Halaman Arsip 3

Titel ngetrend 2009 : Haji dan Hajjah.

Dini hari saat masih bergulat dengan deadline, tiba-tiba muncul pertanyaan dari seorang teman, Gage Batubara. 

Pertanyaannya : knp sih, mo nyalonin jadi presiden, namanya ditambahin jadi Hj. atau H?

Serangkaian kemungkinan mestinya muncul. Adalah hak dia, ketika sudah menunaikan Haji (perkara mabrur atau tidak, itu bukan urusan kita) untuk menggunakan titel H atau Hj di depan namanya. Tapi bisa jadi, ini digunakan untuk meraih minat pemilih Islam, yang kenyataannya berjumlah sangat besar di Negeri ini. Bahkan sebuah pasangan menyatakan ke-islaman-annya dengan masing-masing istri pasangan itu memakai jilbab.  

Untuk memenangkan hati rakyat, semua hal dilakukan. Agama sekali lagi jadi komoditas. Simbol-simbol dilucut-pasang sesuai apa yang dianggap pantas untuk ditampilkan. Titel-titel agamis itu mengingatkan saya pada sosok Mbah Harto yang mengimbuhi namanya dengan H.M. Haji Muhammad. Capres-cawapres sepuh itupun menirunya. Titel ngetrend 2009 : Haji dan Hajjah. 

Mari kita lihat satu-satu daftarnya :

  1. Hj. Megawati Soekarnoputri – H.Prabowo Subianto.
  2. H. Jusuf Kalla & H. Wiranto
  3. H. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono & Prof. Dr. Boediono.

Saya cari-cari kok ternyata pak Boediono gak ada titel Haji, yah? Ternyata ini karena Boediono adalah titipan IMF. :mrgreen:

Kibul-kibulan

Ada yang bilang Pemilu itu pesta demokrasi? Mbelgedes! Saya nggak percaya. Tapi kalau dibilang pemilu itu pestanya rakyat, bolehlah saya kali ini percaya.

Adalah sore tadi yang sedikit mendung, di sebuah pojokan gudang, saat kuli-kuli bongkar truk menunggu pergantian shift, sekilas ada cakap-cakap :

A : Aku mau ijin gak lembur malam ini. Di kampungku malam ini ada pertemuan Caleg #2 dengan warga. Caleg #1 kemarin pas ketemuan ngasih amplop dan beberapa bungkus rokok. Semoga malam ini juga ada, syukur-syukur lebih banyak.

B : Halah, biasa to kayak gitu, caleg ada maunya itu!

A : Ya biar aja, ini kan namanya juga pendapatan tambahan, to!

Apa yang sebenarnya terjadi antara caleg dengan rakyatnya ini. Apakah si caleg sedang berusaha ngibulin rakyat pake duit? Atau rakyat ngibulin caleg dengan pura-pura menyambut baik pen-caleg-an? Mbuh!

Apa ini tandanya rakyat makin peduli dan melek politik, karena mengesampingkan kerja lembur dan memilih pertemuan dengan caleg? Apa cuma karena amplop yang diselipkan sepulang pertemuan jauh lebih menggiurkan ketimbang uang lembur? Saya tidak tau!

Yang jelas, rakyat senang kalau ada uang dibagi. Soal kemudian nanti di bilik suara akan mencoblos kumis siapa atau gundulnya siapa, itu lain perkara. Perut harus segera diisi, anakpun sudah merengek minta dibelikan alat tulis baru.

NB : Gambarnya gak nyambung.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »