Khutbah oleh Secarik Kertas

Maret 23, 2007

Sambil mendengarkan khutbah jum’at, karena juga tak kebagian tempat di dalam masjid. Saya duduk disekitar pohon rindang kembali ke pohon disamping masjid, bersama2 jamaah yang lain. Memang biasanya begitu. Suara sayup2 dari khotib semakin menina bobo-kan jamaah yang lelah. Ditambah angin2yang bertiup sepoi2 semakin mengkondusifkan suasana untuk terlelap. Karena saya ikut di halaman masjid, dan kebetulan depan masjid adalah kantin dimana banyak berseliweran wanita2 berpakaian sopan namun menggairahkan dan tidak sopan yang sangat menggairahkan. *apa sih* Sehingga dibagian depan di sekat dengan pembatas dari kayu, dengan demikian para jamaah diharapkan bisa lebih berkonsentrasi.

Tepat di depan saya ditempel sebuah buletin, sambil melawan rasa kantuk saya iseng membacanya. Wah ternyata sebuah cerita.

Dikisahkan  ada seorang ibu, yang hendak naik sebuah pesawat terbang. Demi menjaga agar tidak tertinggal oleh pesawat, si ibu datang lebih awal. Beliau sejenak membeli kue di sebuah counter makanan, dan dibawalah bungkusan kue2 tersebut ke dalam ruang tunggu. Sambil membaca sebuah novel (bila setting cerita ini terjadi 1 taun lagi, bisa jadi ini buku punya tante venus, mana mungkiiiinnn????) si ibu menunggu keberangkatan pesawat yang hampir selalu ditunda. Begitulah keadaan transportasi di negeri ini, semua calon penumpang sudah memahaminya.

Di sebelah kanan tempat duduk si ibu, ada seorang laki-laki yang (kemungkinan) juga sedang menunggu keberangkatan pesawat. Sekilas si ibu melihat bahwa laki2 di sampingnya ini mengambil makanan dari sebuah tas kertas di samping duduknya. Kali pertama itu dibiarkan oleh si ibu, awalnya si ibu berfikir; ah, mungkin saja si laki-laki ini sedang lapar.

Namun tidak berhenti sampai di situ, di laki2 tadi mengambil kue tersebut untuk kedua kalinya. Si ibu berfikir ; apa mungkin benar2 sedang kelaparan dan tak punya uang untuk membeli, kasihan. Takut kalau kuenya habis oleh si laki-laki ini, maka si ibu juga mengambil kuenya tanpa melihat ke arah laki2 itu. Mungkin pikiran si ibu waktu itu; biarlah kue2 ini dimakan si laki2 asalkan aku juga dapat ^_^.

Di liriknya ke kantong kue itu, kue tinggal tiga. Si ibu secepat kilat menyambar satu kue, tak kalah cepat si laki-laki juga mengambil satu. Si ibu kemudian berfikir lagi; kurang ajar sekali si laki-laki ini. Benar2 tak tahu malu, sudah tau pemiliknya ada disamping kue, kok berani2 nya mengambil, tanpa permisi lagi.

Sekarang hanya satu kue yang tersisa.

Si ibu mulai berfikir; ambil, tidak. ambil, tidak. Setelah agak lama, laki-laki itu tak bereaksi apa-apa. Mungkin menunggu si ibu, atau sudah kenyang. Entahlah. Si ibu kemudian memutuskan untuk mengambil sisa kue itu.

Ketika tangan si ibu mendarat tepat di atas kue itu, tangan si laki-laki juga tepat memegang salah satu sisi kue. Sesaat diam, si ibu enggan melepaskan. Begitu juga si laki-laki. Karena sama-sama kuat menarik, kue itu terpisah jadi dua bagian. Si ibu dapat setengah, begitu pula dengan si laki-laki.

Melalui pengeras suara di dalam bandara, disebutkan nomor penerbangan si ibu, sambil bergegas masuk ke pesawat. Tak dipikirkan lagi tentang si laki-laki yang mengambil kue tadi. Menengok pun tidak.

Sampai di atas pesawat, sambil menyiapkan sabuk pengaman, si ibu tiba2 terkejut. Tangannya meraba tas yang sedari tadi dibawanya. Sejenak jantung si ibu seperti berhenti berdetak, sesaat darah si ibu bagai berhenti mengalir.

Ternyata kue2 yang dibeli si ibu menjelang masuk ke bandara di counter makanan tadi masih ada di dalam tas. Utuh. Si ibu sangat menyesal, sudah berburuk sangka terhadap laki-laki tadi. Tapi bagaimana mau meminta maaf, pesawat sudah melayang di angkasa.

Cerita ini begitu mengilhami saya, bahwa sering sekali kita menganggap orang lain telah merebut hak kita, padahal di saat yang sama kita sedang menangguhkan hak orang lain. Saya bisa petik hikmah yang mengena dari sesobek kertas karena tak jelas mendengarkan khutbah siang itu. Entah karena saya berada di luar masjid atau pengeras suara yang kalah dengan gemuruh tawa wanita2 yang sedang menggosip di kantin.

16 Responses to “Khutbah oleh Secarik Kertas”

  1. peyek Says:

    Nah, anda mendapat pencerahan yang secara special disajikan oleh Tuhan khusus buat anda, selamat deh, ikutan ngambil hikmahnya ya!

  2. helgeduelbek Says:

    Tok minggu depan kalau niat jum’atan gak boleh mengerjakan hal2 lain selain mendengarkan khotib berdendang😀 Khan begitu pesan sesaat khotib naik ke mimbar.😀 kalau nggak bisa sambil bawak laptop bisa diisi ngeblog nu.

  3. cakmoki Says:

    Hayo diingatkan pak Guru tuh, Mas Anto.
    Tak kira mau cerita isi khotbah😀

  4. de King Says:

    Jangan beralasan gak kebagian tempat dech, paling juga kamu yang sengaja telat biar bisa lihat wanita2 berpakaian sopan (dari celah2 kayu pembatas)…
    Ehh…lagi khutbah kok malahan baca, dengerin tuch khotib😀
    Walau yang dibaca adalah suatu buletin yang bisa memberikan pencerahan tapi kan bisa dibaca setelah Jumatan…
    *Ayo turun, jangan nagkring saja!Kembali ke kandang sana!!*

  5. kakilangit Says:

    masih untung mas anto bisa dapet sesuatu yang bisa dibagikan ke kita, lha kalo aku ketiduran tuh😀

  6. CLO Says:

    pernah baca nih cerita… tapi gak saat org khutbah jumat😀
    btw kenapa kita pada umumnya, saya pada khususnya… banyak yg mengantuk saat khotib naik mimbar dan mulai berkhutbah, padahal sebelum khotib naik mimbar kita fresh2 aja
    tanya kenapa? tanya kenapa!

  7. antobilang Says:

    # peyek
    jangan2 itu teguran sayang dari Tuhan ya, mas?

    # helgeduelbek
    siap pak guru…
    wah kalo bisa bawa laptop asik tuh pak guru, nyambi nulis intisari khutbah buat di posting…waa….seru…*bletakk*

    # cakmoki
    iya pak, waktu itu kan saya juga ga denger apa2 dari si khotib pak…pelan banget tauk! *halah alesan*

    # de King
    benar mas, saya benar2 telat lho..supe deh..dan itu setiap jumat pasti telat
    *tertunduk manis*

    paling juga kamu yang sengaja telat biar bisa lihat wanita2 berpakaian sopan (dari celah2 kayu pembatas)…

    ngintip ya? wah bisa bintitan matanya, mas…

    *Ayo turun, jangan nagkring saja!Kembali ke kandang sana!!*

    lah kamu kok ngasih komentar pake bahasa tumbuh2an sich?

    # kakilangit
    iya mas, biasanya saya juga sempet ketiduran kok mas, apalagi kalo di deket kipas angin, mak nyosss…

    # CLO
    dan ntar pas abis sholat jumat juga ilang ngantuknya…
    apa gara2 tema yang dibawakan khotib cuma “itu-itu” aja mas?
    lha ya memang kudu begitu, kan selalu nasehat tentang taqwa…
    eh tapi di kampusku, ada lho khotib yang kalo khutbah ga mbosenin…

  8. Mr. Geddoe Says:

    Wah, kebetulan. Saya baru baca cerita ini versi bulenya sekitar dua-tiga hari yang lalu😛

    Tapi, ibu-ibunya diganti gadis muda, dan kuenya diganti cookies😀

  9. ivan Says:

    aku pernah juga ngalamin yang kayak gitu.. nyesel banget.

  10. manusiasuper Says:

    yang khotbah siapa to?

  11. antobilang Says:

    # Mr. Geddoe
    hehe… itu saya ceritakan ulang, semoga bisa bermanfaat.

    # ivan
    ngalamin yang mana mas? jumatan baca buletin atau kayak si ibu?
    hehe..salam kenal.

    # manusiasuper

    yang khotbah siapa to?

    khotib. wakaka

  12. Evy Says:

    anak baiiik…sholat dengerin crita lengkap, ditunggu crita jumatan minggu depan ya anto…, lha kamu kemarin sudah ngambil kue-ku hayyooo ngaku…hihihihi

  13. antobilang Says:

    # bu Evy
    hehe..tunggu jum’at depan ya bu..entah nanti saya baca apa..asal ndak ketiduran atau malah mbaca tulisan di punggung orang yang pake kaos dagadu..wakakaka

  14. kurtubi Says:

    Kayanya perlu diinterpretasi lagi dong yaa hadits Nabi saw dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi katanya bersabda: (hadits ini dibaca rutin – makanya saya hapal – setiap khatib naik mimbar)
    إذا قبت لصاحبك انصت يوم جمعة والإمام يخطب فــقــد لغوت _ رواه البخاري ومسلم
    “Jika khatib tengah berkhutbah, kemudian salah seorang berkata kepada temannya “diamlah” maka jum’atnya gugur… (HR. Bukhary Muslim)

    salam kenal kenal mas antobilang… (anto sang penutur — kayanya ini lebih enak deh mas)

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    antobilang :
    hehe..khusus pak kurtubi/santribuntet boleh deh panggil saya anto sang penutur…hehe
    wadoh…iya deh pak, nanti diresapi lagi haditsnya😀

  15. Luthfi Says:

    @ 7 : lebih enak lagi kalo di mesjid ada hostspotnya …
    solatnya 5 menit, ngenetnya sampe pagi … hihihihihi …..

    *melengggang santai*

    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
    antobilang :
    hahaha…hya..bisa2 aja tuh, ntar kan masjidnya jadi banyak dikunjungi..hehehe

  16. acungster Says:

    waduh…. ambul hikmahnya aja deh… betawi blogger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s