Kibul-kibulan

Maret 2, 2009

Ada yang bilang Pemilu itu pesta demokrasi? Mbelgedes! Saya nggak percaya. Tapi kalau dibilang pemilu itu pestanya rakyat, bolehlah saya kali ini percaya.

Adalah sore tadi yang sedikit mendung, di sebuah pojokan gudang, saat kuli-kuli bongkar truk menunggu pergantian shift, sekilas ada cakap-cakap :

A : Aku mau ijin gak lembur malam ini. Di kampungku malam ini ada pertemuan Caleg #2 dengan warga. Caleg #1 kemarin pas ketemuan ngasih amplop dan beberapa bungkus rokok. Semoga malam ini juga ada, syukur-syukur lebih banyak.

B : Halah, biasa to kayak gitu, caleg ada maunya itu!

A : Ya biar aja, ini kan namanya juga pendapatan tambahan, to!

Apa yang sebenarnya terjadi antara caleg dengan rakyatnya ini. Apakah si caleg sedang berusaha ngibulin rakyat pake duit? Atau rakyat ngibulin caleg dengan pura-pura menyambut baik pen-caleg-an? Mbuh!

Apa ini tandanya rakyat makin peduli dan melek politik, karena mengesampingkan kerja lembur dan memilih pertemuan dengan caleg? Apa cuma karena amplop yang diselipkan sepulang pertemuan jauh lebih menggiurkan ketimbang uang lembur? Saya tidak tau!

Yang jelas, rakyat senang kalau ada uang dibagi. Soal kemudian nanti di bilik suara akan mencoblos kumis siapa atau gundulnya siapa, itu lain perkara. Perut harus segera diisi, anakpun sudah merengek minta dibelikan alat tulis baru.

NB : Gambarnya gak nyambung.