Homo itu Homini-nya Lupus {2}

September 6, 2007

Sebagaimana sudah saya janjikan pada postingan terdahulu, maka postingan kali ini masih membahas tentang TKI.

Di antara kisah ‘sukses’ para TKI, banyak kita dengar serpihan kisah pahit yang harus mereka alami di negeri orang. Terus terang saya sendiri tidak mengetahui secara detail apa yang sebenarnya terjadi di sana, namun berdasarkan cerita seorang narasumber (kebetulan seorang blogger) yang saya hubungi via selular, maka ada beberapa poin yang patut kita cermati :

  • Tidak semua TKI bernasib sial dan penuh penderitaan selama bekerja di LN, ada yang sukses, disayang majikan, dan pulang membawa banyak uang lalu membangun rumah megah bagi keluarganya. Bahkan saya sendiri ingat seorang tetangga saya, sudah lebih dari 8 tahun bekerja di LN tidak mau pulang dan hanya mengirim uang saja kepada keluarga di kampung halaman.
  • Beberapa TKI yang sukses tersebut mengaku bahwa kejadian buruk yang menimpa para tenaga kerja Indonesia di LN adalah kurangnya ketrampilan, sehingga majikan dimungkinkan tidak puas terhadap kinerja si TKI. Penyiksaan yang dilakukan oleh si majikan merupakan bentuk pelampiasan atas kejengkelan majikan karena telah mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar pekerja namun ternyata pekerja tersebut tidak becus dalam melakukan pekerjaan.

Sampai pada 2 (dua) poin tersebut, saya sepakat apabila TKI sukses yang berhasil membawa uang ratusan juta tersebut benar-benar seorang TKI yang mumpuni dan terampil. Namun ketika ada TKI yang bodoh dan tidak terampil itu harus membayar ‘kebodohan’ mereka dengan bogem mentah atau pukulan cambuk sungguh sangat tidak adil. Bukankah para majikan di negeri sebelah itu juga berjenis manusia? Yang katanya memiliki akal, budi dan pikiran? *cuih* Atau manusia-manusia tersebut merasa cukup memiliki kuasa dengan ringgit-ringgit di tangan sehingga berhak untuk menentukan jatah hidup mati manusia lainnya? Kalaupun tidak puas dengan kinerja para TKI yang diterima oleh mereka, bukankah bisa meminta ganti kepada para penyalur buruh migran tersebut? Dan jikalau prosedur penggantian pekerja itu sulit dan rumit, kenapa harus dengan menyiksa para manusia tersebut?
Perlindungan terhadap keselamatan dan kesejahteraan TKI di luar negeri memang masih sedemikian minimnya. Keberadaan kantor kedutaan di LN sepertinya tidak terlalu banyak membantu, kalaupun ada sifatnya hanya reaktif terhadap kasus yang dilaporkan. Tidak demikian halnya dengan kasus yang terselubung dan ditutup-tutupi. Pokoknya kalau tidak ada yang melapor, artinya mereka (TKI) baik-baik saja. Kedutaan besar yang ada di negara ‘penerima’ kiriman buruh migran dari Indonesia melakukan tindakan yang bersifat proaktif terhadap jaminan keselamatan warga Negara Indonesia di negara tersebut. Entah itu pendataan maupun monitoring bagi para TKI sehingga setiap saat bisa dilakukan pengawasan terhadap keadaan mereka.
Para penyalur jasa TKI ke luar negeri juga harus diperiksa, apabila memang tidak memiliki ijin usaha yang resmi, sebaiknya ditertibkan. Mereka pun juga harus memahami, bahwa yang mereka kirim ke luar negeri itu manusia, jenis makhluk yang sama dengan mereka. Sehingga demi alasan uang semata, jangan sampai tega meresikokan keselamatan nyawa sesama manusia. Pelatihan untuk para calon TKI juga diperlukan, sehingga TKI benar-benar dipersiapkan sebagai tenaga kerja yang terampil dan bermartabat.
Para birokrat di atas singgasana negeri ini, yang sampai sekarang, masih jauh lebih memilih hubungan baik-baik dengan negeri penyiksa TKI itu, tentu saja mungkin memiliki alasan khusus. Mungkin karena alasan ekonomi? Biar lancar investasi? Biar devisa mengalir deras? Atau sebenarnya kita ini benar-benar takut dengan negeri sebelah yang punya banyak ringgit itu?

36 Responses to “Homo itu Homini-nya Lupus {2}”

  1. arya Says:

    blokir pertaminax

  2. arya Says:

    *masih mbaca

  3. arya Says:

    yang jelas, harus ada perbaikan menyeluruh.
    ujungnya, tentu saja perbaikan sistem perlindungan terhadap pekerja migran kita, dari hulu ke hilir
    sejauh ini, blm ada sinyal Pemerintah sanggup mengurangi jumlah pengangguran secara drastis, sehingga sepertinya pengiriman TKI ke LN adalah salah satu bentuk solusi (sementara) untuk mengurangi pengangguran.
    tapi ya itu, perbaikan sistem merupakan sebuah keniscayaan bila kita mau melindungi warga negara kita.

  4. ndarualqaz Says:

    halo nto.. udah lama nih gak nengok ke sini

  5. ndarualqaz Says:

    aku cuma mo hetriks doang kok….. kayak itu tuh yang diatas

  6. roffi Says:

    ini kok pada hetrix?

  7. almascatie Says:

    *makin ga percaya sayah sama yg namanya negara*😆

  8. cK Says:

    jadi ibu-ibu PKK aja deh…

  9. deKing Says:

    Perlindungan terhadap keselamatan dan kesejahteraan TKI di luar negeri memang masih sedemikian minimnya. Keberadaan kantor kedutaan di LN sepertinya tidak terlalu banyak membantu, kalaupun ada sifatnya hanya reaktif terhadap kasus yang dilaporkan.

    Apalagi banyak TKI yang sepertinya tidak mengikuti prosedur seharusnya (ilegal?) dan anehnya masih bisa lolos juga ke luar negeri.

  10. deKing Says:

    Baca komentarnya Arya:

    Halah … Arya ahli hukum yang cacat hukum dan melanggar hukum:mrgreen:

  11. arya Says:

    *injek2 deking

  12. cK Says:

    *bantuin arya injek deking*

  13. ndarualqaz Says:

    “bantuin deking bales injek cK”

  14. 'K, Says:

    *melindungi chika dengan sgenap jiwa raga*

  15. annots Says:

    masukin berita ke detikdotcom ada yang injek2 wartawannya

  16. Joerig™ Says:

    2 artikel ini kok ngga diposting di blog indonesia ? …

  17. Guh Says:

    tetap berhubungan baik mungkin karena banyak birokrat di singgasana sana nyambi profesi sebagai saudagar. dan investasinya sangat terancam kalau sampai hubungan terganggu. mungkin. hanya busuk sangka saja sih.


  18. Nto, ingat teori gembar – gembor media massa?😀

    Sebetulnya TKI juga ada yang makmur. Eh, ini sih sudah disebut…:mrgreen:


  19. *OOT*

    nto, fotomu di sidebar nggak banget. ngingetin gue sama pager tetangga gue yang bertuliskan “awas anjing galak”.:mrgreen:

  20. Resta Says:

    apa hubungannya dengan lupus?

  21. peyek Says:

    Walah…ngeri mas, semestinya yang patut ditertibkan atau diberangus habis sekalian, adalah pejabat-pejabat kita yang terkait itu.

  22. aLe Says:

    *sik loading*

  23. aLe Says:

    biar negeri kita tmbh kaya, mari legalkan ganja :evillaugh:

  24. aLe Says:

    blah :O link-nya korupt😛

  25. venus Says:

    he eh ki, aku juga mangkel, tapi bisanya ya itu thok. mangkel. lha piye jal?😦

  26. almascatie Says:

    Atau sebenarnya kita ini benar-benar takut dengan negeri sebelah yang punya banyak ringgit itu?

    sebenernya ga takut tapi kebanyakan prosedur standart dan ga standar yang harus dilalui sehingga baru langkah pertama aja dah KO😀

  27. ayahshiva Says:

    ya, menanggapi poin yang pertama, saya pernah baca kisah sukses TKI/TKW di Hongkong yang sukses setelah dia mengikutin salah satu bisnis mlm

  28. asukowe Says:

    Waduh MLM lagi! mending ke blog nya Mbah Umbel deh, tadi saya nengok postingannya yg ke 2 tentang MLm sepi, enggak kaya yang pertama sukses saya buat blog arisan mami-mami perumahan. Cut MLM di sini…!!

  29. madsyair Says:

    Mbok ya yg dikirim jd TKI bukan hanya babu, jadinya persepsi orang sono kalau orang indonesia itu babu. Sama halnya di tempat perantauan saya. karena kebanyakan yang jualan di warung adalah orang jawa, maka ketika saya berkenalan dengan orang, biasanya ditanya, ‘jualan apa,mas?’

  30. asukowe Says:

    Orang jawa ya? ada jualan tulang enggak?

  31. shige Says:

    Para birokrat di atas singgasana negeri ini, yang sampai sekarang, masih jauh lebih memilih hubungan baik-baik dengan negeri penyiksa TKI itu, tentu saja mungkin memiliki alasan khusus. Mungkin karena alasan ekonomi? Biar lancar investasi? Biar devisa mengalir deras? Atau sebenarnya kita ini benar-benar takut dengan negeri sebelah yang punya banyak ringgit itu?

    kenapa mereka mereka itu sama sekali tidak pernah berfikir ^^

  32. diditjogja Says:

    ada permainan To…”permainan”…kamu tau kan?!
    pjtki dan dinas terkait ada salam tempel, kado ultah, dan semacemnya…biasa lah itu..
    rantai setan kan sampe situ juga….😦

  33. morishige Says:

    yah, sudah tidak zaman lagi negara kita mengirimkan TKI untuk dijadikan buruh kasar di luar negeri.
    memangnya kita bangsa budak??
    toh sangat banyak orang2 indonesia yang jadi berdasi di mancanegara..


  34. […] itu ditandai dengan banyaknya pengiriman budak-budak dari Kerajaan Endonesa ke kerajaan Malesa, dalam bentuk legal, atau bahkan ilegal. mereka […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s