafal ketukannya. Sehingga, hiburan kami satu-satunya hanyalah Funkshit yang bergoyang-goyang.

Lama terombang-ambing dalam kondisi ketidakpastian, akhirnya rasa penasaran para penonton diobati dengan rombongan pertama yang muncul dari kerumunan. Rombongan ini adalah kereta besar dengan sebuah patung unicorn, yang dikendarai wayang orang berkostum RamaLesmana serta Hanoman dan rombongan kera dari Kiskhinda. Kereta besar dan maha lebar itu diukur persis selebar badan jalan, sehingga para pendorong kereta harus bersitegang dan membentak-bentak penonton untuk menyingkir dari jalanan. Desak-desakan pun tak terelakkan lagi.

Aksi bentak-bentak dan desak-desakan pengunjung ini terus berulang sampai semua rombongan lewat. Mulai dari kereta yang membawa para gadis Jepang meliuk-liuk, rombongan kesenian angguk dari Kulonprogo, serta rombongan gamelan yang dikomandani Steven IOIO. Rombongan anak gawul, para breakdancer pun kesulitan melakukan aksi akrobatik dalam kerubutan penonton.

Rombongan pawai yang bernasib buruk adalah rombongan yang tidak menggunakan kereta besar, yaitu rombongan kesenian dari negara Lebanon (yang malam sebelumnya tampil membawakan “tarian keakraban” di Ullen Sentalu). Rombongan penampil dari Lebanon itu harus bertaburan di antara penonton dan tak jelas menampilkan performa apapun, kecuali diminta berfoto oleh para penonton.

Kekacauan itu disempurnakan dengan buruknya sistem pencahayaan yang (katanya) menggunakan teknologi pencahayaan terkini. Bahkan tepat saat acara akan dimulai, masih ada pekerja yang membenarkan lampu di atas rigging (yang kerap digunakan untuk stage pertunjukan). Tak terpikirkan soal perasaan penonton yang was-was karena ada persis di bawah rigging.

Harapan yang terlalu besar terhadap acara ini, membuat saya (dan mungkin para penonton lainnya) merasa kecewa. Kota sekaliber Jogja, yang berisi begawan handal penyelenggara event seni dan budaya, harus kalang kabut mengelola sebuah pawai. Ini memang kali pertama pergelaran Jogja Java Carnival, namun rasanya tak boleh mengorbankan nama besar “Jogja” untuk sebuah kesalahan yang memalukan ini.

Sekarang saya tahu, menyandang sebuah predikat itu tak gampang. Ini soal komitmen untuk menjaga sebuah konsistensi. Konsistensi yang membawa pada perkembangan yang progresif. Sehingga Jogjakarta, yang didaulat sebagai kotanya seni dan budaya, mestinya harus mulai berintrospeksi, penyelenggaraan event yang sebesar ini harus kacau berantakan. Apalagi acara ini diproyeksikan akan menjadi event tahunan dalam setiap peringatan ulang tahun Jogja.

Selamat mempersiapkan diri untuk perayaan tahun depan, semoga acara ini tetap diadakan lagi, tentunya dengan persiapan yang jauh lebih matang dan.. ehm.. tidak memalukan.

Update 16.15
Baca ulasan lainnya : Thomas Arie S,
aGoonG, dan Erma

47 Responses to “Karnaval Kekecewaan”


  1. Aku telat bangun, untungnya ini karnaval kekecewaan.

    Sttt… Ntok, share foto gadis Lebanon yang itu yah!

  2. cK Says:

    ntar tahun depan kamu panitianya, ntok….


  3. Hush! Tante, jangan ngomong gitu ah!

    Tahun depan Anto wisuda tau!

    *kabuuuur*

  4. omoshiroi_ Says:

    jadi penasaran sama kekacauan yg terjadi..

  5. aGoonG Says:

    Aku dateng jam 19:30
    Ternyata jalan udah gak kelihatan,
    karena dipenuhi orang semua
    Turut kecewa sih
    Soalnya gak bisa merangsek ke depan
    Jadi gak kebagian skrinsut
    Tapi karnavalnya OK

  6. info aja. Says:

    fyi..

    sbenarnya kejadian itu udh dperkirakan dan ga bs dihindarkan mas. dan panitia bukan tdk mmpersiapkan apa2 utk mngantisipasi itu.
    krn awalnya ide JCC itu akan dilaksanakan dr arah nol-kilometer ke arah wirobrajan-pakualaman dst, dikarenakan pertimbangan jalan lebih lebar dsb. tp dr pihak pemkot ttp pgn lwt malioboro (landmark jogja), ya resikonya kyk yg kjadian smlm.
    dan yg bener2 plg sulit diatur dr semua penonton dsitu adlh fotografer. ga tau knpa fotografer yg blkgn ini byk lahir, tdk tau attitude *uupps! no offense. 🙂

    dan utk hal smacam crew yg masih mmperbaiki lighting dll.. wah masnya blom prnh kerja lapangan smacam itu pasti. huehe. se-siapsiap-nya event, last-minute itu pasti adaaa aja yg hrs dbenerin. toh tujuannya jg buat keamanan-dan-kenyamanan penonton jg pd akhirnya. jgn se-cynical itu dong mas.. 😀

    dr sudut pandang saya nih mas,
    dan keamanan yg dikerahkan jg sdh sesuai prosedur yg berlaku. tp memang animo warga tyt sangat tinggi thd event ini. lagipula ini event kan tujuannya bwt kasih hiburan warga jogja, dan panitianya sdh berusaha keras utk meminimalisir kejadian-tidak-menyenangkan, misalnya jatuh korban..

    atau coba kalo masnya taon depan yg ngatur acaranya aja gimana?
    munkin dikasi tiker di trotoarnya gt biar lebih rapi? 🙂

    massa adalah kekuatan yang tidak terkalahkan.
    hal itu juga berlaku di event semacam ini..

    thks!

  7. hedi Says:

    ngurus massa emang susah, apalagi di Indonesia…walaupun nggak mustahil sih


  8. senyum aja deh baca komen nomer 6 😀

  9. ManusiaSuper Says:

    g bener2 plg sulit diatur dr semua penonton dsitu adlh fotografer. ga tau knpa fotografer yg blkgn ini byk lahir, tdk tau attitude

    Oops….


  10. Repost komentar ah.
    3 jam penantian yang sia-sia, 20 menit pertunjukan yang mengecewakan..

    Harusnya dikasih police line untuk memisahkan jalan dengan penonton.

  11. ekowanz Says:

    @no 6…sepertinya panitia yah?kalo gt jangan berikan kami harapan tll tinggi donk seperti yg disampaikan di website…karnaval internasional?tata lampu dgn teknologi terakhir?sistem tata suara yg masih memakai kabel menggelantung?hehe…come on…sadar donk kl yg td malem itu dibawah standar bgt..
    Memang seorang pengkritik seperti kami hanya bisa nyacat..tdk bs memberi solusi, tapi setidaknya ini menjadi masukan bagi pihak pemkot jogja untuk acara tahun depan. Jangan malah mencari kambing hitam penonton…kesannya ra elok mengko :p
    btw soal photographer saya sependapat..memang mereka tak ber attitude…

  12. anapalis Says:

    fotografer² dadakan yang bikin ruwet pawai.. ah menyebalkan, ada yang nginjek kaki ku..

  13. mizan Says:

    Gambar-gambar hasil jepretannya mana nih?


  14. hahaha..untungnya aku nonton theater dari korea di jagongan wagen. Tempatnya sunyi jadi bisa meresapi makna apa yang telah dipentaskan. Orang korea-nya kadang juga pake dialog bahasa indonesia lho.

    buat komentar no 6, terimalah kekurangan 😀


  15. Coba panitiyanya si Anto. Pasti top markotop-gud marsogud….

  16. antobilang Says:

    terima kasih atas komentar dari saudara komentator nomer 6.

    jawaban dari saudara (tampaknya dari panitia yah) benar-benar membuat saya puas. karena tulisan yang berserak dari ribuan tulisan blog ini langsung terbaca oleh panitia. Tidak ada maksud dari saya untuk menyangsikan persiapan (yang menurut panitia) sudah matang. Namun, kejadian semalam, diakui atau tidak kegiatan ini sangat jauh dari sebuah karnaval yang diadakan oleh Kota sebesar Jogjakarta.

    Mengenai usulan kalo tahun depan diatur oleh saya, bukannya mengelak/ngeles dll, tapi… acara sebesar itu tidak pantas kalau dijadikan bahan percobaan. jadi kalau yang merasa tidak mampu sebaiknya ya jangan mengurusi. Serahkan pada ahlinya.

    Mungkin sebagai rujukan, bisa belajar dari saadara2 kita di jember yang sukses dengan Jember Fashion Carnaval (di jember pake carnaval, bukan carnival 😛 ). Tidak perlu malu lah mencontoh kota sekecil dan seterpencil Jember yang mampu menunjukkan gigi kepada dunia.

    Besar harapan saya, kritik yang saya sampaikan sebagai ungkapan cinta saya pada kota ini tidak dimaknai sebagai sinisme atau kritik tak ngawur.

  17. vetamandra Says:

    Pas saya kecil dulu, pernah nonton kirab penobatan sultan HB, penontonya berkali2 lipat, dan jaman itu belum jamannya eo. Tapi ya gak ada tuh penonton yang membludak ke jalan.

  18. ngodod Says:

    hiks…
    dibelain ngepit, mlaku adoh, jebule…

  19. Fa Says:

    @komen no.6 :
    kalau memang sampeyan panitia, mbok belajar sama even organizer Solo Batik Carnival. Kalimat ‘sudah bisa diprediksi dan tidak bisa dihindarkan’ menurut saya terlalu childish untuk organizer acara sekelas itu. Apa toh yg sudah disiapkan panitia waktu itu? Nutup jalan aja baru jam 7 lewat, penonton yang memenuhi jalan dan di depan tribun, dibiarkan saja, hingga menumpuk tak terkendali. Kenapa nggak dari sore penertiban dilakukan? Dan itu, bapak2 yg pake seragan item2 kenapa kerjanya cuma berdiri aja di tengah jalan? Bahkan saat panitia menyiarkan lewat pengeras suara agar petugas keamanan menertibkan penonton sampai berkali2, mereka tetep anteng2 aja. Karnaval yang aneh menurutku.
    Ssstt.. apa setelah ini sampeyan mau bilang orang jogja susah diatur?

  20. Thomas Arie Says:

    Saya juga salah satu penonton.

    Ini bukan pendapat saya pribadi, sekali lagi bukan pendapat pribadi. Warga bapak-bapak, ibu-ibu pengunjungPUN sempat terlontar komentar, “Kudune kit mau wis dibatesi dalane…”

    Itu bukan hanya komentar saya, tapi komentar warga yang ikut berdesak-desakan di pinggir, di trotoar sebelah utara pos polisi kantor pos.

    Ada lagi sayup2 terdengar ditelinga saya pertanyaan dari penonton (lagi), “kenopo orak awit mau le ngakon minggir, mbok dikeki bates koyo alun-alun…”

    Semoga apa yang saya tangkap benar. Karena di alun-alun, kendaraan peserta juga di sterilkan dari penonton dengan memasang besi pembatas.

    atau coba kalo masnya taon depan yg ngatur acaranya aja gimana?
    munkin dikasi tiker di trotoarnya gt biar lebih rapi?

    Loh, kok malah kayak gini? Bukan, ini bukan saya ingin ikut setuju kalau Anto jadi panitia lho… tapi.. ah, sudahlah…


  21. saya disana dari jam 4, sampe jam 10 dapet capek, bosen dan dibentakbentak sama satpol (dan sebangsanya), hehe
    duh nasibnasib, padahal pengen jeprat jepret..eh ndak jadi.
    salam,
    warga jogja yang juga kuciwa


  22. […] sejenis oleh : antobilang, thomas arie […]


  23. Dear Mbak/Mas No 6,

    Saya yakin Panitia sudah berusahan memberikan yang terbaik dan meluangkan energi yang sangat banyak untuk acara ini. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih.

    Tapi pada kenyataannya penonton kecewa. Kecewa karena konten karnaval, kecewa pada pelaksanaan karnaval, dan kecewa karena Panitia terbukti gagal mengantisipasi dinamika massa yang akan terjadi selama karnaval. Kekecewaan ini bukan drama, bukan juga sirik sama panitia, tapi ini adalah realita. Anda tidak bisa lari, karena kenyataanya usaha panitia dan pemerintah rupanya tidak cukup maksimal untuk memenuhi harapan masyarakat.

    Benar, masyarakat memang riwil, karena sedikit atau banyak acara ini juga didanai oleh uang rakyat.

  24. unknown Says:

    wah rame ya? mungkin pemkot jg ikut andil bikin karnavalnya gak memuaskan. secara ini kan hajatannya mereka. gak mungkin begitu saja dilepaskan ke penyelenggaranya. tapi gak tau juga sich.. heheheee..

  25. Yan Arief Says:

    Untuk komentator no 6:

    yg bener2 plg sulit diatur dr semua penonton dsitu adlh fotografer. ga tau knpa fotografer yg blkgn ini byk lahir, tdk tau attitude

    Saya sempat mengambil foto saat opening ceremoni JJC namun saya buru2 pulang karena gak nyaman dgn suasana saat itu.

    Yg saya alami selama ini, banyak event – tidak menyediakan space khusus bagi fotografer. Karena gak ada regulasi yg jelas, maka para fotografer, termasuk saya juga, sering ngeyel sama petugas keamanan, main sikut nerobos kerumunan agar bisa mengambil gambar. Dan sering dengar juga celetukan diantara penonton umum, ada yg bilang “Asem tukang fotone nutupi… marai ra iso weruh”

    Antusiasme para fotografer sebenarnya bisa diantisipasi. Sekedar usul, misalnya dengan memberikan tempat khusus di beberapa titik. Jauh hari sebelum acara dilaksanakan, dibuka pendaftaran bagi fotografer, yg telah terdaftar bisa masuk di tempat khusus fotografer. Seperti dalam Jogja Fashion Week yang lalu, disediakan stage khusus bagi fotografer.

  26. zam Says:

    wah, rame juga, ya?

    *ngusir-usir penonton yg di pinggir jalan*

    IMHO:
    saya juga kadang menyayangkan tindakan “fotografer” yg biyayakan itu. kalo mereka dari media/pers/free lancer/fotografer beneran, saya yakin pasti tindakannya ndak bakal ngawur macam gitu. cuman masalahnya banyak “sok” fotografer yang kemlinthi. mentang-mentang pegang kamera berlensa pralon, terus nggaya..

    nah, solusinya mungkin seperti yg diutarakan mr Yan Arif. sebelum acara, buka pendaftaran kepada para fotografer, baik dari pers/media maupun fotografer lepas. kemudian, berikan spot-spot ygn memang khusus disediakan untuk mereka, sehingga penonton yg lain juga “tidak terganggu” dengan ulah fotografer berlensa gambot yg kadang ngeselin dan bikin sirik itu.. heheheh..

    untuk panitia, saya yakin kalo njenengan sudah berusaha. namun seperti yg dibilang, persiapan yg mepet tentu membuat hal “yg diprediksikan” itu lebih “berpotensi” terjadi..

    sekali lagi, MET ULTAH KOTA YOGYAKARTA!

  27. om brem Says:

    giving applauze n 2thumbs up to “JOGJA” n panitia JJC.
    sumpahh…saking antusiasnyaa aku malah dapet kesan paling menyenangkan selama idup diJOGJA ini..

    *pulang dengan senang hatiii.. 😀

    nb: namanya juga manusia??pan gak ada yang sempurna>>?? tul gk mas???

  28. ulan Says:

    ah tau gitu kan pulang nya bisa lebih lama..

  29. Erma Says:

    Saya salah satu yang berdiri di bawah lampu tuh. Saya kecewa. Dari jam 16.30 uda berdiri lalu duduk lalu berdiri lalu duduk lagi pas di tepi trotoar hanya untuk mendapati orang2 yang baru datang malah berdiri di jalan. Panitia cuma bisa ‘mengajak’ untuk geser ke utara, geser ke utara melulu. Panitia yang berkaos putih ama yang pakaian dinas biru tua cuma berdiri doang. Huh.
    Jam 19.30 akhirnya memutuskan pulang karena toh udah gak keliatan apa-apan.
    Buat panitia, mmmm gak terlintas ide untuk masang layar raksasa ya? Biar massa gak nekat ke tengah semua?

  30. arya Says:

    kritik yg dilontarkan antok harus diterima dengan rasa terimakasih, bukan dengan argumen yang defensif dan merasa tdk terima.
    kalau tdk ada org spt antok, tahun depan pasti bakal sama/tambah kacau dengan penyelenggaraan sekarang. dan semua orang pasti tidak mau itu terjadi.

  31. jaka Says:

    He he, kalah lagi Yogya dari Solo!!


  32. Halo Panitiya….!!?

    Adem-adem ajah negh ???

    🙄


  33. Met Ultah Kota Jogja! Moga2 tahun depan acaranya lebih gayeng dan panitianya lebih nggenah lagi

  34. sofhal jamil Says:

    Ya, apapun kejadiannya. Saya mah, cuma mau bilang “Selamat Ulang Tahun deh untuk Yogyakarta!!!”

  35. aprie Says:

    wah..
    mamalukan donk ya…


  36. aku nongkrong di depan malioboro mall dari lepas maghrib. jam 9 sudah ta’tinggal pulang, soale pawainya ndak lewat2 dan gadis2 yang barengan sama aku sudah pada ngeluh kelaparan. pancen janciklah! taun ngarep ta’aku wae sing dadi ketua acarane 😈

    @ info aja.
    19 tahun saya hidup di denpasar, yang namanya pawai festival kesenian bali lancar2 aja. padahal juga maksa ngelewatin patung caturmuka yang jadi landmark-nya denpasar dan sempitnya jalan gajahmada meskipun tetap ada jalan lain yang lebih luas.

    oke! sini, biar tahun depan saya jadi ketua panitianya. tinggal saya disiapin duit yang banyak :mrgreen:

    kesimpulannya, saya kecewa sama promosi-publikasi dan fakta acaranya yang ternyata nggak konsisten.

  37. [D2R3D2] Says:

    aku tinggal pergi .. gerak aja susah .. tak tinggal makan sate ayam

  38. koshka Says:

    sbnrnya panita g salah sih, cm kurang prepare aja. kl mmg jl hrs steril, bbrp jam sblm acara sepanjang jl hrs dikasih pembatas. n kl ada penonton yg mencoba msk ke jl hrs segera ditegur. kl karnaval kmrn, penonton da tumpah ruah di jl br deh diusir2. pdhl yg nonton g cm remaja n org dewasa, ada jg anak2 n nenek2.

    selain masalah penonton n mslh tekhnik yg lain, peserta pawainya jg dikit bgt. bgs sih bgs, apalg peserta dr luar negri. sayangnya peserta pawainya cm dikit. blm ilang cpk nontonnya pesertanya da hbs. ktnya sih, untuk menjaga kualitas karnaval, peserta karnaval diseleksi dg ketat. dipilih yg bnr2 bgs n berkualitas.

    hari berikutnya aku liat siaran lsg karnaval di solo. walau pengemasannya tdk seglamor n semeriah karnaval di jogja tp ttp aja bgs. pesertanya bs mcm2 n banyak bgt.

    mungkin maksud panitia karnaval bgs sih, cm krg kena aja. ya…ini bs buat masukan bg panitia HUT Jogja th selanjutnya. ini pelajaran yg sangat berharga bgt.

    kl unt acara JOGJA FOOD FESTIVAL ada komentar g?

    mau ikut lomba mkn bakso, burger n sate klatak, pendaftaranya berebut, jdnya g bs ikut deh. mn pendaftarannya dadakan pula jd g bs prediksi kpn hrs standby buat jagain pendaftaran. pdhl kan lumayan, mkn gratis.

    tp acaranya rame sih, mlh bs dibilang rame bgt. mau bl mknan banyak yg harus antri, malah adad bbrp stand yg udah tutup sblm jamnya krn kehabisan stok. jl aja ampe desak2an. tp seru jg sih, memperkaya pengetahuan ttg tmp2 yg bs disinggahi kala laper menghadang.

    kpn lg ya acara gt ya….

  39. -tikabanget- Says:

    anu..
    ngng..
    sayah ndak nonton.. 😦
    sayah dimana ya.. 😦

    wooo..!!
    sayah di jakartaa..!!
    nonton bunga citra lestari sun sunan sama ashraf…

  40. otakiphan Says:

    ikutan komentar sama komen nomer 6 ah…

    aku sependapat sama joesatch yang legendaris.
    Denpasar jalannya jauh lebih sempit daripada jogja. Tapi, mulai dari pawai ogoh2 tiap tahun, trus kuta carnival yang terima gak terima bisa dibilang event yg nyaris serupa sama jogja carnival itu, berjalan dengan lancar. Gak seperti malam minggu kemaren itu.
    padahal kalo di atur dikit aja, jalan malioboro itu pas banget di jadiin acara karnaval kayak kemaren. Aku sih, sedikit memaklumi, karena ini acara perdana. Dan mungkin penyelenggaranya pada belum berpengalaman. Tapi, anto memberikan kritik bukan untuk dicibir. Kalo boleh jujur panita situ belom hebat. Belom ada apa-apanya. Tak pantas rasanya untuk terlalu gengsi menerima masukan..
    nuwun

  41. wennyaulia Says:

    agak gak nyesel jg waktu itu gak jadi ntn 😛

    tapi mustinya panitia kalau sudah memprediksi akan adanya kekurangan, mustinya kan cari cara untuk meminimalisir…

    dan mungkin memang ekspektasi masyarakat jogja terlalu tinggi
    *lha piye, wong iklane jor2an gitu… :mrgreen:


  42. […] antobilang lebih gamblang dan pas dalam menggambarkan kekecewaan saat menghadiri jogja karnival […]

  43. [D2R3D2] Says:

    iklan jor joran iyah, bhkan sempet nguping ama ibu2 yang ngegosip bahwa mereka tahu acara itu sebulan sebelumnya..nah gimana cobah?

    iyah memang dalam hal ini saya tidak serta merta menyalahkan panitia walaupun disana sini banyak kealpaan tapi setidaknya bisa menjadi pelajaran dan berbenah diri untuk event selanjutnya..

    cuman crita saya ngantri nonton jam lima, persis check in satu jam klo berangkat pake pesawat hahaha toh akhirny amulai jam 8 ..capek dech ..

  44. Thomas Arie Says:

    @[D2R3D2],

    sekadar informasi saja… “Jogja Java Carnival” malah sudah terdengar sejak bulan Mei 2008.

    Bahkan kalau saya tidak keliru, bulan Mei acara tersebut sudah di sounding ke para jurnalis baik dalam maupun luar negeri.

    Saya pribadi dapat tas dengan logo Jogja Java Carnival di bulan Mei 2008 kemarin…

    Sekadar tambahan informasi saja… 🙂

  45. Kang Nur Says:

    Panitiane guoblog

  46. danie Says:

    aku juga nonton 😀 kecewa sih tp yo akhirna bisa duduk di tempat undangan

  47. elm Says:

    biasanya setiap tanggal brp ya? saya jd pengen nonton

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s