Semoga bukan cuma saya yang ‘kuper’ sehingga tidak mengetahui keberadaan daerah miskin ini. Tambak Bayan yang menyimpan penggalan cerita tentang kemiskinan, sampah dan keterpinggiran. Saya yang lugu ini pernah beranggapan daerah macam begini cuma ada di daerah kejam ibukota Jakarta. Saat saya bosan dengan jalanan rupanya membuat mata saya menengok tumpukan sampah di jembatan Jalan Solo, sebelah Alfa yang sudah diakuisisi Carefour. Ada beberapa petak rumah dan ada aktivitas manusia. OMG, kemana saja saya selama bertahun-tahun di Jogja hingga melewatkan hal seperti ini?

Bantaran sungai Tambak Bayan ini bukanlah TPA semacam di Piyungan, tapi hanya pembuangan oleh masyarakat sekitar saja. Jumlah sampahnya cukup banyak, mengingat kawasan di sepanjang Jalan Solo ini memang kawasan ekonomi yang cukup kecang lajunya. Hotel-hotel berbintang, kawasan pertokoan hingga kampus memadati kawasan ini. Ibarat laron yang mengerumuni cahaya-cahaya petromaks, pemulung pun datang mengerumuni sampah-sampah dan memilahnya untuk didaur ulang.

Di tengah laju kemilau gemerlap kota Jogja yang makin glamour, keberadaan para pemulung menjadi sejumput rasa pahit dalam manisnya pembangunan kota. Masyarakat miskin kota, yang terpinggirkan dan terasing. Setiap hari dikaisnya sampah-sampah, yang oleh orang-orang kaya produsen sampah tak sempat dipisahkan. Merekapun berbaik hati memisahkan plastik dan kertas, dan ditukarkan dengan kehidupan.

Bersama keluarga, mereka tinggal dalam sekitar 40 rumah semi permanen. Tinggal bersama sampah-sampah kehidupan mereka. Lalat, bau busuk yang menyengat dan potensi penyakit adalah bagian dari cerita resmi tentang komunitas masyarakat pemulung. Sudah menjadi paket tak terpisahkan. Di saat para calon presiden peserta dagelan politik bernama Pilpres sedang memilih nomer urut di KPU, mereka bahu membahu memilih dan memilah sampah-sampah hasil produksi masyarakat kaya.

Sore itu, Pak Joko yang sedang memetik senar-senar gitar saya hampiri. Beliau berbincang tentang rencana penggusuran pemukiman tersebut karena lokasi itu akan dijadikan entah-apa-tapi-ada-kata-kata-kontraktornya-gitu-deh. Pak Joko sudah tinggal di tempat itu sejak 5 tahun lalu bersama istri dan ketiga anaknya. Pak Joko menuturkan, dia bersama beberapa pemulung lainnya memiliki juragan yang siap menyediakan rumah penampungan sementara. Senin besok mereka resmi harus meninggalkan lokasi sampah itu, lokasi di mana kehidupan mereka disangkutkan.

Matahari makin tak nampak di langit suram ditelan mendung. Sementara itu, Pak Tugiyo dan istrinya masih berkutat dengan sampah-sampah kertas dan plastik yang mereka kumpulkan seharian, mereka sedang merapikan untuk dimasukkan ke kantong bekas pupuk. Pak Tugiyo berasal dari Gunungkidul, meninggalkan lahan pertaniannya yang tandus untuk mengadu nasib memilah sampah untuk hidup. Dalam sehari, beliau menuturkan, jika banyak sampah yang datang beliau berdua bisa mendapat uang 10-15 ribu rupiah.

Istri Pak Tugiyo, sambil mengunyah inang (susur), bercerita dulu daerah ini cukup ramai (sampahnya). Sehingga pendapatan mereka bisa cukup banyak. Namun sekarang, dengan adanya rencana penggusuran kawasan itu karena akan digunakan untuk kepentingan lain tentunya sumber kehidupan mereka tak lagi banyak. Entah, akan kemana mereka mencari rejeki. Mungkin Tuhan punya cerita untuk mereka.
Istri Pak Tugiyo menutup pembicaraan : “ya hidup ini kan cuma cerita mas…biar bisa diceritakan sama cucu nanti“





Istri Pak Tugiyo menutup pembicaraan : “ya hidup ini kan cuma cerita mas…biar bisa diceritakan sama cucu nanti“
kamu cucunya to?! salam buat simbah, Potret kehidupan bangsa kita, tak peduli berapa banyak angka kemiskinan, angka pengangguran, yang penting pesta jalan terus.
wajah jogja iki nto!
@nico : aku di sana cuma butuh waktu sejam kurang lebih
ayo yang lain pasti bisa
Ah, ironis dan memprihatinkan, sungguh…
Semoga Tuhan melindungi mereka, Amin.
welcome to big city, my brother!
jakarta tidak hanya neraka, tapi juga jahanam. eh sama aja ya. kenapa sih harus jakarta yang mendapat predikat begitu. ah mbuhlah,…..
semoga kita semuanya bisa hidup damai aja deh.
foto-fotonya sudah bercerita…
hanya bisa mengeLus dada,
semoga negeri ini bisa Lebih sejahtera rakyatnya, amien,,,
fotone apik tenan…
apa ya, yang bisa kita lakukan untuk mereka? biar ngak cuma berhenti di sedih aja.
kalo nunggu presidennya kok kesuwen…
sumpah saya belum pernah ke situ…
Bukannya memang selalu ada tempat seperti ini dimana- mana di tanah- air?
nice pics…
tambak Bayan bukan yang masuk film Kamulah Satu-satunya?
Di masa depan, tugas memilah dan mengolah sampah harusnya bukan tanggung jawab mereka sendirian lagi.
Udah saatnya kita bareng-bareng milah sampah supaya pekerjaan mereka sedikit lebih ringan. Ya kan?
I love you all…
foto2nya duhh
*miris*
cantik to, poto dan ulasanmu
Ya ampun, ngenes tenan
itulah potret sisi lain indonesia kapan kita lepas yaa
yuk, mencoba berusaha untuk tidak hanya bersedih atau tertawa dan mengelus dada sembari berucap “indonesia..indonesia..” atau “indonesia gitu loch”, tapi segera ulurkan tangan.
kalo kita bener” mo telusuri Indonesia,msh byk lg tempat laen nya yg jg bgto naseb nya..
dmn yg miskin akan semakin miskin…
Mungkin memang Tuhan punya cerita sendiri buat mereka..
sebenere masih banyak mas daerah kayak gini selain di tambakbayan. Kayaknya tiap kota di Indonesia punya deh daerah kayak gini
orang-orang yang terlupakan…
ada di sekitar kita, tapi kadang nggak kita lihat dan rasakan keberadaannya.
posting yang menarik buat saya tapi dari gambarnya aja sudah mewakili tulisannya , salam kenal
Ngenes.
Lebih ngenes lagi, karena saya yang di Jogja ga pernah tau tempat tersebut
SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG
apdeeeeeeeeeeetttttttt
Postingan yang sangat menarik…
Salam….
Nice post…
http://gotung.wordpress.com/
Dari gambarnya sudah dapat di mengerti…
tambak bayan….4 tahun ini aku hidup disitu…tempat itu menggambarkan cerita pilu tentang miskin dan anak2 ngekos
Kelam sekali, realita indonesiakah ini?
apik mas e
kata blogger bogor “beuhhh, alus-alus pisan euy potona!! memang kang anto mah mani jago motona!”
Humanis banget fotonya mas anto.
Terus motret yahhh plus ngeblog..
Salam silaturahmi dari blogger bogor (blogor)
Sekitar tahun 2000 saya sering PP dari TB II – Alfa, kayaknya sampah masih sedikit didaerah itu, dan dari trotoar kita masih bisa memandang luas daerah sekitanya (refreshing), tak kira sekarang dah lebih baik, tapi ternyata…
Negara ini tidak henti-hentinya menampilkan gambaran kehidupan yang selalu termaginalkan oleh kekuasaan. entah sampai kapan bung Anto kehidupan seperti itu akan segera beranjak dari negeri yang kaya raya. berbahagialah bagi orang-orang yang masih memiliki mata hatinya untuk menyapa mereka dengan senyum. minimal itu. salam kenal
Tambah semangat, Guam Chat.
Masih kuingat waktu ku masih anak anak….
sekitar tahun 1989, usiaku 12 tahun waktu itu.
Aku masih bisa melihatmu sebagai kampung yang bersih dan ramah. Masih banyak pohon-pohon yang rindang dan setiap orang bisa berteduh dibawahnya, tapi sekarang tinggal kenangan… Pohon rindang berubah menjadi bangunan bangunan beton yang panas… hanya orang mampu saja yang bisa berteduh padanya.