cerpen : bening

Januari 4, 2007

cerpen picisan : BENING

Semuanya bermula dari jeritan seorang pecinta. Pecinta sejati yang menangis kala malam membalut semua pandangan menjelang peraduan mimpi. Gemintang yang sendu datang meredup dan hilang bersama angin malam yang terasa menusuk-nusuk tulang. Rintik hujan yang jatuh dibentangan kepalaku yang agak botak terasa bagai jarum-jarum tajam yang hendak menembus, dan membongkar semua cerita yang tersimpan di kepala.
Aku Diar. Aku hanya serpihan dari cerita ini. Tersingkir dari permainan. Permainan hidup yang dimana pemenang selalu datang dan pergi. Dan sang pecundang akan terbuang dalam injakan-injakan sang waktu. Namun bukan selalu pecundang yang akan menyingkir, namun terkadang sang pemenang akan sementara menyingkir, membaca situasi, dan akan terjun kembali. Ah, kita tidak sedang berbicara menang atau kalah. Kita sedang bicara cinta, yang karena cinta, maka orang (oleh dirinya sendiri) akan menghukum dirinya menjadi pecundang atau menghadiahi gelar sebagai pemenang, sekali lagi : oleh dirinya sendiri.
Adalah Lita, gadis manis yang selama 3 tahun ini terus saja membuat malam-malamku menjadi malam penuh pertanyaan-pertanyaan bodoh. Setiap detik senja akan berganti malam, aku takut. Aku takut sekali saat malam datang. Karena saat malam mulai menjelang aku pasti akan menjumpainya di mushala dekat rumahku. Aku takut bertemu dengannya. Dia bukan hantu. Kalaupun hantu, setiap orang pasti juga ingin berlama-lama dengannya. Namun saat malam semakin larut dan pagi datang, aku tak bakal melihatnya. Karena itu aku takut akan malam, namun aku juga benci dengan pagi.
****
”Apa??!!!!” Teriakku malam itu saat Lita usai bercerita padaku.
Lita menyembunyikan wajah sendu dan manisnya dalam dekapan mukena yang berenda indah. Pemberian Mohan, yang menjadikan malam-malam Lita menjadi malam penuh pertanyaan-pertanyaan bodoh. Ah, keadaan yang aneh. Iya, Lita sangat mencintai Mohan, bahkan dengan alasan itu dia tak pernah melihat ketulusan yang aku simpan rapat-erat di balik hatiku. Aku juga tak pernah tahu, apakah Lita tahu perasaaanku padanya. Biarkan perasaanku ini hanya aku ceritakan kepada aliran sungai di bawah pohon rindang diseberang kampung, yang setiap hari menemani resahku memintal kerinduan untuk Lita.
Malam itu Lita bercerita tentang Mohan, pujaan hatinya yang telah menghianatinya.
”Ar, kenapa Mohan tega menghianati aku?Apakah aku telah bersalah padanya?” Tanya Lita dan kali ini sepertinya diapun tahu aku tak kan mampu menjawabnya. Lidahku kelu.
”Ga ada yang salah, semua ini sudah menjadi suratan yang Kuasa, kamu harus tabah ya..” Aku coba meyakinkan Lita meski kata-kata itu keluar begitu saja. Tak dipikir. Dan itu tidak berhasil, dia semakin tersedu. Aku beku. Bungkam. Sekian menit tak sepatah kata pun bergema.
Ya, Mohan yang dicintai Lita, bahkan sejak Lita belum mengenal arti cinta. Baik keluarga Lita maupun keluarga Mohan adalah rekanan bisnis yang cukup terkenal di kampung ini. Sehingga sudah menjadi rahasia umum, bahwa Lita dan Mohan akan dijodohkan ketika kelak dewasa. Satu-satunya orang di kota ini yang tidak pernah setuju dengan perjodohan ini adalah aku, Diar sang pecundang.
Sejak setahun lalu, Mohan menuntut ilmu di kota kelahiran orang tuanya di seberang pulau. Aku yang sejak awal khawatir tentang hubungan Lita dan Mohan. Namun bukan aku khawatir Lita yang akan menjadi istri Mohan kelak. Namun aku tahu sifat dan tabiat Mohan yang dikenal berkali-kali meninggalkan setiap wanita yang berhasil masuk dalam tipu dayanya. Dan Lita menutup mata. Memang Mohan tak pernah melepaskan Lita, namun juga tak pernah bisa melepaskan wanita-wanitanya. Aku cuma ingin Lita bahagia.
Dengan perginya Mohan keluar pulau, semakin lancarlah aktivitas Mohan menghianati Lita. Dan aku tak pernah sanggup mengutarakan hal ini kepada Lita, aku pikir pada saatnya nanti sang waktu pasti akan jujur. Dan sekian kali aku hanya bisa geram. Selalu begitu saja. Tak pernah bisa berbuat apa-apa. Dasar pecundang. Oh Iya, ada yang kurang, Pecundang yang bodoh.
Sampai akhirnya setengah bulan yang lalu, kampung kami gempar. Kali ini bukan karena pembagian dana kompensasi BBM yang memakan korban. Ah itu urusan elit di atas sana. Kali ini, berita menggemparkan tentang pernikahan di rumah Pak Kasim, ayah Mohan. Apakah kakak Mohan akan dinikahkan?Ah tidak. Kakaknya itu masih belum selesai kuliah. Lalu siapa?Ayah Mohan kah?hahaha…Tentu saja bukan, karena yang kamu baca ini bukan cerpen tentang poligami. Lalu siapa?MOHAN???Ah sial, pasti si bangsat itu menikahi Lita-ku…dasar aku yang Pecundang!!Hidupku pasti akan segera berakhir…
Oh..ternyata bukan!!!
Lalu siapa?
*****
Lita masih menangis, mukenanya sudah hampir seluruhnya basah.
”Mohan bilang kalau dia tidak mencintai wanita itu…” Isak Lita dari balik mukena yang menyembunyikan wajah cantiknya.
”Tapi kenapa dia setega itu kepadaku?” Lita mengadu padaku dan tanpa pernah tahu hatikupun memberontak.
Mohan ternyata telah menghamili seorang wanita dari pulau seberang, dan berarti itu Mohan telah menghianati Lita-ku.
”Kenapa mencintai harus berakhir seperti ini?” Tanya Lita dan kali ini aku harus menjawabnya.
”Lit, kamu harus tahu…Ga ada akhir cinta yang bahagia ataupun sedih…karena cinta itu sendiri ga pernah berakhir..” kataku setengah sadar. Ah, tapi benar juga. Memang lebih baik aku mengigau saja, karena saat aku sadar, aku pasti akan menangis.
Percakapan ini berakhir. Malam sudah terlewati seperempatnya. Sunyi sudah merundung kampung ini, semua terlelap dalam khayalan masing-masing. Yang Lita tahu, dia hanya akan menyembunyikan wajahnya dari tatapan penuh tanya dari orang kampung. Lita yang harus tidak boleh disalahkan, harus ikut menanggung kesalahan Mohan, ah dasar Mohan!tapi aku bisa apa?Aku kan pecundang!
*****
Ibu-ibu di pasar terdengar berbisik-bisik. Ah bapak-bapak di pojokan juga ikut ngerumpi. Ada apa?
”Cucu pak Kasim kemarin mati saat dilahirkan.”
*****
Setahun kemudian….
Kembali lagi.ibu-ibu yang berbeda berbisik-bisik di tempat yang sama. Kali ini ada beberapa anggota per-ngerumpi-an yang baru. Ah dasar bapak-bapak juga tidak mau kalah. Mereka buat keadaan pasar seperti ajang ngerumpi. Ah mungkin kecoa dan tikut di got pasar pun ikut ngerumpi.
”Cucu pak Kasim yang kedua cacat.”
*****
”Ar, km bisa kerumah g?”
Begitu bunyi sms Lita yang dikirim ke telepon selularku.
*****
”Ar, aku udah bersalah banget, aku mau minta maaf.” Ucap Lita sambil memegangi sapu tangan yang sedikit basah. Menangis lagi.
”Aku pernah bersumpah kalau Mohan tidak akan bahagia dengan istrinya.” Lita masih menggenggam erat sapu tangan itu dalam sisa-sisa tangisnya.
”Tapi semalam aku berdoa, aku minta Tuhan mencabut kembali penderitaan kelaurga Mohan.” Lita menarik nafas panjang ”Aku sekarang sudah mengikhlaskan Mohan berbahagia dengan istrinya.”
Kali ini Lita menunjukkan senyumnya padaku. Hampir dua tahun ini aku tak melihat senyum indah yang menyejukkan itu.
Aku cuma diam. Serabut-serabut dalam otakku bersepakat untuk menjalin kesimpulan betapa beningnya hati Lita-ku.
Lita pun sebentar memegang tanganku. Darah dalam tubuhku sejenak berhenti berdesir.
”Ar, aku tahu kamu selama ini mencintaiku.”

Ketulusan bukan tak berbalas dengan cinta
Karena memang tak ada prasyarat yang akan menjamin cinta
Biarkan cinta tumbuh dalam taman hati
Dan bunga yang mekar akan menghiasi dengan keharuman
Meski sebentar dia kan layu
Tapi harum yang dia tinggalkan akan selalu bersemayam
Keikhlasan dalam menerima setiap keputusan Tuhan
Akan menjadi tameng paling kuat
Akan menjadi perisai paling dahsyat
Untuk melindungimu dari badai
Jangan berprasangka buruk terhadap ketentuan Tuhan
Karena setiap yang diberikan adalah milik-Nya
Jalani saja dan tetap bermimpi
Percaya atau tidak, di satu tempat sana, entah dimana
ada seseorang yang telah Tuhan persiapkan untuk kita.
Dan itu pasti yang terbaik.

cerita ini kupintal dengan detik-detik yang dingin, menggerus sedikit demi sedikit kekuatan mataku yang mulai melemah. Sejuta kata yang ingin terungkap, menjadi buih-buih cerita ini.

Iklan

4 Responses to “cerpen : bening”

  1. Evy Says:

    iyo suwer nggilani…tur nggembengi…. hihihi… atene komentar dowo ga mentolo ah, engko ada jidat menghitam gara2 mangkel hehehe…wis ah upright…

  2. rd Limosin Says:

    komentar 2

    //maklum, liat di Google Reader, blog ini ad 7 posting update terbaru

  3. zam Says:

    *gak baca*

    apa ini faktor Malem Minggu kemariN?

    *gosip mode ON*

    *nyalain kompor*

  4. xwoman Says:

    ini kisah nyata penulis ya???

    Rintik hujan yang jatuh dibentangan kepalaku yang agak botak

    Terbayar sudah rasa penasaranku kenapa Anto selalu pake topi, ternyata memang beneran botak ya 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s