Mengeja Permasalahan Bangsa dengan Pantomim

Juni 1, 2008

Menurut Aristoteles (Poetics – 350 BC), seni pantomim awalnya dikenal di wilayah Mesir Kuno dan India, jauh sebelum berkembang pesat dalam sejarah bangsa Romawi Kuno sebagai pementasan seputar mitologi Yunani. Kemudian dikenal menjadi pemetasan bernuansa komedi sejak abad ke-16.

Di Jogjakarta sendiri[*] , pantomim ini dikembangkan sebagai seni pertunjukan sekitar tahun 1970-an oleh Moortri Poernomo melalui berbagai sanggar seni yang ada. Pentas pantomim ini menjadi sisi menarik yang selalu nikmat untuk diikuti. Hal paling menarik dari sebuah pentas pantomim adalah tidak hadirnya bahasa verbal dalam pementasan yang kemudian pesan diapresiasi secara seragam oleh penonton, dimengerti dengan suasana gembira.

Selama saya di jogja, terakhir kali melihat pentas pantomim jalanan itu sekitar 5 tahun lalu. Saat itu saya biasa menyaksikan pentas pantomim di depan Malioboro Mall, setelah Mall tutup. Tadi pagi, bersama jelata CA lainnya yang sedang mengadakan Kopdar Jablay di seputaran bunderan UGM, saya merasa sungguh beruntung karena kembali disuguhi pentas ini.

Awalnya ditampilkan adegan sedang merawat seorang bayi imajiner di atas sebuah kasur yang diibaratkan melalui sebuah jok motor. Bayi yang merengek, kemudian ditenangkan dengan sebuah susu botol. Sekali bayi itu jatuh, dengan panik mengambil si bayi dan kembali menenangkannya. Pada intinya, si pemain pantomim berusaha melucu dengan berbagai gerak-gerak minus verbal nan ekspresif sehingga penonton menjadi mengerti apa yang hendak disampaikan.

Jika melihat aksi pertama ini, pastinya semua penonton hanya tersenyum, nyengir dan sesekali terbahak. Tanpa ada satu makna dan pesan yang mungkin bisa mampir di kepala, karena yang disampaikan hanya lelucon belaka. Namun tidak demikian dengan pertunjukan kedua yang digelar seusai dia menjelaskan “apa itu pantomim”, dan bagaimana si pemain berusaha menyampaikan sesuatu melalui gerak-gerak bisu ekspresif itu.

Mula-mula dia mengambil sebuah gelas plastik transparan bekas air mineral, diisinya separuh dengan air putih. Air putih bersih yang nampak itu adalah cerminan dia ketika baru saja dilahirkan. Lalu dia bercerita tentang masa lalunya yang suram, tentang perceraian orang tuanya. Episode suram pertama kegalauhan hidup ini digambarkan dengan sejumput tanah yang dia masukkan ke dalam gelas. Warna air pun menjadi keruh. Kemudian dia bercerita tentang putus sekolah karena tidak ada biaya, satu jumput tanah pun menambah keruh air di dalam gelas. Terakhir, dia menaruh sejumput tanah (lagi), dan dia namakan episode itu sebagai : kenaikan BBM. Sempurnalah kekeruhan air representasi hidup itu.

Potret diri si pemain pantomim melalui air keruh di dalam gelas adalah representasi potret permasalahan masyarakat kebanyakan di negara ini. Berbagai masalah dan derita yang datang mendesak, bukan hanya derita pribadi seorang, tapi selalu jamak jumlah penderitanya. Episode lumpur Lapindo yang tiada henti itu, berbagai pelanggaran HAM, bobroknya sistem pendidikan anak negeri, kacaunya mental pemimpin yang gemar korupsi ditambah lagi dengan kebijakan yang tidak pro pada kesejahteraan rakyat secara sederhana dirangkum dalam sebuah pentas air keruh itu.

Satu penutup yang disampaikan oleh pantomimer itu, bahwa keruhnya air di dalam gelas bukanlah akhir dari segala-galanya. Derita dan permasalahan yang mendera bangsa ini bukanlah akhir bangsa ini dan harus kita terima begitu saja. Air keruh di dalam gelas ini harus dibersihkan. Menghilangkan keruh di dalam air itu bisa dilakukan dengan menuangkan air sebanyak-banyaknya. Sehingga kemudian perlahan-lahan, keruh akan terdesak keluar dan gelas hanya akan berisi air yang bersih.

Air yang dituangkan sebanyak-banyaknya tadi adalah cerminan dari berfikir positif dan selalu bekerja keras terus-menerus oleh seluruh komponen bangsa. Idealis dan utopis? Mungkin begitu, tapi setidaknya gaya kritik yang disampaikan oleh pantomimer dalam pentas jalanan kali ini sangat saya sukai. Potret realitas permasalahan bangsa sebesar dan serumit ini digambarkan oleh pantomimer dalam sebuah pentas sederhana namun sarat semangat optimisme.

Sumber gambar ilustrasi : www.ron-pantomime.com

24 Responses to “Mengeja Permasalahan Bangsa dengan Pantomim”


  1. te.. te..tapi tapi… orasi pemain pantomim itu justru telah menambahkan keruh ke dalam hidup saya.

  2. antobilang Says:

    yang kamu maksud keruh itu, milo panasnya pangsit, bukan?

  3. PeTeeR Says:

    kasian momon,
    di saat kita yang lain menikmati aksi pantomim itu, dia harus menderita karena milo panasnya pangsit.

    jadi, bagaimana dengan tokoh antagonis itu?


  4. Harus punya daya imajinasi tinggi untuk menerjemahkan pantomim. Dan itu terkadang sulit …


  5. wah saya sudah luamua buanget gak lihat pantomim… dulu masih jaman tvri sering ada acara ginian
    😀

  6. ekowanz Says:

    bukannya seharusnya si pantomer itu ga ush berbicara…..mending biarkan para penonton punya interpretasi masing2 ;))

  7. ManusiaSuper Says:

    Lah pemerintah kita ini To, yang pake kata-kata dan contoh nyata saja kadang tidak mengerti, apalagi pake diem?

  8. arya Says:

    belum pernah liat pantomim secara langsung

  9. penamerah Says:

    Salutlah bagi yang punya aspirasi dengan cara apapun.
    harapan kia, semoga esok akan lebih baik…
    Amien

  10. Kopdang Says:

    Pantomim Jogja saya suka dengan tampilan dan penampilan Pak Jemek..
    apakah beliau masih aktif?

  11. pantomer Says:

    *memberi komen dengan gerakan pantomim*

  12. funkshit Says:

    mungkin si tukang pantomin kehabisan ide gimana menceritakan nya jika tanpa harus bicara…
    akhirnya musti ngomong deh …

  13. westnu Says:

    waktu tk dulu sering lihat latihan anak2 asdrafi pantomim karena tk saya berada dsbelah pndopo tmpat latihan.memang pantomim seharusnya tdak memakai bahasa verbal, mungkin orang2 banyak yang menutup mata tntang permasalahan bangsa sehingga dia melakukan prtnjukan dtambah bahasa lisan.Btw untung saya menumpahkan sambel tidak kena orang lain 🙂

  14. rama Says:

    mending begitu dari anarkis. anarkiss my asss.. hehe 🙂

  15. ratutebu Says:

    saiia suka serem tu kalo liat badut2 gituuuhh.. termasuk pantomim juga.. habis dandanannya sereeemm.. 😦

  16. cK Says:

    *ikutan zam, komen dengan pantomim*

  17. alle Says:

    baru kali itu saya melihat pantomim sambil ngobrol
    *aneh*

  18. Nazieb Says:

    Pantomim itu apanya Pantobilang?
    :mrgreen:

  19. singkat_onwae Says:

    jadi kangen pengen main ke utan kayu.

  20. aan Says:

    pantomim is good
    saya juga pemerhati pantomim
    belum pernah lihat pantomim di atas kereta??
    udah 2 tahun ini saya lakukan
    mahasiswa drama universitas negeri surabya

  21. tamy Says:

    mv sy sdg btuh bantuan…sy dpt tgs d kmpus ber pantomim jdi hantu…kira2 kostum nya sprti apa dan pantomom nya ky apa?trmksh…
    mhon bantuanx


  22. hey Nto 😉
    pinjam catatan kau untuk melengkapi apresiasi abis ekeu nonton pantomim yah 😀
    lagi ngarep, puisi ekeu bisa dijadikan partitur pantomim neh. bwahahaha…
    salamaaan 😀


  23. Asikk…kerenn..pantomim juga anak kandung kebudayaan sebuah bangsa….!!!

    salam panttomim!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s