Kisah Cinta Rahwana & Shinta

Desember 10, 2008

Meski diyakini berasal dari tanah India, namun epos pewayangan “Ramayana” juga terdapat di dalam sastra Jawa. Sehingga bagi kebanyakan orang Jawa atau Indonesia bukan lagi menjadi hal yang asing. Saya pun tidak bermaksud mengulang kisah secara keseluruhan tentang epos ini. Hanya saja hasil dari jalan-jalan ke Solo minggu lalu, membuat saya sedikit ‘terusik’.

Kawan Ijal, pernah membahas di blognya, tentang cocoknya menjadikan epos Ramayana sebagai representasi perlawanan hitam dan putih, karena memang cerita Ramayana yang lebih jelas siapa good guys dan siapa bad guys. Buat saya pribadi, kisah cinta Rama-Shinta yang selama ini dipahami adalah kisah cinta ideal, melebihi kisah cinta Romeo-Juliet, Sampek-Engtay atau yang lain. Karena Romeo-Juliet terlalu pengecut untuk menghadapi hidup sehingga mereka memilih untuk mati, atau kisah Sampek Engtay yang cukup ‘effendi’ karena Sam Pek sudah menumbuhkan benih-benih cinta bahkan sejak Sam Pek belum menyadari Eng Tay adalah seorang wanita.

Potongan cerita Aranyakanda, yang berkisah tentang pengasingan Rama-Shinta yang penuh perjuangan hidup di Hutan Dandaka. Akhir kisah di salah satu bagian kitab Saptakanda itu adalah diculiknya Shinta oleh raksasa bermuka sepuluh, Dasamuka atau biasa disebut Rahwana. Kisah percintaan Rama-Shinta ini adalah template kisah ideal untuk sebuah kisah cinta, yang kemudian banyak diadaptasi oleh sinetron-sinetron atau film-film lain. Alur utamanya, si jahat yang menculik putri cantik, akhirnya dikalahkan oleh si ganteng yang baik hati.

Selanjutnya, ketika Shinta berhasil diculik oleh Rahwana–setelah sebelumnya Rama-Lesmana diperdaya oleh kijang kencana berwarna emas– maka cuma ada Jatayu yang bertempur melawan Rahwana, untuk merebut Shinta. Namun karena kekuatan Rahwana yang bersenjatakan Chandrahasa (pedang-bulan) pemberian Dewa Syiwa, maka Jatayu bukanlah tandingannya. Dengan sayap patah berkulai darah, Jatayu pun mati di pangkuan Rama tanpa sempat memberitahu siapa penculik Shinta.

Dalam kelanjutannya di bagian Yudhakanda, ketika perang besar antara raksasa Alengka melawan pasukan Rama yang dibantu kera-kera Kiskhinda. Ketika berhasil mengalahkan Alengka, Rama menyuruh Hanuman untuk mengambil Shinta di taman Asoka. Konon cerita mengatakan Shinta kecewa karena Rama tak menjemput Shinta seorang diri. Rupanya Rama meragukan kesucian Shinta yang sekian lama disekap di markas musuh. Untuk membuktikannya Shinta masuk terjun ke dalam api yang berkobar, namun berkat pertolongan Dewa Agni dan ijin Dewa Bratha, Shinta tidak terbakar sehingga terbukti kesuciannya masih terjaga dan dijamin para dewa.

Namun, dua buah patung di bagian dalam pintu masuk Museum Radya Pustaka, Solo rupanya punya cerita lain. Patung sebelah kiri, Jatayu menggendong Shinta. Dan sebelah kanan, Rahwana memeluk Shinta.

jatayu

rahwana-1

Kondisi pakaian Shinta pada kedua patung itu amat jauh berbeda. Sekilas memang tak tampak kejanggalan, saya pun memerlukan waktu lama untuk menyadarinya. Saat bersama Jatayu, pakaian Shinta masih lengkap dan ekspresi wajah Shinta pun tenang. Lain ketika di genggaman Rahwana, wajah Shinta terlihat penuh ekspresi dan pakaiannya pujn compang-camping. Maaf, bukan berniat untuk mesum, tapi buah dada Shinta terbuka penuh, serta bagian kelaminnya pun ditampakkan secara sempurna.

rahwana-2

Mungkin ini adalah intrepretasi si seniman patung yang mengilhami salah satu bagian versi cerita. Mengingat cerita Ramayana yang merupakan epos hasil cerita turun temurun, yang pastinya terdiri dari banyak versi dan sudut pandang.

Namun justru kejanggalan ini penting untuk mendekonstruksi makna yang selama ini kita pahami. Bahwa kisah Shinta belum pasti (masih) suci karena pakaiannya sudah diobrak-abrik oleh Rahwana. Demikian pula sebaliknya. Kita perlu mendidik pemikiran kita bahwa belum tentu Shinta itu masih suci, dan Rahwana tak sempat berbuat sesuatu kepadanya. Bahkan Sujiwo Tejo pernah bilang kalau belum tentu Rahwana yang kepincut Shinta, tapi bisa jadi Shinta yang ngebet sama Rahwana. Karena walaupun dia raksasa jelek, namun sakti mandraguna dan mampu merubah wujud menjadi pria yang lebih ganteng daripada Ramawijaya. Kontroversi lain, ada juga yang menyebutkan Shinta bukan diculik. Melainkan lari dari Rama dan kemudian kok ndilalah bertemu Rahwana yang kepincut, karena Shinta mirip Dewi Widowati. Dewi Widowati adalah bidadari yang dijanjikan sebagai istri Rahwana oleh dewa.

Sebagaimana layaknya seni yang penuh kebebasan maka kita bebas mendekonstruksi cerita yang selama ini kita anut, lalu mengkonstruksinya menjadi pemahaman baru. Gesekan pemikiran ini perlu untuk memperkaya wawasan sekaligus mengusik nurani kita untuk mencari tahu makna sebenarnya dan tidak percaya begitu saja, menyerah pada ketidakpahaman.

48 Responses to “Kisah Cinta Rahwana & Shinta”

  1. sandal Berkata

    Setuju Nto, seperti halnya cerita Ken Arok, bisa jadi Ken Dedes-lah yang membuat Ken Arok melakukan semua perbuatan yang tertulis dalam sejarah.

  2. Chic Berkata

    Waktu nonton pertunjukan Rama Shinta di uluwatu, kok yang nyelametin Shinta adalah Hanoman ya? :roll:
    Beda cerita kah? apa aku yang salah nerjemahin cerita? Soalnya peran jatayu ga ada, adanya hanoman, kijang emas, sama Ibu suri :mrgreen:

  3. antobilang Berkata

    @ sandal : keturunan Ken Arok memang harus selalu membela leluhurnya :P Tapi bener iku ndal, aku selalu setuju nek koe sing ngomong.

    @ chic : iya mbak, jatayu itu cuma pas seketika Shinta diculik. Namun Jatayu kalah kuat rebutan sama Rahwana, dan akhirnya Shinta tetap di bawa ke Taman Asoka, Alengka. Hanunan baru membebaskan dari taman Asoka, setelah Alengka dihancurleburkan pasukan Rama-Lesmana & kera-kera Kiskhinda.

  4. ressay Berkata

    Beuh…itu foto…begitu menggairahkan. halah opo toh. hehehe. Oh jadi gitu yach bentuknya. :D

    Untung UU Pornografi tetap melindungi patung2 kayak gini. hehehe..

  5. sekelebatsenja Berkata

    hummm, namanya juga epos, mas anto.
    selalu ada banyak kemungkinan dibaliknya ;)

  6. Diki Berkata

    saya coba mendekonstruksi, tapi kok malah jadi teori konspirasi yah? jadi sebenarnya Laksamana yang berada di balik semua ini *halah* :mrgreen: (eh Lesmana apa Laksamana ya?)

  7. Herman Saksono Berkata

    Konon, Rahwana raja Alengka itu maksudnya Sri Lanka. Jadi di negara itu, Rahwana justru dianggap pahlawan.

  8. Perikecil Berkata

    mumpung masih anget tadi abis latian buat pertunjukan ramayana.

    dulu tau soal cerita ini dari baca2 sama yg film india jadul dan suka2 aja…
    tapi dari bbrp kali liat sendratari ramayana, yang aku tangkap adalah bahwa Rama pengecut. untung aja banyak pihak yg peduli dg pasangan Rama-Shinta ini

  9. escoret Berkata

    wasyuuuuwww..patunge tribal bgt..!!!!

    kpn kita ke solo….
    aku ntar tak bawa linggis..kamu bawa karung…

    pie..???

  10. aRuL Berkata

    kalo dalam kitabnya seperti apa diceritakan? kalo menurut saya sih bukan dari orang perorang tapi dari bukti asli misalnya dari kitab atau seperti epoch gitu :D

  11. paman tyo Berkata

    top tenan iki kajian mas antobelang lelananging jagat. iya ya, boleh jadi shinta yang kepincut mas antobelang eh… rahwana

  12. didinu Berkata

    Luar biasa. Posting bagus Nto,..
    Jarang *kaum muda* yang tertarik dg dunia yg penuh dengan potret karakter manusia.

  13. Mbilung Berkata

    Sudah baca anak bajang menggiring angin to?

  14. Koko Berkata

    Memang menjelaskan segalanya siy. Bagaimana sinta selalu sembunyi-sembunyi ngebales sms,terus kalo makan siang agak lama,dan setiap minggu ada kiriman karangan bunga dari rahwana di meja kerja sinta.

  15. Goen Berkata

    @ Pakdhe Mbilung: Kalau karangan Romo Sindhu yang ini benar-benar kayak mengubah Ramayana menjadi kisah yang nggak hitam-putih doang, mendadak plotnya kayak Mahabharata yang abu-abu. :P

    Kalau banyak orang bilang gaya bahasa Andrea Hirata sangat memukau dan puitis, saya tetap berpendapat bahwa Romo Sindhu dalam Anak Bajang Menggiring Angin lebih liris dan puitis penggunaan kalimatnya. :D

    *malah OOT*

  16. AngelNdutz Berkata

    Ndutz pernah baca di serial cerita jawanya trs pas liat versi seri di TV jg ceritanya gt….cuman sayang serial di TV gak diterusin >.<

  17. jarwadi Berkata

    setiap jaman selalu memberdayakan sikap kritis manusia manusianya dalam meng apresiasi suatu produk sastra sehingga muncul lah si belang anto dengan posting nya disini dan si pematung dengan interpretasi nya terhadap sinta
    :) :) :) btw si anto kayaknya putra seorang dhalang :) :) :)

  18. Mbelgedez™ Berkata

    Meski hanyalah patung, ituh kelamin Shinta terlihat bersih lho, to’….

    Pasti banyak pengunjung nyang njilatin megang-megang….

  19. Iwan Berkata

    Akhirnya apdet juga, dengan header baru pulak. Kemana aja Mas Anto? Sibuk ya..

    Salam kenal.. *salaman*

  20. yogie Berkata

    si anto curhat pengalaman pribadi nie…. jd rahwana di kehidupan nyata…. hehehehe….

  21. guspitik Berkata

    wah..kimpete sinta ndower tibaknya..

  22. aGoonG Berkata

    Kalau berhayal
    Berharap jadi rahwana yang bisa “memiliki” shinta
    atau Jadi Rama ?
    Memang sejarah sering diperdebatkan
    Kecuali ada saksi sejarah pada waktu sejarang itu berlangsung
    Tapi siapa yang bisa hidup se-tua itu
    *Nglantur ra jelas*

  23. didut Berkata

    hahaha~ sy ikut crita pakemnya ajah :D

  24. Hedi Berkata

    dalam kegiatan politik pasti akan ada penutupan kejadian sebenarnya, itu sebabnya epos ini bisa diinterpretasikan macem2

  25. omiyan Berkata

    hhmmm jadi bingung nih….tapi sip lah..setidaknya kita harus melihat dari dua sisi yang berbeda

  26. och4mil4n Berkata

    waduh patungnya…

    iya e… saat sekarang ketika sudah tidak bodoh lagi seperti dulu. saya selalu mencoba melihat segala hal dari dua sisi. tidak serta merta mengamini sesuatu yang sudah didengar dan dipelajari.

    tapi aku benci sama Rama e.. masak Shinta harus buktiin kesuciannya lagi sih, pake bakar2 diri itu.

  27. kangtutur Berkata

    andaikata, anto Rahwana e, Shinta e siapa?
    Ada yang tau???

  28. abenk Berkata

    wah..
    tulisannya bagus dan sangat menarik. mengasah daya sejarah kita..
    tapi,alangkah lebih indah kalo bisa disisipkan nilai2 agamanya bukan cinta saja..hehe
    jangan sampai bunuh diri loh gara2 ga dapet Rahwana ato Shinta@..wakakaka

  29. funkshit Berkata

    melihat posisi kakinya sinta .. sepertinya mereka sedang main berdiri
    *doooohhhhhhhhh*

    setuju dengan ocha…
    Saya lupa soal sinta yang harus membakar diri untuk membuktikan kesucian.. tapi klo memang begitu.. Rama bener2 mengecewakan . .

  30. goop Berkata

    apa kita terlalu berharap pada Rama?
    menjadikan beliau sosok yang begitu ideal?

  31. zam Berkata

    setiap cerita punya versinya masing-masing. soal mana yang benar, mari ktia serahkan ke hati nurani masing-masing. :D

  32. antobilang Berkata

    @ ressay
    Saya berharap sampeyan gak nafsu sama patung :P

    @ sekelebatwinda
    betul, namanya juga epos. kita sebagai penikmat epos juga bebas buat berintrepretasi kan?

    @ Diki
    Bahkan ada kemungkinan Hanuman menyimpan hati untuk Shinta, karena dia yang berkali-kali menemui Shinta. :P
    *nambah edan*

    @ Herman Saksono
    Iya mon, dalam kepercayaan orang Sri Lanka, Rahwana adalah raja yang tampan dan gagah. Sedangkan Rama adalah raja yang tolol, makanya ditinggalkan oleh Shinta.

    @ Perikecil
    Boleh diceritakan bagaimana pengecutnya Rama dalam sendratari? Kapan2 boleh dong lihat kamu nari :P

    @ escoret
    Mari kita lindungi aset-aset sejarah bangsa kita

    @ aRuL
    Saya sendiri belum pernah membaca langsung dari kitabnya. referensi saya dapatkan dari buku bacaan, dan cerita TV serta olah pikir.

    @ paman tyo
    Baiklah, kalau paman yang belang saya pasti manut.

    @ didinu
    Makasih Pak Didi. :D

    @ Mbilung
    Belum pakde. nanti saya coba cari tahu.

    @ jarwadi
    setiap jaman juga memberikan kesempatan untuk anda mengomentari tulisan saya.

  33. antobilang Berkata

    @ Mbelgedez™
    Warna putih di kelamin sepertinya berasal dari tipe-ex, entah bermaksud menutupi warna hitam jembrawi atau malah efek cairan

    @ Iwan
    Salam kenal kembali, mana link-nya?

    @ guspitik
    kimpet & kunam itulah idolamu.

    @ didut
    Boleh, seboleh untuk gak ikut pakem.

    @ Hedi
    Sip kang Hedi, saya setuju.

    @ och4mil4n
    Jika membaca cerita, sepertinya Shinta yang berkehendak untuk membakar diri dengan menyuruh Lesmana mengumpulkan kayu bakar tapi ternyata Rama tidak mencegah.

    @ goop
    Bisa jadi paman, terlalu berharap memang akan memperbesar kekecewaan saat tak terpenuhi. Namun dekonstruksi semacam ini hanya buah pemikiran yang entah-ada-gunanya-atau-tidak, tapi penting untuk proses mencari tahu.

    @ zam
    iyo kang, ning kesimpulan paragraf terakhir aku yo wis ngomong ngunu.

  34. Gobet Berkata

    kembali ke perjuangan salam kenal aja mas .. . . top tambag jagad lelananging jagad

  35. Rindu Berkata

    Entah mengapa malam ini saya ingin berada diblog ini, membuat tapak dan meninggalkan sekeranjang rindu ….

  36. ulan Berkata

    kok patung nya mesum begitu ya?? om om, museum yang njenengan dan teman teman saran kan aku kesana ternyata guide nya enggak tau wakakakakkaka…

  37. yoyoi Berkata

    kisah itu patut kita ambil hikmahnya..

    salam knal…
    btw.. jarang2 lho yg bkin blog kyak gni…

    visit kotakcinta.blogspot.com

  38. Dony Alfan Berkata

    Awas le, nanti diciduk pulisi lho, dianggep melanggar UU Porn :D
    Aku malah jarang ke Radya Pustaka je, terakhir ke sana pas nanya2 soal hari baik sama Mbah Hadi, sekitar 4 tahun yang lalu.

    Semoga Zoraya tidak buka-bukaan seperti Shinta

    *Siap2 dipancal Antobelang*

  39. iman brotoseno Berkata

    Saya justru tertarik dengan hikayat yang dipercaya oleh rakyat Srilangka – ( Srilangka digambarkan sebagai Alengka dalam Ramayana ).
    Sebenarnya justru Shinta yang tertarik dengan Rahwana, karena Rama sibuk berburu dan menimba ilmu mandra guna, sehingga istrinya kesepian dan butuh kehangatan ‘ real hero ‘ sepeti Rahwana.
    Mereka mamadu kasih, bercumbu dan akhirnya Shinta ogah ogahan waktu dibujuk oleh Hanoman untuk kembali ke Rama.
    ” Buat apa ? ” Saya menemukan kejantanan Rahwana.
    Shinta justru sakit hati karena, malah disuruh nyemplung ke api. ini membuktikan Rama pengecut dan berpikir ego sentris. Perawanan is number one.
    Sayang Rahwana keburu mati, kalau tidak Shinta akan suka rela menghampiri kekasih sejatinya.

  40. ndebakulsempak Berkata

    mantap sekali ulasan bang antobilang…

    btw, sekarang rama ada di djambur ???

  41. dhasamuka Berkata

    xixixixixi… yang lalu biarlah berlalu …. sama halnya dengan kitab2 lain … kalau benar2 kita gali maka g akan terlihat mana yang benar mana yang salah … soalnya semuanya akan selalu benar … dari tiap2 sudut pandang … sampai akhirnya hanya suatu kehampaan tanpa rasa dan tak berarti …itu sih dalam pikiran saya … walaupun sebenarnya hala2 seperti itu enak untuk dipikirkan secara lanjut xixixixixixi

  42. dayu Berkata

    rama merindukan shinta…,lha shinta `e merindukan sapa…?!!

  43. dhasamuka Berkata

    merindukan saya :p

  44. tukangkomentar Berkata

    Memang kita cenderung untuk menggampangkan segala sesuatu, medefinisikan semua menjadi hitam-putih. Mungkin karena dalam kehidupan real kita perlu sesuatu yang tok-cer, yang gampang dimengerti. Jadinya Rahwana itu jahat, Rama itu baik dan Sinta itu setia.
    Tetapi memang begitukah?
    Kan pada kenyataannya Rama ada jahatnya juga, yaitu merelakan istrinya terjun ke api demi kepuasan hatinya sendiri. Iya toh?
    Rahwana bisa mencintai seseorang sepenuh hati tanpa ini atau itu. Mungkin caranya memperoleh cinta itu tidak betul, tetapi (seperti sudah di singgung di atas) apakah jalan ceritanya betul-tul? Apakah bukan Sinta yang mendekati Rahwana karena jengkel terhadap Rama, karena diajak hidup sengsara? Demi apa? Demi menimba ilmu dengan menyepi? Kan kita tahu, bahwa untuk menimba ilmu yang gitu kita harus “puasa”. Jadi asumsinya ialah bahwa Sinta lama nggak dapat nafkah badaniah. Mana tahan, dong. Setia-sih setia, tapi keinginan badaniah itu sulit ditekan, kan? Ayo, siapa yang mampu ngacung?
    Jadi saya rasa memang cerita versi yang ini nggak/kurang asli dan dibolak-balikkan demi memperoleh …. hmmm, memperoleh apa, ya? Mbuh, ah, pokoknya dari dulu saya sudah rasa, bahwa ada yang nggak klop dalam cerita ini.
    Salam (lama nggak muncul).

  45. antobilang Berkata

    @tukang komentar :
    iya sudah lama situ nggak nongol, senang bisa ketemu lagi.

    iya, versi lainnya memang cukup banyak, salah satunya yang diutarakan mas iman, cukup menarik bahwa di Sri Lanka, ceritanya berbalik. Rama lah yang jahat. Dan Rahwana (Alengka) yang baik hati.

    Sampai di sini saya percaya, kebenaran versi manusia itu terletak pada kepentingan. Siapa punya kepentingan, diciptakannya kebenaran.

  46. bligungtre Berkata

    Wah, artikel menarik Mas! Berarti mungkin patung itu versi Srilanka ya?
    Setuju, betul memang kebenaran versi manusia selalu berdasarkan kepentingan tertentu. Sosok Rama sendiri mungkin dibesar-besarkan oleh penuturnya. Begitu pula banyak tokoh2 lain yang mungkin juga hanya dibesar2kan kemuliaannya dan ditutupi kekurangannya untuk kepentingan2 politik atau religius tertentu. karena begitulah hakikatnya manusia, tidak pernah sempurna. Pasti ada celanya.

    Tapi saya cenderung melihatnya dari sudut yang berbeda.. Terlepas dari benar tidaknya cerita tentang tokoh2 tersebut, saya juga melihat dari sisi bagaimana tokoh2 (yang mungkin dibesar2kan) tersebut menginspirasi dan ‘menggerakkan’ sebagian kita di jaman sekarang..

    Kita manusia tidak diberi kuasa untuk melihat masa lalu. Oleh karena itu keabsahan dari sebuah cerita epos atau sejarah selamanya hanya berupa pernyataan yang diawali dengan kata ‘mungkin’. Bukankah yang penting adalah alur cerita atau tokoh yang kita teladani di HATI kita…? Tokoh atau karakter yang menjadi inspirasi kita untuk membangun pribadi kita.

    Mungkin Rama tidak menjadi panutan di lingkungan Mas dan Mbak-Mbak sekalian, namun bagi saya dan lingkungan saya, Sang Rama adalah sebuah panutan utama bagi seorang lelaki dan Dewi Sita adalah juga bagi seorang wanita. Inilah moral besar yang saya pelajari dari Epos Ramayana.

    Dan dalam cerita Ramayana yang saya teladani, sesunguhnya Rama tidak menyuruh Sita untuk terjun ke api. Namun rakyat negeri Ayodhya-lah yang meragukan dan mempergunjingkan kesucian Sita. Mendengar hal tersebut, untuk membuktikan kesuciannya, Sita pun menyuruh Laksmana untuk menyalakan kobaran api, lalu ia terjun ke dalamnya. Tiba-tiba dari dalam kobaran api tersebut muncullah Dewa Agni membopong Sita yang tidak terbakar sedikitpun dan menyerahkannya kembali kepada Rama, membuktikan bahwa istrinya tersebut masih suci.

    Pun kemudian karena sebagian rakyat masih meragukan kesucian Sita dan menganggap beberapa wabah dan kelaparan yg ada di Ayodhya adalah karena nista yang dibawa Sita dari negeri Alengka, dengan berat hati akhirnya Rama melepas Sita ke hutan Dandaka. Sita pun pergi ke hutan karena menghormati dharma suaminya sebagai raja yang harus mengutamakan rakyatnya di atas kepentingan keluarga atau pribadinya. Sita lalu tinggal di pertapaan Bhagawan Walmiki yang kemudian menulis epos Ramayana ini, tentu berdasarkan penuturan dari Sita. Di hutan itu pulalah kemudian Sita melahirkan dua putra Rama, yaitu Lawa dan Kusa.

    Singkat cerita, suatu kali karena kuda dari upacara kerajaan Ayodhya tanpa sengaja ditangkap oleh Lawa dan Kusa, Rama pun pergi ke hutan Dandaka. Rama pun kemudian menyadari bahwa kedua lelaki perkasa itu adalah anak-anaknya. Ia pun berkumpul kembali dengan Sita dan mengajaknya untuk kembali ke Ayodhya.
    Namun karena kehidupan kerajaan sudah tidak nyaman lagi bagi Sita dan karena takut kehadiran dirinya hanya menghalangi dharma suaminya sebagai raja, Sita pun berseru pada bumi pertiwi bahwa jika memang betul ia tidak pernah mencintai lelaki selain Rama, dan jika sang bumi mengakui kesucian dirinya, biarlah ia dibawa masuk ke dalam bumi pertiwi. Kemudian, seketika bumi terbelah dan menelan Sita, membawanya kepada ketenangan abadi, sekali lagi membuktikan kesuciannya sebagai istri Rama.

    Rama pun kembali ke kerajaan Ayodhya, memimpin negerinya dengan baik, namun dipenuhi kesedihan dan penyesalan—hingga akhir hayatnya.

    Demikian bagian akhir cerita Ramayana versi saya.

    Terlepas dari apapun kebenarannya, kemungkinan penulisnya melebih-lebihkan karakter2nya, saya tidak tahu pasti, namun menurut saya semua itu dilakukan untuk tujuan mulia, yaitu sebagai kisah teladan bagi generasi selanjutnya. Walau terdapat berbagai macam versi, saya pikir alangkah bijaknya jika kita mengambil versi yang paling baik dan lalu meneladaninya. Apalah artinya mempertanyakan atau memperdebatkan kebenarannya jika setiap penyataan kita selalu diawali dengan kata ‘mungkin’…

  47. Nausim Al-Farid Berkata

    memang kisah RAhwana dan SINTa menjadi legenda dalam sejarah.
    entah kebenaran tentang pertarungan antara rama dan Rahwana di latar belakangi merebut kekasihnya (Sinta?

  48. komang Berkata

    Cerita Ramayana menurut saya bukanlah sebuah legenda.. melainkan sebuah sejarah.
    Inti cerita dari Ramayana ada pemusnahan massal terhadap kejahatan. Menurut saya penculikan Sinta oleh Rahwana menrupakan sekenario yang sudah diatur oleh Rama dengan bantuan Rahwana. Pertanyaannya adalah, kenapa Rama merelakan hal tersebut?? Rama memang hendak menghancurkan kejahatan yang ada di Bumi Alengka (sri Lanka), namun karena alasan tertentu, Rama tidak bisa atau tidak diijinkan untuk melakukan penyerangan.. harus ada sebuah alasan. Nah dengan alasan penculikan inilah Rama melakukan penyerangan ke Alengka. Namun.. kenapa Rahwana yang dipilih atau diajak kerjasama?? ketika itu di Alengka sudah banyak muncul tindak kejahatan yang dilakukan oleh berbagai macam kelompok atau paksi.. mereka tidak bisa bersatau dan hanya Rahwana sendirilah yang bisa menyatukan mereka. dengan bersatunya atau berkumpulnya semua kelompok atau paksi kejahatan menjadi satu, Avatara Rama akan lebih mudah, cepat, dan bersih dalam melakukan proses pemusnahan tersebut karena memang itulah tujuan-Nya untuk muncul ke Dunia ini.
    kenapa saya berpikir seperti ini?? seharusnya dengan seluruh kesaktian yang dimiliki, Rahwana dengan mudah bisa menaklukan Sinta.. tapi kenapa Rahwana memilih untuk tidak menyentuh Sinta selama masa penculikan?? Padahal dengan semua kesaktian dan anugrah dari para Dewa, Rahwana akan mudah sekali menaklukan hati Sinta..
    Di akhir hayat Rahwana.. beliau memohon kepada Rama..” Aku sudah melaksanakan tugasku, berikan aku Sorga”, kemudian Lord Rama mengabulkan permintaan Rahwana.
    Jika kita tanyakan kepada penduduk Sri Lanka saat ini, mereka akan mengatakan bahwa Rahwana adalah sosok raja paling bijaksana yang pernah dimiliki oleh Sri Lanka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s