Terminal

Agustus 26, 2007

Dari sebelah warung
Sebuah WC umum
Irama melayu terdengar
Akrab mengalun
…… ……
……
Ramai para pedagang
Datang tawarkan barang
Ratap pengemis
Bak meriam dalam perang
Terminal – Iwan Fals, Ian Antono & Franky Sahilatua (1994)

Terminal. Yang terbayang pertama kali adalah suasana panas, gerah, bahkan mungkin kumuh. Potret keras kehidupan masyarakat terpinggirkan, ada di setiap huruf yang menyusun kata terminal. Lalu-lalang orang yang hendak bepergian, kemanapun tujuan, melintasi terminal sebagai sebuah persinggahan. Cerita penderitaan masyarakat pinggiran bisa dibaca dalam lagu-lagu tentang terminal. Pengemis yang mengharap sisa rupiah dari para pelancong yang datang, sering hanya akan berakhir dengan pandangan sinis dan jijik para calon dermawan itu. Penumpang ndeso dan polos siap dilahap para bajingan kelas teri yang mencari secukup rupiah untuk menghidupi anak istri, meski ia tahu itu dosa. Kasus tipu-menipu-tertipu-ditipu acap kali terjadi di lingkungan terminal, siapapun pasti pernah mendengar cerita tentang hal ini. Diakui atau tidak, ini potret kehidupan masyarakat terpinggirkan. Himpitan ekonomi yang tak pandang bulu mencekik dan memaksa untuk menggadaikan sisa kemanusiaan agar bisa terus hidup. Bukan bermaksud menyalahkan hidup yang keras, namun demikian nasib yang harus dijalani oleh banyak saudara disana, jikapun ditanya siapakah yang bersalah, saya tidak mampu menjawabnya.

Himpitan ekonomi kah yang menyebabkan mereka berbuat demikian?

Lalu bagaimanakah dengan para elite di sana *sambil nunjuk2 gedung DPR*  Apakah karena himpitan ekonomi yang membuat mereka menipu dan merampas para penumpang bodoh macam kita ini? Mereka yang mengiklankan partai bus mereka yang paling baik dan mencapai tujuan paling cepat? Namun ternyata kita, setiap pemilu, selalu dibawa ke tempat yang salah, ke tempat yang lebih menderita?

Ah Entah kenapa, Setiap mendengar kata terminal, atau berada diantara deru bising kendaraan di terminal, saya selalu kangen rumah. Ingin pulang.

Sampai kapan kau akan bertahan
Dicaci langit tak sanggup menjerit
Hitam awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan sadar engkau gentar

Berandal Malam Di Bangku Terminal – Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )

33 Responses to “Terminal”

  1. almas Says:

    eh bisa pertama iks disini lagi:mrgreen:

  2. cK Says:

    ini orang akhir-akhir ini rajin amat posting😕

    udah kelar skripsimu nto?😀

  3. almas Says:

    kalo denger lagu ini aku kok ngebayangin terminal jojga yg lama ya🙂 cocok banget dengan lagunya.. kalo terminalnya sby sih masih mending dikit hehehehe

  4. arya Says:

    kangen pulang terus…
    rampungkan dulu ku……….
    *dibekap

  5. d'King Says:

    Terminal Net di deket KuFC Selokan Mataram saja nTo😀

  6. 'K, Says:

    saya lam kenal aja dah
    hiks,,hiks

  7. deKing Says:

    Di beberapa blog kok terlihat komentar2 yang hampir bersamaan dari cK, Almas, Arya, ‘K, dan deKing ?
    Ketahuan kalau itu adalah para makhluk malam peserta conf

  8. mardun Says:

    kalau aku pulang ke kampung halaman nggak lewat terminal tapi lewat pelabuhan.

    Btw di terminal memang kita bisa melihat potret kehidupan kota.
    ada yang kaya, ada yang miskin
    ada yang kerja keras (sopir) ada yang bondo cangkem (calo)
    ada yang juga yang memancing di air keruh (copet)
    ada yang bingung mau naik bus mana (sarjana muda IPK 3,8😛 ) karena gak pernah tahu medan dan lama di menara gading😛
    ada yang sudah kerja mapan tapi karirnya gak naik-naik (petugas peron)
    dll

  9. deep Says:

    Iwan Fals mania juga?? udah lama gak ke terminal… kalo di terminal jadi teringat waktu jaman gak enak dulu…

  10. Onga Fetro Says:

    Mas Ato, nggak perlu lagi deh ngelirik “DPR”, gak ada yang bisa diharapin dari mereka2 itu!

  11. venus Says:

    kok bolak balik bolak sambat pengen pulang? kalo kangen rumahnya gak bisa ditahan lagi, pulang aja lah sebentar. recharge, recharge!

    walah, tumben kita serius2an, huahahah….

    ANTO KATANYA KE JAKARTA LAGIIIII… MANAAAAAAAAA???????

  12. caplang™ Says:

    jadi, gedung dpr = terminal?😆

  13. kangguru Says:

    mau ganti usaha jadi calo atau kernet bis nTo???

  14. mitra w Says:

    gw klo di terminal males banget dengan pengamen… “music is for soul, not for sale” ^_^

  15. erander Says:

    Jadi ingat film Terminal yang dibintangi oleh Tom Hanks yang diangkat dari kisah nyata.

  16. Luthfi Says:

    kerjain dolo skripsinya

    *sampe bab 4*

  17. rd Limosin Says:

    we… klo ak inget terminal = inget kejadian yg mengerikan cpt pencopetan, rampok, dll yg negatif

  18. aad Says:

    kalo kangen ya pulang aja


  19. Hmmm…potret kemalangan bukan hanya ada di terminal, Nto. Bahkan di tempat semaksiat lokalisasi pun, ada poteret yang membuat miris hati..


  20. kangen rumah…apa kangen mantan pacar pas SMP?


  21. kalo inget terminal, aku mesti inget cewek tomboy berseragam SMA yang nampar muka seorang calo bus di terminal Purabaya..

    ah…
    sudah lama sekali itu…
    😳

  22. danalingga Says:

    waduh, lagunya favorit gue banget nih. *sambil berdendang di terminal senen*


  23. Itulah potret masyarakat grass root, Kang. Menurut hemat saya tuh, terminal itu tempatnya transaksi “kemaksiatan”.😀 Khususnya bagi mayarakat kelas rendahan. Nggak peduli kondektur, kernet, penumpang. Mereka yang berduwit, apalagi mereka yang sering lantang suaranya hanya pada saat kampanye itu, kan nggak mungkin transaksi di terminalan. Ini artinya, terminal bukan semata-mata tempat transit bagi calon penumpang, tapi sudah memiliki kegunaan lain yang lebih rumit and kompleks. Ok, salam.

  24. kai Says:

    wah… klo inget terminal mah… inget kejadian palak-memalak di terminal di kampung sana…
    jadi inget waktu dulu itu daku di todong pake piso trus di suruh ngeluarin seluruh isi dompet, tapi apa mo di kata yg di palak cuma anak smp yg ga ada duitna. jadina si tukang palak cuma dapet duit 500 perak :p
    wakakakakakakak…

  25. telmark Says:

    Cerita rakyat, jelas2 merakyat. dgn lagu rakyat, berikut dgn kebiasaan rakyat. (tunjuk2 gedung wakil rakyat) 🙂
    saya seorang rakyat yg suka banget dgn posting spt ini.
    hidup terminal rakyat.

  26. zam Says:

    aqua dingin, tahu, tahu, tahu…
    aqua dingin, tahu, tahu, tahu…
    aqua dingin, tahu, tahu, tahu…

    aquanya, om? *nyodorin botol minuman sambil melotot*

  27. Sugeng Rianto Says:

    Hiduup OI Iwan fals….[jingkrak-jingkrak]
    lho bukan lagi konser toh?! ealah tak kira ada konser disini.
    [**penonton kecewa**]😥

  28. pelbis Says:

    Terminal… ingat pulang kampung
    Terminal bagi saya, ingat keramaian.
    Maklum nggak punya kampung🙂

  29. erander Says:

    @ Mrs.Neo Forty-Nine

    Cewe yang nampar itu siapa ya?

  30. diditjogja Says:

    (kompetitornya zam)

    aqua…mijon (mizone dibaca mijon.red)
    aqua…mijon
    aqua…mijon
    aqua…mijon

    bakpia…bakpia…buat oleh-oleh….
    bakpia…bakpia…buat oleh-oleh….
    bakpia…bakpia…buat oleh-oleh….
    bakpia…bakpia…buat oleh-oleh….

    *gak nawarin ke anto, paling juga gak kuat beli….xixixixixi*

  31. mina Says:

    aku suka terminal. terminal bis. terminal kereta (oh itu stasiun ya?) terminal busway. terminal pesawat. terminal angkot. terminal ojek. terminal becak. saya suka semua.

  32. bay.prihant Says:

    Bang Iwan For President…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s