Sabtu Kemarin

Desember 11, 2007

Kumpulan kegiatan saya sabtu kemarin. Dilaporkan dengan nggak runut, nggak fokus, dan ngga jelas.

  • Blog for Beginners

Agenda yang direncanakan itu terlunasi sudah. Delapan komputer, dan dua session pertemuan. Satu blogger ngoceh di depan, dan beberapa yang lain langsung mendampingi di sisi kanan kiri peserta. Cara yang demikian ini dianggap paling efektif, mengingat tak semua orang cakap teknologi internet. :D

kalo kurang  gede, di klik aje..

Tak tanggung-tanggung, blogger sekelas antobilang, hermansaksono, sandalian, ekowanz, annots, pepeng, funkshit, pengki dan tikabanget berkenan untuk datang dan sudi berbagi pengalaman kepada para blogger baru peserta Blog for Beginners. Bahkan sebelumnya ada rencana akan kedatangan seorang penulis buku ngeblog, Fany. Buat sampeyan (yang sudah karatan di dunia blog) mungkin biasa. Tapi buat para blogger baru itu, tentunya hal luar biasa mereka ngeblog dengan dibidani oleh tangan-tangan ahli para blogger kawakan yang sudah malang melintang di dunia perblog-an. Hahahaha. Semoga semua ini tidak hanya terhenti pada persoalan biasa dan luar biasa karena dilatih oleh blogger kawakan atau bukan. Tapi semoga mereka para peserta baru itu bisa terus ngeblog dan memanfaatkan blog untuk berbagi dengan orang lain. Serta menyebarkan ajaran maut blog kepada teman-temannya di sekolah.

  • Sup Buah Bunderan UGM

Selesai acara, kami kongkow-kongkow sebentar di bunderan UGM untuk menikmati sup buah sialan, dan karena sudah sore beberapa lapak sup buah sudah kehabisan stock. Terpaksa kami memesan dari beberapa penjual. Tentu saja rasanya pun jadi tak seragam. Yang ada susunya pasti lebih mantap, yang tak ada campuran susu terpaksa menghabiskan es buah sambil membayangkan sup buah campur susu. *paragraf ber-tag dewasa* Tempat ini sangat saya rekomendasikan bagi sampeyan para jomblo yang hendak mencari pemandangan menarik sekaligus menikmati sup buah dengan dan tanpa susu. :mrgreen:

  • Oseng-oseng mercon

Malamnya kami mengadu keberanian makan pedas. Oseng-oseng mercon di jalan KH. Ahmad Dahlan jadi sasaran kami. Agenda utamanya menyambut Fany yang kebetulan sedang berada di Jogja. Ah, bukan bermaksud menyombongkan diri. Tapi dari kami berenam (sandalian, ekowanz, funkshit, antobilang, fany dan tikabanget), hanya saya yang berhasil menghabiskan satu porsi oseng-oseng mercon :evil:

Ekowanz menyerah sebelum bertanding dengan alasan masih kenyang karena sudah makan sebelumnya. Tika berusaha mengelabui teman-teman yang lain (agar tak terlihat takut kepada menu pedas itu) dengan bercerita beberapa kabar seru terbaru dari kunjungan Zam ke kesultanan BHI. Funkshit? tak jauh berbeda, dia berkali-kali menyatakan terharu dengan makanan itu sampai air mata kenikmatan berkali-kali diseka dari kedua bola matanya. Fany pun menggunakan trik tipuan tumpukan tissu untuk menyembunyikan jumlah porsi oseng-oseng mercon yang berhasil dia habiskan. Hanya perjuangan Sandalian yang patut cukup diacungi jempol karena ‘hampir’ menghabiskan seluruh porsi yang tersedia. Hahahaha. :evil:

Tapi pada akhirnya saya tersadarkan, bahwa menghabiskan seluruh menu oseng-oseng mercon ternyata tidak membuat saya hebat dan keren. Tapi malah membuat saya ‘mules-mules’ keesokan harinya :|

Postingan terkait :

Dompet

November 29, 2007

Apa isi dompet sampeyan sekarang? Berlembar uang bau wangi atau tumpukan kertas bon di warung? Atau malah surat cinta dari pacar sampeyan waktu SD? Atau sisa foto KTP untuk jaga-jaga bila ada fans minta foto? Jawabannya pasti tidak seragam, mestinya variatif.

Barang yang dalam bahasa inggris sama dengan nama seekor burung ini, seakan menjadi perlengkapan wajib bagi setiap orang. Bukan sekedar menyimpan uang recehan ataupun kartu identitas, namun sudah mengarah kepada gaya hidup manusia modern. Pengguna dompet ini bisa dibedakan menjadi beberapa golongan :

  • Sekelompok orang yang menaruh dompet di saku celana belakang. Krisis percaya diri yang sangat akut akibat bentuk pantat yang kurang menonjol bisa direduksi dengan memasang dompet yang tebal di saku belakang. Maksudnya mungkin untuk menambah bentuk seksi pantat yang bersangkutan. Sayangnya cara ini kerap kali menjadi sasaran empuk si tangan jahil. Pencopet bisa dengan sangat mudah mengenali calon korban karena pantatnya yang besar sebelah :P Untuk genre pengguna dompet saku belakang ini pada beberapa kasus menambahkan aksesoris rantai. Fungsinya tentu saja ingin melindungi si dompet dari pencopet usil. Tapi apa lacur, penggunaan rantai ini justru semakin mempermudah si copet melaksanakan aksinya. Karena dia tahu kalau dompet berada di belakang, jadi tidak salah meraba bagian depan :P

  • Sekelompok orang yang menaruh dompet di saku depan, bisa jadi karena ingin mengelabui copet. Karena di beberapa kasus pencopetan, korban akan mengetahui dompetnya hilang dengan telah sobeknya saku belakang akibat robekan silet. Sehingga dengan menaruh di saku depan diharapkan tak ada copet yang nekat menyobek saku depan pakai silet :P Lebih tepatnya dalam rangka meningkatkan kewaspadaan atas keadaan dompet yang sedang dibawa. Untuk jenis ini, biasanya tidak menyukai dompet yang sangat tebal. Bertipe minimalis. Cukup beberapa lembar uang dan kartu identitas. Karenanya isi dompet pun hanya untuk barang-barang yang sifatnya penting, dan mendesak. Alasan lain untuk tidak menebalkan dompet di saku bagian depan ini karena dikhawatirkan akan terjadi gesekan berlebihan dengan beberapa area sensitif. :mrgreen:

  • Yang terakhir, tidak punya dompet. Tidak mau menggunakan dompet, sama sekali. Ini aliran yang saya anut. Entah kenapa saya merasa risi kalau harus terpaksa menggunakan dompet. Alasannya saya sudah terlalu percaya diri dengan bentuk pantat yang saya miliki, masih terlalu seksi untuk standar ukuran saya. Hahahahaha. Apalagi untuk menambahkan rantai di dompet menurut saya kok malah jadi ribet, tidak praktis, dan bisa-bisa dituduh mencuri rantai milik anjing tetangga. Sedangkan untuk alasan dompet disaku depan, saya kok merasa itu sedikit ‘annoying’. Saya takut akan muncul getaran akibat gesekan berlebihan dengan beberapa personil garda depan :lol: Untuk jenis yang tidak memiliki dompet ini bisa mengakibatkan tuduhan kalo sampeyan itu orang bokek, ndak punya duit. Lalu bagaimana cara saya untuk membawa kartu identitas dan beberapa uang? Saya mempercayakan tas pinggang (langsung tanpa dompet!). Makanya kemanapun saya pergi, selalu membawa tas kecil dipinggang atau saya kalungkan.

Dari ketiga golongan tersebut tentu saja masih ada golongan-golongan lain diantaranya golongan yang senang menyimpan uang di area tersembunyi, biasanya daerah sekwilda dan beberapa bagian lain. Semua ditujukan untuk kenyamanan masing-masing pembawa uang.

Lalu kira-kira sampeyan termasuk penganut aliran yang mana?