Sabtu Bersama Gusti Cakraningrat
Desember 22, 2008
Atas budi baik Mas Iman, sabtu lalu Saya dan Herman berkesempatan untuk mengenal Gusti Cakraningrat beserta istri. Dan tentu saja juga ditemani Neng Sarah. Kami menikmati makan siang di Pendopo nDalem, sebuah rumah makan yang berlokasi di Pendopo Pakuningratan. Sebuah kesempatan yang langka untuk dinikmati orang seperti saya, yang notabene jauh dari lingkaran kekuasaan bisa bertemu dengan salah satu putra Sri Sultan HB IX.
Pendopo Pakuningratan yang dialih-fungsikan menjadi tempat makan ini terletak di jalan Sompilan Ngasem. Di pendopo inilah lahir GRM Dorojatun (Sri Sultan HB IX) dari ibu KRA Ciptamurti pada tahun 1912. Pendopo nDalem menyediakan makan siang dengan menu tradisional dalam konsep prasmanan. Musik gamelan yang bertalun-talun mengiringi santapan berbagai makanan seperti sate, nasi kuning, semur, dan es kelapa muda. Suasana yang mantap untuk jamuan makan siang.
Pemanfaatan situs budaya sebagai tempat kuliner ini sudah cukup banyak di Jogja, terutama di kawasan Keraton. Sebut saja Bale Raos yang lebih dulu dibuka, sebelum Pendopo nDalem dan terletak di kawasan yang sama. Banyaknya heritage yang dialih-fungsi menjadi tempat makan ini tidak perlu dianggap sebagai bentuk komersialisasi aset Keraton. Justru kita bisa melihat hal ini sebagai bentuk solusi kompromis bagi kita untuk mengapresiasi budaya leluhur dan budaya kuliner sekaligus. Dengan catatan khusus, harus mempertahankan ciri khas heritage yang bersangkutan.
Terus terang, awalnya saya pribadi sedikit merasa canggung (walau ngebet) jika harus berhadapan dengan Gusti Cakra dan istri. Minder, iya. Ndeso, iya. Tapi sebagai orang Jawa saya lebih takut jika tidak bisa berlaku sopan santun di depan beliau. Biar bagaimanapun modern-nya jaman, namun bagi saya menghargai keluarga keraton adalah wujud memanusiakan diri saya sendiri. Perlahan tapi pasti, didukung oleh Gusti Cakra dan istri yang memang sangat terbuka, maka suasana pun mudah mencair. Beliau berdua, dengan moderasi Mas Iman sebagai duta penghubung Jelata CahAndong dengan kalangan keluarga Keraton Yogyakarta, mau mendengarkan Saya dan Herman bercerita dan menjawab keingintahuan kami tentang berbagai hal. Obrolan tentang batik, blog, wayang dan segala hal yang menyangkut Keraton kami lahap habis siang itu, tidak lupa cerita-cerita tentang masa lalu….eh masa kuliahnya Mas Iman dan Gusti Cakra di Jakarta dulu.
Setelah itu kami diajak mengunjungi sebuah Hotel berkonsep heritage, yaitu Mustokoweni. Nama diambil dari partner Srikandi yang juga jago memanah, salah satu lukisan Mustokoweni ada di beranda depan hotel tersebut. Hotel heritage yang terletak di Jalan AM Sangaji ini didirikan oleh Oemi Salamah Prawironegoro, seorang wanita musisi dan fashion designer. Nama Mustokoweni ini diinspirasi ketika beliau memainkan peran sebagai Mustokoweni di sebuah pagelaran seni amal di Leiden saat penggalangan dana bagi korban letusan Merapi tahun 1930. Saat ini hotel Mustokoweni dikelola oleh keluarga Suliantoro Sulaiman, yang juga sebagai pengurus Sekar Jagad, yang memprakarsai pagelaran fashion batik merah-putih di Jogja Fashion Week 2008 lalu. Gusti Cakra dan Bu Etty memang memiliki kepedulian terhadap batik nusantara, salah satunya kiprah di Sekar Jagad bersama Ibu Suliantoro Sulaiman.
Rencananya, kami akan menampilkan profil Gusti Cakra dalam bagian Wajah Jogja untuk lebih menyemarakkan portal tersebut. Harapannya kita bisa menggali lebih dalam tentang keluarga Keraton sebagai penjaga budaya tradisional nenek moyang.





Desember 22, 2008 at 3:52 am
Pertamaks, nyesel ora melu
Desember 22, 2008 at 4:04 am
Eh emang koe dijak po yen?
*ngupil pake balsem*
Desember 22, 2008 at 4:09 am
Jangan dibongkar dong Ntok, biar kliatannya aku blogger aktif gituuu
Desember 22, 2008 at 4:21 am
Memangnya, bloger yang ngupil pake balsem itu bloger pasif po?
Desember 22, 2008 at 5:42 am
Memang sarjana budaya sejati ini…
Desember 22, 2008 at 7:07 am
Aku iriiii!
Desember 22, 2008 at 7:34 am
Waktu makan adalah hal yg paling sulit tentunya
ikut adat kraton g?
Desember 22, 2008 at 9:15 am
eh kalian ngobrol pake bahasa kromo po?
Desember 22, 2008 at 9:20 am
mantab!
Desember 22, 2008 at 2:30 pm
betapa beruntungnya
Desember 22, 2008 at 2:32 pm
Mantab surantab !
*njiplak @zam*
Desember 22, 2008 at 3:01 pm
nunggu postingan wajahjogjanya!
Desember 22, 2008 at 3:41 pm
Kapan Situhh ada waktu buwat saya undang nglihat “Museum Dirgantara Mandala”..??!
Desember 22, 2008 at 3:54 pm
nah itu mustikaweni (mustokoweni), sebenarnya bakal calon nama perhiasan si Aini beberapa saat lalu.
nah karena kurang bahan literatur soal jagoan cewe ini,
makanya konsep dan desain diganti, beserta namanya Tok,..
harusnya kamu bantu dia waktu itu …
*siul2*
Desember 22, 2008 at 6:12 pm
asik nih….
Desember 22, 2008 at 7:40 pm
kowe dikon adus sik rak tok?
Desember 22, 2008 at 8:43 pm
Tulisan menarik….
kerna GBPH Cakraningrat… adalah adik sultan yg jarang terekspose media…
Desember 22, 2008 at 10:17 pm
kamu minta doa cepet lulus ga nto..????
maap,hanya bertanya….
dijawab di sini lebih baik…di jawab dalam hati juga gpp…
Desember 23, 2008 at 1:39 am
kamu manggil dia pake romo atau gusti ndak? hihihi
Desember 23, 2008 at 7:52 am
Sarah makannya banyak gak?
*sarapan nasi uduk*
Desember 24, 2008 at 2:01 am
Wah kesempatan langka bisa didapatkan oleh mas, selamat.
Bener beliau jarang diekspos media.
Kunjungan perdana, semoga jadi sahabat. Ditunggu kunjungan balasannya.
Salam
Desember 24, 2008 at 8:40 am
Lho, Mustokoweni yang di Sangaji ituh ???
Bukannya ituh hotel entupan, Tok ???
Apa sekarang udah di dandanin ???
Sorry kalo sayah salah. Tapi taon 88 sampe 90 sayah tinggal di sebrangnya persis, DENBEKANG…
Desember 24, 2008 at 10:43 am
Ah, bahkan orang yang bertahun-tahun di Jogja saja merasa minder dan ndeso bertemu ningrat, gimana kabarnya orang Jawa perantauan seperti saya ini?
*bahasa Jawa kasar pun tak bisa*
BTW, pengalamannya langka. Mantap!
Desember 24, 2008 at 12:19 pm
@Mbelgedez : iya, udah didandani. malah udah ganti konsep segala. mungkin ganti penerus, jadi di refresh lagi.
Desember 24, 2008 at 3:25 pm
demn itu yg gak ada di SMG
Desember 25, 2008 at 9:53 am
ndebakulsemplak,
tata cara makan normal saja, malah Momon bolak balik dengan piring penuh terus..
Arya,
Demokratis dong, manggilnya ‘ Pak ‘..
Didut,
Lho di Semarang khan juga ada ‘ Kasunanan ‘…Sunan Kuning, monggo pinarak …
Desember 25, 2008 at 6:01 pm
ah iriiii pengeeeeeen…..kapan yah aku bs???
Desember 27, 2008 at 7:05 pm
Neng Sarah mana, kok gak masuk frame? Doi yang motret ya?
Menu yang paling kau suka apa, Tok?
Desember 28, 2008 at 11:00 am
hee gamelan ki bertalun – talun?
Desember 30, 2008 at 5:40 pm
hahaha salut ulasannya keren
Januari 4, 2009 at 2:35 am
Mustokoweni? sudah lama sekali gak lewat sana, karena terakhir nginap di asrama Kalsel Pangeran Antasari yang terletak bertetanggaan di AM Sangaji juga sudah bertahun-tahun yang lalu. seingatku dulu Mustokoweni kelihatan tidak terawat. apakah sekarang sudah diperbaiki?