9 Januari 2010 : Becak
Januari 9, 2010
Saya tidak bisa menghitung berapa kali becak menjadi obyek foto saya. Mungkin anda bosan, tapi saya tidak. Dan percayalah menjadi tukang becak itu pasti lebih membosankan; membosankan ketika mereka tidak memiliki pilihan lain, entah soal pendidikan rendah, kesempatan yang kurang baik atau nasib buruk(?).
Becak dengan segala kekhasannya memang turut serta menjadi bagian integral dalam kehidupan manusia kota, tak terkecuali seni. Maka ketika perhelatan Biennale digelar untuk kali ke 10, becak pun menempati jajaran primadona dalam berbagai karya. Sebut saja : Obama naik becak (di TBY, sempat direkonstruksi karena patah jatuh di jalan saat arak-arakan), pameran model-model tepong (sisi ban) becak yang unik di depan Hotel Melia Purosani, dan sejumlah besar lukisan serta foto dengan mengambil tema sentral si roda tiga ini.





Januari 9, 2010 at 8:18 pm
seumur2 baru sekali saya naik becak di jogja. itupun waktu bareng adik saya yang lagi main ke sini.
bukan apa2. gak tega aja liat orang genjat-genjot pedal becak sementara kita menikmati perjalanan.. walaupun dikasih duit bapak2 penarik becaknya.
Januari 9, 2010 at 11:14 pm
mana foto becak kuuuu :-w
:*
Januari 10, 2010 at 9:08 pm
Potretlah sesering mungkin. Ini khazanah kita. Mumpung masih ada. Bagian dari konten Indonesia, Nak.
Januari 11, 2010 at 1:51 am
maaf, OOT, saat berbicara soal becak, pernahkah dalam dilema seperti ini: satu ketika kamu sudah malas jalan, ingin naik moda transportasi, dan kebetulan yang paling pas–karena berbagai alasan–adalah becak. ketika hendak menghampiri, tukang becak itu adalah kakek renta yang lebih pas kamu layani, apa yang kemudian dilakukan? tetap naik atau batal?
ehehe, sori, nto, tiba-tiba terlintas hal ini….
syumonggolah….