Homo itu Homini-nya Lupus

Agustus 30, 2007

Permasalahan negeri ini sungguh sangat kompleks. Suguhan setiap hari di televisi dan media cetak sungguh menyajikan pemandangan mengerikan bagi siapapun yang memiliki hati nurani. Pembunuhan serta tindakan kriminal berdasar atas desakan ekonomi bukan lagi menjadi sesuatu yang berlebihan. Semua nampak biasa saja. Jam makan siang pun berisi dengan berita-berita berbagai kasus kriminal yang melanda kehidupan para anak ibu pertiwi.

Belum lagi pertunjukan konyol yang muncul dari para petinggi negeri yang semakin hari hanya berfikir untuk memantapkan posisi dan semakin menggenjot lumbung-lumbung pribadi. Kepentingan rakyat luas bukan lagi menjadi prioritas dalam perilaku sehari-hari sang pemimpin. Mulai dari permasalahan Lapindo yang hingga kini hanya menjadi penyelesaian bermasalah. Hanya semakin mencorengkan suram dan bobroknya kualitas kehidupan kita dalam bernegara. Kepedulian terhadap nasib sesama anak negeri semakin menipis, terkikis oleh kecurigaan golongan dan berbagai motif sekitar perut. Akan mudah menghabisi nyawa seseorang hanya karena uang seribu rupiah atau tanah sejengkal. Dan akan semakin mudah saja menghabisi nyawa seseorang ketika seseorang itu kita anggap melanggar ego harga diri kita sebagai manusia❓ . Sang pemimpin negeri pun bertindak semakin tidak normal saja, permasalahan negeri yang jauh lebih parah hanya didiamkan begitu saja. Namun akan bereaksi sangat keras apabila ada sesuatu yang menyangkut harga dirinya atau golongan/kelompoknya saja. dan hanya akan diam saja sambil senyum-senyum manis melihat bangsa-bangsa lain menginjak-injak harga diri bangsa. Permasalahan besar negeri ini mulai dari permasalahan lumpur Lapindo, IPDN, pahlawan devisa di negeri tetangga, hanya menjadi bangkai yang selalu berusaha ditutup-tutupi. Bukan segera diselesaikan. Justru akan berreaksi sangat keras ketika ada seseorang yang melaporkan sebuah gosip/aib dirinya di masa lalu, atau sekelompok ide yang memparodikan pemerintahan (yang sesungguhnya jauh lebih menggelikan) dalam acara televisi. Atau yang terbaru ketika anak seorang pengusaha yang di culik. Si pemimpin ini begitu tanggap, tampak dia begitu peduli dan simpatik terhadap kasus yang demikian. Namun seperti membiarkan tumpukan kasus serupa yang menimpa berbagai lapisan yang masyarakat. Ya, mungkin sangat jauh dari kehidupannya, sehingga dia pun merasa itu bukan kewajiban dia untuk ikut campur. Ah, tapi jika saja orang tua para anak korban penculikan itu menyumbang sekian persen dana untuk masa kampanye tahun 2004 silam, mungkin akan lain cerita ya? Akan banyak konferensi pers dari istana negara yang membahas penculikan anak😉

oke, kembali ke pohon, kali ini saya akan membahas tentang permasalahan para pahlawan devisa yang berjuang membanting tulang untuk keluarga (dan beberapa untuk menyumbang devisa bagi negeri miskin tapi congkak ini).

Sebagai awal pembahasan, mari kita lihat kutipan berikut :

Pemerintah menargetkan pendapatan devisa dari TKI sebesar Rp40 triliun hingga tahun 2009 (sumber : Bisnis Indonesia Online 25 Agustus 2007)

Di pundak para pejuang –yang nasib nyawanya sendiri tidak ada yang menjamin- itu, kita tega membebankan target yang sedemikian besar. Lalu untuk apa sebenarnya dana tersebut? membayar utang luar negeri yang dibuat oleh bangsat2 pejabat2 negeri ini? membayar pensiun seumur hidup para anggota DPR yang tidur dan jalan2 kerja 5 tahun itu? membayar pembangunan negeri yang amburadul tak keruan ini? Jadi dari penderitaan fisik dan psikologis para anak negeri itu kita mengharapkan kenaikan pendapatan bangsa ini? 40 trilyun? Semakin aneh saja.

Para TKI tersebut pergi ke luar negeri tentu saja bukan tanpa sebab. Desakan hidup di negeri miskin tapi congkak ini membuat sebagian warga negara (terpinggirkan) memilih untuk meresikokan nyawa demi beberapa tumpuk uang untuk menyambung hidup di kampung. karena mencari makan di negeri sendiri ternyata tidak menjanjikan untuk perbaikan nasib mereka. Ditambah dengan beberapa makhluk berjenis spesies manusia yang berhati iblis, tega menipu dan menjanjikan kehidupan layak dan menggiurkan di negeri sebelah. Berbekal minimnya kemampuan intelektual, para pejuang devisa tersebut berduyun-duyun datang ke negeri impian, neraka baru yang lebih kejam dari neraka di negeri sendiri. Datang ke negeri neraka dengan menyandang gelar pahlawan devisa serta memikul beban berat target pendapatan devisa oleh pemerintah pemeras, mereka hanya berharap satu, masa depan yang lebih cerah. Pulang ke kampung dengan beberapa hasil yang dikumpulkan bertahun-tahun di negeri neraka, lalu membangun rumah serta memulai usaha baru di kampung. Sebuah impian manis –mungkin bagi beberapa TKI dapat diwujudkan dengan mulus– namun tidak demikian dengan beberapa diantara mereka yang harus mendapatkan majikan tak tau diri yang menyiksa atau tidak memperlakukan mereka sebagai manusia. Bahkan para penyalur yang terkadang kejam menambah derita dengan menahan dan melarikan surat-surat penting semacam visa dan paspor karena alasan-alasan tertentu. Ketika nasib buruk mengharuskan mereka pergi melarikan diri, masih ada satu musuh yang harus dihadapi. Penegak hukum yang aktif memeriksa paspor dan visa, kabarnya sangat kejam terhadap para TKI. Ketika kembali ke tanah air, di bandara akan menhadang para penipu –tak kenal kasihan– yang akan menjarah uang hasil keringat dan darah mereka selama di luar negeri. Dan itu terjadi bertahun-tahun. Seakan hal ini menjadi biasa saja bagi siapapun pemegang kekuasaan di negeri ini. Atau kita bisa disebut ikut-ikutan kejam menghisap darah mereka? Dengan membiarkan kasus per kasus ini terus terjadi setiap hari? Masihkan kita tega memakan devisa yang diperoleh dari keringat dan darah saudara sendiri?

:::: Bersambung edisi ke-2 ::::

64 Responses to “Homo itu Homini-nya Lupus”

  1. cK Says:

    VERTAMAX!!! hohoho😆

  2. cK Says:

    prostest™!!!! kasih spasi donk nto, pusing nih bacanya!👿

  3. cK Says:

    hetrik gyakakakakkk😆

    antobilang : *Hajar chika dengan cambuk*

  4. alex Says:

    Salah satu cara terbaik saat ini adalah: cegahlah orang2 di sekitar kita menjadi TKI apalagi TKW. Setidaknya kalo pun jadi TKI/TKW jangan ke negara2 bernama Malaysia dan Arab Saudi. Mereka bisa jadi pahlawan devisa yang pulang tinggal nama…😦

    Baru2 ini malah, TKI yang jadi korban siksaan majikannya di Arab Saudi, jasadnya saja masih ditahan… kesal nggak dengarnya?😡

    antobilang : dua negara itu memang ngajak perang, lex.
    malah ada yang pulang jenazahnya dibungkus pake karung goni😦

  5. jejakpena Says:

    Kebijakan `pahlawan devisa` itu ya? Kadang ga habis pikir juga. Jika dengan kasus penganiayaan TKI/TKW saja pemerintah tidak bisa melakukan advokasi hukum yang jelas, hal yang sama akan terus terjadi dan berulang kan? Tapi di satu sisi, calon TKI/TKW itu tetap (terpaksa) punya prinsip, bekerja di negara orang bisa merubah nasib daripada di negeri sendiri.😦

    antobilang : sebenarnya di negeri ini masih banyak peluang lho. besok2 saya mau bahas tentang fakta bahwa negeri ini punya banyak uang😉

  6. kai Says:

    wah to, harusnya duit yg udah dapet sesuai target devisa itu dibuat untuk menciptakan lapangan kerja baru. dari pada ngimpor mobil or motor or beras😀

    antobilang : iya betul, daripada buat nambahin buncit perut2 pejabat😉
    eh, denger kata ‘buncit’ inget sapaaaaa gitu😆

  7. Anang Says:

    indonesia ini sebenernya adalah negara makmur dan kaya raya…. sumber daya alam melimpah ruah di bumi persada namun salahnya yaitu tak ada orang yang tepat mengatur semuanya…. jadinya ya begini

    antobilang : lebih tepatnya begitu mas.
    kita jauh lebih suka mengatakan kita kaya daripada berbuat sesuatu dengan kekayaan itu

  8. arya Says:

    pemimpin kita kan cuman bisa tebar pesona, Nto. mana ada yg bisa kerja dgn bener?

    antobilang : termasuk menyanyikan lagu “pelangi dimatamu”?😆

  9. manusiasuper Says:

    PENGSAN!!

    POSTINGAN ANTO KEREN BANGET!!!!

    antobilang : yah, segitu aja lemes😉

  10. imcw Says:

    itulah indonesia…
    indonesia tanah airku…
    aku berjanji padamu…
    menjunjung tanah airku…
    tanah airku indonesia…

    antobilang : nasionalisme satu2nya modal kita sekarang😀


  11. Yang lebih parah lagi, setelah sampai di negeri (yang katanya tercinta ini) mereka masih saja diperas oleh para tikus di bandara dan juga aksi perampokan di balik kedok jasa angkutan (taksi gelap dkk)

    antobilang : king, ati2 ya ntar pas pulang ke indo, terutama di bandara😛

  12. unai Says:

    iya kita terlanjur hidup di negeri yang salah urus…

    antobilang : saya yakin maish bisa diperbaiki😀

  13. mitra w Says:

    well, mitra aslinya ga ngerti banyak ttg intrik2 mengenai TKI/TKW. tapi sedikit pengalaman, dulu mitra pernah ke jakarta bareng temen2 cewek juga pake kereta. Nah, begitu nyampe stasiun di jkt, kami dihadang beberapa petugas… hehehe, dikira TKW, soale kami pada pake JILBAB.😥
    menyebalkan bukaaan… untungnya kami punya KTM.

    tp ya aku juga mikir, trus kalo emang TKW, bakal diapa’no yo ma para aparat itu??

    antobilang : bapak2 di stasiun itu menganut faham generalisasi😆
    hm…mungkin mau diminta mengisi kuesioner tentang kesan dan pesan selama menjadi TKI?😉 *halah*

  14. annots Says:

    apa boleh baut, sekrup pun sudah mengakar, tertancap dan terlanjur susah untuk dicabut.

    antobilang : ada bengkel buat nyabut mur dan baut itu mas?

  15. rd Limosin Says:

    //menunggu edisi 2

    antobilang : sudah dirilis mas.😀

  16. ayahshiva Says:

    aku baru tahu kalo orang tua dari anak yang diculik itu seorang pengusaha, dan pengusaha tersebut telah menyumbangkan sebagian hartanya untuk kampanye pada pemilihan presiden baberapa tahun yang lalu.

    pantas aja beritanya heboh banget, sampet gerah aku mendengar beritanya.

    antobilang : hahaha…itu kecurigaan saya pak. coba alasan apalagi?

  17. Heureuy™ Says:

    kok harus nyambung ke TKI sih …😦

    antobilang : mangsutnya?

  18. alex Says:

    @ ayahshiva

    oh, rupanya begitu tho?
    aku juga baru nyadar ini…
    pantas saja paduka YBS begitu simpatik…😕

    antobilang : bukan simpatik, balas budi😆

  19. asukowe Says:

    Yang namanya Antobilang cuma bisa ngomong (ralat : Nulis…doang) >>>>> Atau kita bisa disebut ikut-ikutan kejam menghisap darah mereka? Dengan membiarkan kasus per kasus ini terus terjadi setiap hari? Masihkan kita tega memakan devisa yang diperoleh dari keringat dan darah saudara sendiri?

    Lha peran aktifnya gimana? yang nulis atau memberi ceramah kasih contoh dulu dong…. pakai sistematika tertulis + logika2, peluang2 sukses gagalnya, atau langsung modal slayer ama topi Tukang Becak? demo? anarki? protes ke SBY? dulu saya pernah aktif jaman masa pemerintahan SOEHARTO tapi tak pikir2 ya sama aja sami mawon, malah sekarang ini makin rusak Indonesia, bubrah mletik ke mana-mana….

    Oh ya saya rasanya enggak pernah makan devisa dari hasil itu, tapi enggak tahu ya kalau ada yg termakan enggak sengaja. (to TKI : maaf nyuwun pangapunten ya …), Puasa kalo enggak sengaja makan juga bisa dilanjut kok….🙂

    lanjut teman-teman komentarnya …. hik hik

    antobilang :
    hahaha, iya mas, antobilang emang cuma bisa ngomong saja. daripada diam.
    maaf komentar anda sepertinya banyak yang menjauh dari konteks, tapi oke, saya hormati anda telah mau berkomentar di sini.
    tapi sekali lagi, masalah TKi ini masalah besar, silahkan kalau masih mau menjadikannya olok-olok.
    menulis tentang TKI bukanlah tindakan konyol menurut saya, karena sebaiknya memang setiap manusia berusaha sesuai porsinya masing2, kalau blogger ya jadilah blogger yang peduli, bukan asal nyampah dan nebar komen-komen mancing emosi.
    kalau jadi pelajar ya belajar baik2, jadi mahasiswa juga begitu, ndak cuma asal bisa IP tinggi dan lulus cepet.

  20. k* tutur Says:

    wong mangan wong! Canibalism…!

    antobilang : dan nyatanya masih banyak mas di sekitar kita😦

  21. alex Says:

    @ asukowe

    *ketawa dulu*😆

    komentarnya… hehehe… ada nada kuciwa, ya?
    ehm, kalo boleh dibilang kita sama. saya juga udah kecapean turun ke jalan, dan rasanya naik tensi darah melihat keadaan makin tidak menentuk justru di era yang disebut reformasi ini.

    tapi mengatai penulis blog begini cuma bisa ngomong, ya ndak betul juga, bro. mungkin angkatannya anto ada melakukan apa-apa yang kita nggak tahu. setidaknya saya senang melihat ada yang masi mau pake otak dari generasi lebih muda *halaahh.. sok tua:mrgreen: * untuk berpikir kritis.

    eee… biar saya ndak dicap juga karena mengomentari ‘hujatan’ anda, saya mau cerita dikit.
    dari sekian banyak TKI atau katakanlah pencari kerja di malaysia itu, sekitar 36.000 itu orang Aceh. selain faktor konflik, kepergian mereka kesana juga untuk mencari kerja.

    Lalu bagaimana cara mengurangi angka itu? Kebetulan orangtua saya memiliki toko yang, alhamdulillah, cukup besar. dulu ada dua-tiga orang dari anak muda yang berniat ke sana, orang tua saya menyuruh saya menawari mereka kerja di toko. dan berhasil. Belakangan, angka peminat ke sana agak berkurang. Kenapa? Karena selain toko-toko bertambah di daerah saya, ada program dari pemerintahan daerah dan LSM lokal untuk pendampingan panduan lapangan kerja. Lahan masih luas, kenapa mencari lahan lain?

    Hal ini mungkin tidak bisa diterapkan pada semua daerah. Tapi setidaknya dengan ‘hujatan’ anto ini, mudah2an penguasa yang dulu capek2 minta dipilih ini mau beli korek kuping untuk mendengar lebih jelas…

    is it clear?😉

    antobilang : makasih lex udah ngeblog disini, njawabin komen dll.😆
    saya malah belum semfat2 nih, makasih ya lex😉
    demo sekarang susah lex, banyak ditunggangi kepentingan macem2, kesannya cuma sekedar dibayar nasi bungkus dan selesai.
    saya berfikir jauh lebih baik menulis dan membuat perubahan melalui perubahan mindset kita terlebih dahulu sebelum memulai perubahan besar tsb. Karena percuma saja membuat perubahan paradigma tanpa perubahan mindset dahulu.

  22. dobelden Says:

    yuks kita buat perusahaan sj.. prakarsa blogger

    antobilang : kira2 perusahaan apa ya pak?

  23. aLe Says:

    *lemes seolah tap percaya si nTo bs nulis secerdas ini* :evillaugh:

    Diam Tertindas atau Bergerak Mati

    itulah mungkin kondisi yang banyak dialami para ‘IDEALIS’ yang telah masuk dalam ‘lingkaran setan’ itu. katakanlah teman kita yg dulu masih Mahasiswa begitu Idelais memperjuangkan hak-hak kaum tertindas, tetapi setelah masuk PNS betapa tidak berkutiknya ‘mereka’. Dan inilah PR kita bersama, ya salah satunya lewat blog-lah kita mulai meracuni ‘kaum’ apatis itu.
    Minimal dengan adanya Internet Masuk Desa, berharap semoga mereka yg dari desa bakal nyasar ke bLog kita dan membaca opini2 teman bLoggerian Indonesia.

    *tak bawakno tali, kalo gak nyambung sambungen dewe yo nTo*:mrgreen:

    antobilang : lebih tepatnya menyebut mereka itu dengan apatis dan oportunistis.😆

  24. asukowe Says:

    Kagem : Kangmas
    is it clear?😉 asukowe menjawab : Belum…

    Yang mau beli korek kuping ini lho, sebenarnya seberapa mahal sekedar beli korek kuping? toh meskipun mahalnya kaya apa bahkan belinya mesti di negeri china sana yang namanya penguasa kan tinggal korupsi lalu nyuruh pembantunya buat ngluyur pakai sepeda ontel ke sana…. beli 10 biji beres!

    Tapi apa kalau sudah dibersihkan dengan korekan apa kuping para penguasa itu jadi mendengar lebih jelas? enggak juga kan? kalau sudah dari sononya kupingnya sempit seukuran XxX kan enggak semena-mena melebar dengan hanya modal korek kuping?🙂

    Lagian gini… ada perumpamaan, eh contoh : beberapa orang China itu lho banyak juga yang ke Indonesia buat nyari kerja… tapi bedanya mereka ke Indonesia nyari kerja secara profesional, bahkan saking profesionalnya sampai bisa bagi2 kerja yang “dia cari-cari” ke orang-orang Indonesia…

    So akhirnya banyak ditemui mereka2 yang asalnya dari cina biasa-biasa aja, eh tiba-tiba menjadi bos-bos yang luar biasa, babu-babunya nya malah saudara2 kita hik hik…

    Kagem : Siapa ya?
    Lalu mbok kita ini jangan selalu menyalahkan pemerintah… berkaca pada diri kita sendiri dulu… percayalah jadi peminpin itu enggak segampang bikin telur ceplok, dari soal Pemilu saja dah butuh duit banyak, belum pas dah jadi raja, dihujat sana sini… disalahkan di demo dll dilempari telur, bahkan dulu aku pernah melempari RAJA dengan kotoranku, pernah juga “kuplinteng” pakai kerikil sebesar bola kasti, padahal belum balik modal tuh dana yang dikeluarkan buat coblosan, sogok sini sogok sana.

    Gini aja, seandainya ada tawaran… mau po kita menggantikan SBY… MEGAWATI… SOEHARTO… GUSDUR…..SOEKARNO jadi raja, serius ini…. mau enggak? jangan2 mental kita ini mental penonton sepak bola doang. berani kritik berani tawuran, berani mencemooh, macem-macem tapi di suruh main NOL, salah-salah ngompol disoraki penonton.

    Jadi sebenarnya ini persoalan kita bersama, kok enaknya lalu semua dibebankan ke pemerintah, kewajiban kita mengingatkan, dikasih pencerahan, inget2 imam sholat itu kalau salah apa lalu kita soraki? kita berhenti sholat lalu ngajak kelahi? enggak kan? kewajiban kita mengingatkan yang lupa, pakai dipancing-pancing biar inget ayat apa yang dibaca dengan sopan santun dan aturan… jangan malah bilang : goblok! gak bisa imam! jadi tukang ojek saja! itu mah bikin grogi, alih-alih jantungan. Ajak dong duduk bersama, jangan dihujat dan dimusuhi, nanti ditembak lho … nangis, sakit hati, merajuk kaya anak kecil. Ya kan?

    Gimana kita bisa seperti orang china, toh biarpun mereka kabur dari negaranya sendiri, lalu nginep selama bertahun-tahun di Indonesia, mereka bisa jadi hebat. Karena apa? karena jiwa mereka bukan jiwa ngawulo, bukan jiwa nrimo ing pandum, nabi-nabi dulu seperti apa sengsaranya? mereka enggak nrimo ing pandhum… mereka tetap berjuang seperti apapun keadaannya, karena sia-sia doa tanpa kerja keras.. lalu aku sebut orang china itu benar2 kompak, saling nulung saudaranya yang sesat …. dihutangi, dibimbing diarahkan sampai hidup enak dan bisa ganti nulung saudara lainnya yang tersesat.

    Lha kalo orang Indonesia, boro-boro saling nulung. Senengnya malah menthung, bom-boman, hujat-hujatan, ngenyek-ngenyekan, lha lalu kalo di enyek-enyek sama orang Malaysia lha kok melempem, sama saudara setanah air kalau dienyek kok malah lebih parah membalasnya. Bunuh-bunuhan, SARA lalu dibawa-bawa, pokoknya biar lame gitu. Lha kadang di blog aja bisa sampai gontok-gontokan kok, saling menyalahkan gak ada resep pembicaraan yang menuju ke persatuan dan kesatuan bangsa. hi hi hi (seperti saya mungkin) sebenarnya saya test-test saja lho bikin-bikin coment di blog ini, wong sejatinya saya ini makhluk penggemar game…. hidup mati ya di game, susah senang di game, miskin kaya ya di game, dan blog saya ya blog game, suer…. makhluk game ternyata lebih jinak dan punya naluri persaudaraan yang lebih tinggi di dunia blognya masing2 dibanding makhluk2 di dunia blog konvensional ini

    Beberapa hari lalu saya ngikut siang malam coment di blog orang, lha kok isinya nyek-nyek an soal MLM nyek-nyekan soal agama, yang bilang haram lah yang halal lah di bilang kafir lah, dibilang salah lah, opo tumon….
    Lha padahal kalo dari MLM bisa kaya, kan bisa mengurangi napsu buat jadi TKI ke antah berantah sana… Kalau dengan agama tertentu hati bisa damai kenapa mesti dipaksa pindah agama? padahal dulu ada yang bilang begini : agamaku agamaku, punya kamu ya punya kamu gitu.

    Jangan lihat haram halalnya, orang disekolahkan buat apa? yang cendekiawan sedikit, pilih kerja (Contohnya MLM) pilih yang halal jangan yang haram. Lalu kerja baik-baik buat nusa dan Bangsa, eh buat Istri dan anak ding, buat ibu bapak, mertua… itu sudah lebih dari cukup, gak usah muluk2,

    Atau bikin wartel, jualan dandang, jual bakso, atau bikin tambal ban, (tapi jangan lalu nyebar paku di jalan >>> Haram!) asal ada semangat u/ maju… pasti sukses… jangan nerimo ing pandum….

    whaduh….Wah kok seperti kakek-kakek ngasih wejangan ke cucunya…. Maaf lho nyampahnya.. (tapi mudah2an manfaat… enggak ada konotasi memojokkan atau mengenyek seseorang… yang saya nyek semuanya termasuk saya…)
    Intinya… jangan menyalahkan orang lain… diri kita dulu dilihat baik apa enggak… percaya deh orang lain itu pasti pengen baik juga, cuma jalannya lain-lain dengan kita? masa ke Roma lalu naik pesawat terbang semua? pakai becak kan bisa juga…🙂

    Sekian dulu, bravo Indonesia… maju! jangan nerimo ing pandum….
    Ngeblog yang sebaik-baiknya…. belajar nyampah, lalu kalo sudah bisa belajar cendekiawan, belajar berpendapat, belajar mengkritik, tapi mesti belajar juga mau dikritik… belajar di hujat dilempari batu atau kotoran seperti pemimpin2 kita terdahulu…..

    antobilang : ya, setuju saja. sudah tau kan cara ngeblog yang baik? sudah mulai melakukannya belum ya? janagan-jangan kita sedang ngomongin diri sendiri yang belum ngeblog dengan baik?

  25. almas Says:

    yg penting duitnya oi….
    yg mati kan tinggal diitung.. *manusia hanyalah sekedar angka statistik*😦

    antobilang : huh😦

  26. alex Says:

    @ asukowe

    kalo mau jawaban yang jelas dari saya, cuma satu : REVOLUSI.
    Yang dihadapi negeri ini sudah seperti kanker, seperti tumor. Pilihannya hanya membiarkan kanker itu hidup dan kita mati sama-sama, atau kankernya dibuang.
    Artinya? Tebas generasi yang busuk. Kalau perlu dibunuh ya dibunuh. Jujur saja, pikiran begini memang kejam. Tapi mau apa lagi?

    Permasalahannya, negeri ini dan rakyatnya FOBIA DENGAN KATA REVOLUSI. Kata ini selalu diidentikkan dengan darah yang tumpah ruah. Padahal, yang tumpah pun *kalo ada* adalah darah dari kanker yang dicopot, and we-know-who-they-are…

    Reformasi? Reformasi itu bullshits. Nonsense. Cuma retorika semata. Saya nggak percaya dengan reformasi. Pada tahun 1998, sejak saya masih SMA saya sudah beranggapan: revolusi is the only way. Bagaimana kita berharap pada reformasi, jika pejabat2 hari ini adalah wajah-wajah yang dioperasi plastik dari kebusukan sebelumnya?

    Tapi, kalo pun kita mikir begini, dan rakyat masih ngeri, masih takut, mau bagaimana? Jadi martir kesiangan? Mati konyol dan sia-sia? Setidaknya dengan bertahan hidup dan menahan diri untuk sesaat, kita bisa membantu 2-3 orang di sekitar kita. Anto bisa memberitahu orang betapa banyak bobrok di negara ini dengan postingan di blognya, dan anda pun bisa misuh2 di sini kan?

    Bagaimana? Berteriak kecewa, atau setidaknya menuliskan sesuatu untuk dibaca sekian orang yang mungkin nanti akan jadi pelatuk ketika emosi massa sudah diubun-ubun?🙂

    antobilang : setuju lex, sekali lagi memang perubahan mindset kita terlebih dahulu melalui tulisan serta berusaha menerima kekebasan berpendapat.
    Jangan karena baru ada yang bilang tentang perubahan lantas dikatakan “ndak realistis lah”, “ah cuma teori” dll

  27. venus Says:

    aku dukung kamu aja deh, nto! *teteup*

    ANTO FOR PRESIDENT!!!😛

    antobilang : presiden taxi mbok?

  28. asukowe Says:

    (Jangan-jangan nanti ngompol…..) ngakak….kak, lalu ngacir cari tulang….

    antobilang : ngelempar tulang😆

  29. roffi Says:

    REVOLUSI juga bullshit.

    antobilang : tapi membiarkan keadaan begini terus menerus?😉

  30. Elistia Says:

    Syukurlah..anda gak dilahirin di negara semacam myammar atau Israel

    antobilang : saya kok yakin, semakin banyak yang apatis di negeri ini semakin buruklah keadaan negeri kita😉

  31. alex Says:

    @ roffi

    everything’s bullshit when you never try it😆

    antobilang : lex, sandwich every bit of criticism between two thick layers of praise😉

  32. didats Says:

    tulisannya keren euy…

    kalau masalah indonesia, semua elemen terlibat. ya pemimpinnya, ya masyarakatnya. kalau ini ya, mulai dari diri sendiri aja.

    masalah TKI dan TKW, akan sulit untuk memotong talinya di tengah jalan. karena akan menyangkut banyak hal. banyak elemen yang berperan. dan sangat-sangat-sangat sulit untuk bisa diputus.

    yang bisa dilakukan adalah, jangan sampe si TKI dan TKW itu megang tali itu.

    caranya?
    ya permasalahan mendasarnya kan cuma 2. pendidikan dan kemiskinan. dia gag dapet kerja di negerinya karena pendidikannya “tidak layak”. Dan dia begitu karena kemiskinan.

    jadi, jalan satu-satunya (setidaknya ini yg ada di kepala gw) adalah mbikin lapangan pekerjaan di daerah-daerah terpencil.

    *kepengen mbikin, tapi masih belum mampu*

  33. alex Says:

    ya permasalahan mendasarnya kan cuma 2. pendidikan dan kemiskinan. dia gag dapet kerja di negerinya karena pendidikannya “tidak layak”. Dan dia begitu karena kemiskinan.

    jadi, jalan satu-satunya (setidaknya ini yg ada di kepala gw) adalah mbikin lapangan pekerjaan di daerah-daerah terpencil.

    Ah.. sepakat!
    Saya dan kawan-kawan di daerah asal sendiri, cuma punya keinginan membantu kembali beberapa dari 36000 TKI asal sini di Malaysia yang ingin kembali tahun depan, namun tanpa lahan untuk dikelola…

    Beberapa…. bukan jumlah banyak, tapi setidaknya lebih baik daripada mimpi revol… ah, sudahlah🙄

  34. asukowe Says:

    sep-sep….. bravo !!!

  35. n0vri Says:

    Anto, mbok harap maklum
    lha wong pemimpin kita kira-kira sejenis dengan si Raja Tega…

  36. uam Says:

    hampir ga nyangka, masa sih mas Anto yang ternyata tulisannya keren banged (**layak banged di naikin di Kompas, biar lebih banyak yang baca) ini ternyata skripsinya belon kelar.. hehehehe

    nti skripsinya juga dibikin versi online yah, pasti bagus juga😀


  37. waks, ndak sopan!
    wakakaka
    *siap2 ban IP kalo sekali lagi denger kaya skripsi di sini*:mrgreen:

  38. alex Says:

    Lho? Ada yang alergi dengan kata skripsi begitu itu juga ya, di sini?😆

  39. Resta Says:

    emang ada apa dgn skripsi?

  40. peyek Says:

    Ehmm…. judheg mas!

    geregeten!

  41. senyumeva Says:

    kirain lupus jadi mahluk purba
    salam kenal mas..🙂

  42. CY Says:

    @Alex
    Ngeri Lex kalo revolusi, ntar di atas sana kosong melompong semua gimana? bisa diambil alih negara lain lho… (padahal skrg juga sdh 1/2 diambil)

  43. alex Says:

    @ cY

    Ngeri Lex kalo revolusi, ntar di atas sana kosong melompong semua gimana? bisa diambil alih negara lain lho… (padahal skrg juga sdh 1/2 diambil)

    😆

    Iya ya… sekarang pun rasanya udah kaya 1/2-nya jadi robot atawa boneka barbie yang disetel hidden hands di suatu tempat sana *teori konspirasi deh….*

    Tentu saja kalo revolusi disetujui 68™ rakyat Indonesia, ada yang harus duduk di atas sana. Dan untuk itu, ya generasi yang lebih muda yang mesti pegang. Angkatan pra 1965 itu udah masuk kategori ekspaired. Udah cukuplah bikin2 rusuh negara padahal umur makin tua. Beri mereka kesempatan pensiun dan bersantai sambil minum teh sore….

    Cuuumaaa… karena revolusi is bullshit cuma utopia, maka… kita mulai dari hal-hal kecil saja. Misalnya, campaign untuk milih kepala daerah yang masig muda, masih segar dan bukan yang udah mau masuk masa istirahat abadi… Biasanya kebanyakan sudah pikun-pikun. Segitu pikunnya, kalo sudah ngaku ambil dana DKP lupa kalo itu tindakan yang ditengarai sebagai korupsi

    *lirik2 amien rais dan hasyim muzadi*


  44. 🙄

    buruan lulus deh…

    *kabooorrr*

  45. Arya Perdhana Says:

    buat yg ber-ide revolusi: pernahkah terpikir soal biaya sosial yg harus kita tanggung bila tjd revolusi?
    saya pikir, memperbaiki negara yg sudah ruwet tdk sama dengan ketika kita memperbaiki PC yg hang. PC yg hang, kalo OSnya emang udah dodol, ya tinggal format, trus install deh itu Windows bajakan Linux. hehehe
    tp memformat ulang sebuah negara bukanlah persoalan remeh. sekali lagi, biaya sosial yg harus ditanggung bagaimana?
    selamat berdiskusi

  46. alex Says:

    @ Arya Perdhana

    buat yg ber-ide revolusi: pernahkah terpikir soal biaya sosial yg harus kita tanggung bila tjd revolusi?

    Pernah. Saya menghitung-hitung, sejak RIS dibubarkan dan diganti menjadi Republik Indonesia, justru cost yang harus keluar menjadi lebih tinggi di balik slogan-slogan demokratis, sementara pada kenyataannya slogan-slogan itu hanya tinggal slogan semata.

    Atau jika anda persingkat hitungannya dari 1966, dan bandingkan dengan negara-negara yang lebih muda kemerdekaannya, seberapa jauh kita tertinggal? Biaya yang – so-called biaya sosial – mesti ditanggung negara dan rakyat, lebih getir dari satu loncatan yang dilakukan oleh negara-negara yang jauh lebih kecil dan lebih miskin.

    Anda mau persingkat lagi? 1998. Dari selang waktu itu hingga kini, apa permasalahan tuntas? Kita ditakut-takuti oleh kampanye pemerintahan dengan istilah menyeramkan seperti “biaya sosial”. “darah”, “subversif”, “pengkhianat negara”, dan yang sering adalah “revolusi = komunis = gerakan laten berbahaya”. Padahal dalam keseharian, seperti anda baca di postingan ini: yang menjadi bahaya laten dan kanker negara ini adalah mereka-mereka dari generasi sebelumnya, yang sudah lalai dengan megahnya kekuasaan.

    saya pikir, memperbaiki negara yg sudah ruwet tdk sama dengan ketika kita memperbaiki PC yg hang. PC yg hang, kalo OSnya emang udah dodol, ya tinggal format, trus install deh itu Windows bajakan Linux. hehehe
    tp memformat ulang sebuah negara bukanlah persoalan remeh. sekali lagi, biaya sosial yg harus ditanggung bagaimana?

    Saya juga tidak beranggapan bahwa revolusi adalah semudah itu. Lha… sosok semacam Budiman Sudjatmiko saja akhirnya juga mencebur ke parpol banteng merah, bagaimana revolusi akan jalan? Sementara gerombolan demonstran mahasiswa masih keluar-masuk pesta dugem dan nenggak drugs, revolusi macam apa yang akan jalan? Rakyat malah menjadi apatis.

    Itu sebabnya, saya sendiri sudah pesimis, tapi belum berhenti berharap. Yang kita hadapi adalah seperti kanker di tubuh. Pilihannya adalah: biarkan kanker itu hidup dan akhirnya mati dengan tubuh sekalian, atau amputasi. Dan itu bukan pilihan orang yang sok revolusioner seperti saya saja. Itu pilihan bersama. Caranya? Jajak pendapat terbuka dan independen di masyarakat, mereka maunya apa [terutama jika revolusi senjata kita anggap lebih mengerikan dari film SAW].

    Pada akhirnya, saya sendiri lebih simpel. Mulai dari hal-hal sederhana di sekitar saya. And I meant it. Mulai dari memilih pemimpin di daerah yang lebih muda, menggalang angkatan muda lebih memiliki skill – tidak akhirnya bertanam ganja sebagai pelarian mencari nafkah hidup… something like that.

    In my opinion: it only one of few choices we have… Believe it or not, this country tend to bankrupt. Just check this or this, and you’ll find our beloved country on #55. One step closer to Bosnia…

    Yah, kalo memang kita masih memiliki cara yang lain, mungkin cara itu adalah dengan memperbaiki kondisi yang terdekat di sekitar kita dulu. Alrite?😉

    betewe, sori Nto… jadi ngeblog di blogmu:mrgreen:

  47. almascatie Says:

    kita mulai dari hal-hal kecil saja. Misalnya, campaign untuk milih kepala daerah yang masig muda, masih segar dan bukan yang udah mau masuk masa istirahat abadi…

    waduh lex sayah takut jga, kalo sampe yang muda2 ini muridnya yang tua2 ya sama aja lex…:mrgreen:

  48. ShOFa Says:

    dibikin artikel aja ini mah,, kritikan yg membangun🙂

  49. CY Says:

    Kalo gw pikir revolusi sih ok, dgn syarat setelah kekuasaan diserahkan oleh para tua2 kita jgn cari2 lagi kesalahan mereka (walaupun berjibun), cukup cut off lsg sampai disitu. Kenapa? supaya para tua2 ga takut nyerahin kursi mereka.
    Setelah itu baru rombak total, shg tidak terjadi kekosongan kekuasaan.
    *Mikir sampe puyeng, bener gak yah usul gituan??*

  50. CY Says:

    kalo masalah ganti kepala daerah dgn yg lebih muda, saya rasa mustahil bersih, krn cepat atau lambat akan terdistorsi oleh yg atas. Kuncinya ada di puncak yg mesti tegas.

  51. Rapidity Says:

    TKI? kebetulan baru posting tentang TKI juga…..

  52. asukowe Says:

    Ada yang merasa tidak jaman Soeharto adalah jaman yang paling bagus bagi Indonesia? posting TKI? ….. wah minat enggak ya?

  53. alex Says:

    Haalaahh… udah bales panjang2… kayaknya masuk akismet deh😦

    *kontek admin buat liat2 keranjang sampah*:mrgreen:

  54. roffi Says:

    kenapa revolusi bullshit

    karena sebagian besar dari rakyat masih nyaman dalam zona aman (masih bisa kerja, sekolah, aman tentram, masih bisa ngeblog dll.).

    kalo mau revolusi: ya jangan buang² waktu (jangan ngblog mulu, keluar sana ajak teman²nya bikin action plan – walaupun revolusi juga bisa damai (seperti revolusi di jerman sewaktu runtuhnya tembok berlin).

    just my 200 rupiah

  55. orang syerem Says:

    homo homini lupus… jadi inget pak sutardji colzoum bachri aja…

    absen aja, dah lama gak muncul

  56. alex Says:

    @ roffi

    kalo mau revolusi: ya jangan buang² waktu (jangan ngblog mulu, keluar sana ajak teman²nya bikin action plan – walaupun revolusi juga bisa damai (seperti revolusi di jerman sewaktu runtuhnya tembok berlin).

    I’ve done my part, sampai kuliah hancur. It’s true.😐
    And still I’m doing something here. Nggak besar, tapi ada.

    Ngeblog mlulu?😯

    Hahahaha… have u ever heard anything about proganda?😉

    *ini juga cuma kecap😀 *


  57. […] itu Homini-nya Lupus {2} 06Sep07 Sebagaimana sudah saya janjikan pada postingan terdahulu, maka postingan kali ini masih membahas tentang […]

  58. roffi Says:

    @ Anto – saya gak mau keadaan Indonesia begini terus.

    @ Alex – you think I don’t know what propaganda is?


  59. Fiuuhhh capek, capek, dan sekali lagi capek.
    Emang, aku agak sedikit sewot dengan semua yang lagi terjadi. Aku itu udah capek dengan Indonesia (yang katanya subur bikin anak, orangnya ramah, baik, bla…bla…bla)
    Ah, wateper lah, yang penting aku bisa makan, dan bisa hidup.
    Haruskah kita semua pindah ke Republik Mimpi (dengan SBY Si Butet Dari Yogya sebagai presidennya❓

  60. tianzega Says:

    Hmmm, issue yang sampai hari ini gak ada pemecahannya oleh Indonesia tercinta.

    @ roffi
    buat apa ribut-ribut kalau hanya berdasarkan pada asas NATO (No Action Talk Only)

    @ alex

    I’ve done my part, sampai kuliah hancur. It’s true.😐

    jujur amat lu lex, tumben-tumbenan???😆

    IMHO, mending nge-blog kaya artikel bro antobilang punya ini nih dan ungkapin semua yang kita ingin muntahin tanpa harus di-srempetin ama manusia-manusia itu, daripada mikirin mereka – mereka yang sudah tidak punya hati nurani.

  61. roffi Says:

    @ tianzega – tergantung penilaian kamu aja deh

  62. alex Says:

    @ roffi

    I think you’re smart. No doubt about it.😉
    Benarnya aku sendiri udah skeptis hal begitu itu. Meliat rekan-rekan yang dulu malah pada jadi pelacur politik… jadi berpikir ulang waktu itu: let’s start doing something for the people around us first. Not a big one, but at least it’s something good…

    Betewe… diskusi bagus🙂

    @ tianzega

    Gw gak pernah bohong bro kecuali sama ente

    *diinjak-injak tian*

  63. roffi Says:

    @ Alex: Your smart too.


  64. […] itu ditandai dengan banyaknya pengiriman budak-budak dari Kerajaan Endonesa ke kerajaan Malesa, dalam bentuk legal, atau bahkan ilegal. mereka (para […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s