Arsip untuk Kategori 'kuliner'

Bakmi Jawa ShockBreaker™

Bagi yang berdomisili di kota Yogyakarta, tidak asing lagi makanan bernama bakmi jawa ini. Untuk menikmati bakmi jawa, kita harus menyediakan waktu yang cukup. Karena untuk satu porsi bakmi jawa yang istimewa, dibutuhkan kurang lebih 20 menit untuk menunggu. Bahkan di warung bakmi jawa “sabar menanti“, kita bisa mengantri untuk 15 pelanggan. Tinggal dikalikan saja. Semakin terkenal dan semakin enak, tentunya semakin banyak waktu yang harus kita sediakan untuk menunggu hidangan bakmi jawa yang mantap itu. Dulu saya pernah berfikir, kenapa si penjual tidak sekaligus saja mencampur semua pesanan dalam satu wajan besar, sehingga semua pelanggan bisa terlayani dengan cepat. Ternyata tidak semudah itu, proses memasak dengan komposisi bumbu tepat untuk satu porsi, menjadikan hidangan bakmi ini menjadi istimewa. Atau mungkin karena menunggu sangat lama itu yang membuat bakmi ini menjadi istimewa? karena sudah sangat lapar mungkin?

brk3.jpg

Selama delapan tahun saya tinggal di Yogyakarta, satu warung bakmi yang membuat saya jatuh cinta kepada penjualnya rasa dan suasananya. Sebuah warung bakmi di jalan Mangkubumi. Kala siang hari, warung ini merupakan bengkel ShockBreaker™, baru kemudian ketika malam menjelang disulap menjadi warung bakmi. Saya mendapat informasi tentang warung bakmi ini dari salah seorang dosen saya. Ketika beliau di Jepang untuk shortcourse selama 1 tahun, beliau sempat saya kirimi email kalau saya barusan makan satu porsi hangat bakmi jawa di bakmi shockbrekker. Apalagi saat itu di Jepang sedang musim dingin, ah… saya bisa membayangkan betapa tersiksanya beliau kala itu :evil: Dan benar saja, saat beliau pulang ke Indonesia, malam harinya kita langsung cabut ke warung bakmi, dan beliau makan 2 porsi! :o Jadi bisa disimpulkan sendiri, buat yang berminat mencoba, awas kalau sampai ketagihan!

brk1.jpg

Seperti halnya warung bakmi jawa kebanyakan, menunggu satu posri untuk diolah merupakan kenikmatan yang menjemukan. Begitu satu porsi bakmi rebus datang, rasa malas kala menunggu seketika lenyap bersama sisa-sisa asap mengepul yang menandakan betapa nikmat bakmi ini. Sluurrrp….

Sampai ketemu di warung bakmi ShockBreaker™!

brk21.jpg

DATA WARUNG ” BAKMI ShockBreaker™ “

Alamat : Jl. Pangeran Mangkubumi
Arah : Toko Emas “Mulia” {ambil kanan} sekitar 200 meter {sebelah kiri jalan}
Harga : Rp 7.500,-/porsi
Durasi : 20 menit/porsi
Menu : Bakmi Jawa Godog/Goreng, Nasi Goreng, Magelangan.

Catatan : Minggu TUTUP

Nasi Jagung di Temanggung

Jalanan sudah senyap kala itu, jarum jam menunjuk angka sepuluh malam. Di sebuah sudut kota Temanggung, seorang ibu tua masih terjaga menunggu calon pembeli yang datang dan ingin merasakan nasi jagung. Saya sendiri sudah pernah merasakan nasi jagung sebelumnya di daerah kelahiran saya di Lampung. Berbekal kerinduan terhadap nasi jagung (seingat saya sudah 5 tahun lalu terakhir saya nikmati) maka saya putuskan untuk mampir menikmati nasi jagung. Kebetulan saat itu saya sedang dalam perjalanan dari kota Temanggung menuju kota Jogjakarta.

Nasi Jagung dari Temanggung ini cukup khas, yaitu berwarna putih. Setahu saya ketika di lampung, nasi jagung itu berwarna kuning. Ternyata memang nasi jagung ini dibuat dari jagung putih. Jagung putih ini merupakan salah satu kultur jagung yang sedang dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah diantaranya telah menghasilkan calon varietas jagung unggul putih dengan nama Maros Sintetik-2 (MS-2) dan Srikandi putih.

Nasi jagung ini dikenal sebagai nasi ampok/ampog di daerah kelahiran saya. Disajikan dengan urap kacang panjang dan ikan asin (layur) serta sambal tahu, rasanya benar-benar nikmat.

Ibu penjual nasi jagung ini bertutur, beliau telah berjualan sejak tahun 1980-an. Berlokasi di depan Bank Panin Temanggung, beliau menjajakan nasi jagung dari pukul empat sore sampai dengan pukul dua belas malam. Udara dingin kota Temanggung yang menusuk tulang tidak menghalangi niat kuliner para calon penikmat nasi jagung.

wahahhaa.jpg

 

ibuibu1.jpg        nasijagung2.jpg

Angin malam semakin tajam menusuk ke sum-sum tulang, sampai kemudian dini hari menjelang, si ibu berkemas pulang dan akan kembali esok hari memutar roda kehidupan.