Si Manis

Maret 27, 2007

Ketika si manis merangkak naik…semua orang dibuat kelojotan.
Si manis
yang tak lagi murah harganya.
Si manis yang sering dituduh jadi biang penyakit.
Si manis yang biasa bikin ibu2 kalang kabut.
Si manis yang tarif harganya semakin melambung tinggi.

Kabar harga gula naik, sudah menjadi berita basi di negeri ini. Seperti halnya berita kenaikan kebutuhan pokok lainnya yang setiap hari membuat pusing ibu2 rumah tangga pengatur uang belanja padahal stok dari suami yang ndak ikut2an naik.

Produksi gula dalam negeri pun tidak bisa di andalkan. Pabrik yang di bangun dari jaman Kolonial Belanda, tentunya mesin2 yang ada juga sudah lanjut usia. Sehingga produktivitas mesin2 gula itu semakin menurun, penggantian suku cadang pun hanya di-kanibal-kan.
Laju produksi dari pabrik2 tua itu pun semakin ngos-ngosan ketika harus memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Demikian halnya yang terjadi di sektor hulu, perkebunan tebu pun semakin menyempit. Komposisi kepemilikan tebu di negeri ini adalah 50% perkebunan rakyat, 30% perkebunan swasta, dan hanya 20% perkebunan negara (Sumber :Kantor Pemasaran Bersama PTPN). Wilayah perkebunan tebu di Indonesia awalnya hanya berfokus di pulau Jawa, namun saat ini banyak dikembangkan di pulau2 luar Jawa. Mungkin hal ini terjadi karena tanah2 di Jawa semakin banyak digunakan untuk membangun mall dan real estate?

Di sektor hilir pun tak kalah ruwet, pengguna gula di kalangan industri lebih memilih gula rafinasi untuk produksinya. Alasan jaminan kualitas serta harga yang murah menjadi alasan pemakaian si manis dari luar negeri ini. Bila tak dibarengi dengan peningkatan kualitas produk nasional, maka penggunaan gula rafinasi impor ini akan semakin mematikan pasar gula nasional.

Sebuah kabar baik pernah terlontar dari keluarga kaya pendiri perusahaan rokok Sampoerna, yang setelah menjual sebagian besar saham senilai US$ 5,2 Milyar ke monster perusahaan multinasional Phillip Morris, berencana menggunakan uang hasil menjual saham perusahaan untuk investasi di bidang industri Pertanian, diantaranya adalah Gula. Namun sayang,kini realisasinya adalah lebih kepada komoditas Sawit.

Gula manis yang terasa semakin pahit (harganya) ini adalah buah dari amburadul serta acakadut-nya sistem perniagaan gula di tanah air. Berita terakhir datang dari pemerintah yang ternyata tidak bisa melakukan operasi pasar gula ketika harga si manis ini mulai merangkak naik. hal ini dikarenakan tidak adanya stok gula nasional. edyan! Kebijakan impor pun juga menjadi sangat tidak populer saat ini.

Lalu apa yang dilakukan pemerintah yang tak punya stok itu? Memberlakukan patokan harga (HET=Harga Eceran tertinggi) di tingkat penjual.

Namun apakah kebijakan pemberlakuan HET efektif? Jelas tidak. Spekulan yang memiliki uang tentu melihat kondisi ini sebagai peluang bagus untuk menimbun stok gula yang dimiliki. Belakangan ini ada sebuah operasi pasar digelar oleh sekelompok asosiasi pedangang gula. Semoga niatan mereka ini benar2 tulus, bukan memanfaatkan keadaan.

sssttt..menurut sebuah sumber, stok gula nasional itu sebenarnya ada lho. Cuma memang ada di tangan para pedagang2 besar, yang diidentifikasi sebagai delapan samurai. ndak banyak yang tahu tentang mereka. hihihi. delapan samurai? adakah hubungan dengan Jepang? wah saya ndak tahu, tapi yang jelas mereka itu memetik untung Rp 500/Kg, bayangkan kalau kuota impor minimal 500.000 ton = 250 milyar! hahaha… cukup untuk membelikan 20 laptop untuk setiap anggota DPR, biar bingung pakai laptop-nya! pakai satu aja belum tentu bisa…

24 Responses to “Si Manis”

  1. leeloos Says:

    Kirain lagi cerita tentang si manis jembatan ancol

  2. ..:X W O M A N:.. Says:

    Tiwas mesem-mesem jebule Gula tho,
    La ya begitu namanya juga Indonesia…. 😦

  3. deKing Says:

    Ada apa denganmu To’?
    Kok tumben serius gini?
    Gak usah pakai gula…tinggal mbrakot tebu saja To’

  4. ..:X W O M A N:.. Says:

    @ deKing
    Mbrakot ?? wakakaka pada’ke pengerat 😛

  5. deKing Says:

    @xwoman:
    Kalau untuk anTOBIL memang bagusnya pakai kata2 yang kayak gitu 😀
    @Anto:
    anTOBILang KOWÉ ya?
    NB:
    KOWÉ=anak mu….???

  6. peyek Says:

    gula, pemanis, ini mahal karena pejabat juga memakainya untuk mengusap congor mereka sehingga semakin terlihat dan terdengar manis saja ocehan mereka

  7. traju Says:

    si manis jembatan ancol sexy broo…

  8. Ken Reidy Says:

    cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara

    Begitu kurang lebih amanat UUD negara ini. Tapi kok rasanya kalo di telusuri satu-persatu, kabanyakan bukan dikuasai oleh Negara yak??? tempo hari urusan beras, sekarang gula. Belum lagi yang laennya.

  9. Anak Sultan Says:

    gula semakin mahal, semakin banyak orang kena diabetes, lho hubungannya apa? karena pemanis buatan yang lebih murah dipakai produsen makanan, kurang bisa dicerna tubuh akibatnya muncul penyakit…dan masalah seterusnya berlanjut…biaya dokter…biaya obat…biaya rumah sakit…d l l

  10. Lintang Says:

    Tak kira tadi si manis itu kucing loh. Soale dulu kucingku namanya si manis 😛
    Hmm kapan ya kudenger berita…jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penururan drastis dan ini nyata2 terbukti, anda bisa menyaksikan d layar kaca anda…skr ini sdh tdk ada lg penduduk yg miskin dan kelaparan…hahaha pagi2 udah mimpi…

    *balik kerja lagi ah*

  11. kangguru Says:

    bagi saya sich ini kelihatannya good news, anto dah mikirin gula, sudah siap-siapkah jadi kepala bulog rumah tangga ???

  12. Evy Says:

    ndengaren anto ngurusi gula biasanya ngurusi skrinsyut sing manis2… menurutku ga baik minum gula banyak2 bikin diabet, orang indo ini banyak banget yg kena diabet

  13. Amd Says:

    Bagus To, bisa jadi bahan penelitian buat skripsimu juga nih!

  14. Arie Says:

    Ngapain ngurus harga gula yang melambung, tapi ngurusin ladang tebu aja yang dah makin langka n mulai ditinggal petani… Tapi gak pa2 itung-itung buat ngeindarin gejala kencing manis.

  15. venus Says:

    berapa harga gula sekarang, pak? wis, gak usah dipikir. nggambar wae teroooossss….

  16. manusiasuper Says:

    saya kirim fot saya ya to, lumayan manisnya bisa nggantiin gula..
    sambil minum teh, liatin aja fotonya,,,

  17. klikharry Says:

    SI MANIS JEMBATAN ANCOL TO…ha..ha…

  18. grandiosa12 Says:

    gula gula cinta – elvy sukaesih

  19. antobilang Says:

    # leeloos
    tadinya saya mau cerita ttg si manis yang sering naik Cipaganti Travel, mbak!
    😉

    # ..:X W O M A N:..
    hahaha…siapa yang mesam-mesem? untung bukan mesam-mesum!

    # deKing
    ini masalah serius kawan! serius! ini menyangkut kejayaan Bangsa Indonesia!
    *apa sih*

    …tinggal mbrakot tebu saja…

    hahaha…memangnya saya ini bajingan (tupai) ya?

    # peyek
    iya mas, biar semakin manjur untuk memberi janji2 manis untuk rakyat, apalagi 2009 tinggal sebentar lagi ya?

    # traju
    sexy mana sama komentator pertama itu?hihihi

    # Ken Reidy
    dulu gula sempat diurusi ama bulog tapi kemudian diserahkan ke swasta yang memiliki ijin IT (importir terdaftar). ya jadinya gitu deh.
    yang benar itu dikuasai oleh aparat2 pemerintah mas, cuma ya bungkusnya aja pakai perusahaan2 swasta itu…

    # Anak Sultan
    hahaha…memang ruwet ya pak kalo disambung2kan gitu…
    sayangnya para pembuat keputusan di negeri ini otaknya ndak sampe kalo mikir sampai segitu..

    # Lintang
    mbak lintang nggak ketipu ama judul kan?biasanya saya yang ketipu ama judulnya situ hehehe

    # kangguru
    sudah siap-siapkah jadi kepala bulog rumah tangga ???
    siap sih sudah, tinggal milih siapa yang jadi ibu rumah tangganya pak! wakakaka

    # bu Evy
    hayah! masa bu, cowok manis ngomongin yang manis2 kok dibilang ‘ndengaren’?
    (catt : ndengaren = tumben)

    # Amd
    hahaha..skripsi lagi..skripsi lagi..
    btw thanks bang!

    # Arie
    lah ya itu…petani dah males nanem ganja tebu, itu salah satu alasan kenapa industri gula dalam negeri empot2an! stok tebu menipis, mesin peralatan udah layak masuk museum, pemasaran amburadul, negara nggak bisa ngapa2in, aktor2 berduit semakin kaya!

    # venus
    hayyah! simbok-simbok….

    # manusiasuper
    memangnya ada gitu, teh rasanya asin/sepet?

    # klikharry
    hahaha..manis mana sama perawat yang kau kejar2 itu?

    # grandiosa12
    malah nyanyi! ayo kembali ke the..sis!

  20. ndarualqaz Says:

    keduapulux hehehehehe.

    cara terampuh kita kirim aja pasukan semut buat nyari persediaan gula yang disembunyiin.

    dan ngomong soal laptop, saya trackback ya.

    http://ndarualqaz.wordpress.com/2007/03/29/kembali-ke-laptop/

    ini bukan ngomongin tukul, janji saya

  21. klikharry Says:

    aku yakin manisan punyamu to…
    ditaburin gula ya to…he..he…

  22. super kecil Says:

    kalo harga gula tebu mahal, coba pake gula pisang
    lebih ekonomis… n anti diabetes…
    tapi belom ada penelitiannya….
    besok bakal kuteliti…
    hahahahaha….

  23. antobilang Says:

    # ndarualqaz
    hahaha…sayangnya semut2 masih takut sama tikus2 berdasi mas…
    btw itu postingan kok pake CAPS-LOCK semua???

    # klikharry

    aku yakin manisan punyamu to…

    ya iyes lah! jelang dos! (ya iya lah/jelas dong!)

    # super kecil
    waw boleh juga tuh ide-nya? btw superkecil emang anak mana si? anak teknologi pertanian juga po?
    ada alternatif lain yang udah banyak berkembang yaitu gula cair dari singkong…

  24. super kecil Says:

    bukan pertanian
    tapi.. tertarik ke bidang itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s