Geger Ledhok Tukangan
Juli 9, 2008
Kampung Tukangan yang terletak di bantaran Kali Code ini memiliki sebuah daerah yang dinamakan ledhok. Ledhok, sebuah kata dalam bahasa jawa yang berarti ‘cekungan’, merepresentasikan sebuah daerah berupa cekungan di pinggir sungai yang letaknya lebih rendah dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Ledhok Tukangan menjadi bagian dari pementasan kesenian rakyat dalam Babad Kampung Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008 ini.
Selama 3 hari kemarin, sejak Jumat hingga Minggu, warga Tukangan bahu-membahu mempersembahkan berbagai pentas kesenian yang berpuncak pada pementasan kethoprak “Geger Ledhok Tukangan”. Selain pementasan utama, ada berbagai acara pendukung lainnya yaitu tok-tok galeri, pasar kampung Tempo Doeloe : makanan tradisional, Pentas Musik akustik Koes Ploes dan Syair Syair Kampung. Sayangnya saya sendiri cuma berkesempatan untuk menyaksikan kethoprak “Geger Ledhok Tukangan” saja.
Kethoprak Geger Ledhok Tukangan ini sendiri bercerita tentang sejarah dan mitos yang hidup di kampung Tukangan. Ceritanya yang dibawa dalam pementasan ini sendiri sebenarnya juga merupakan kritik sekaligus refleksi kehidupan masyarakat pada umumnya. Masyarakat di bantaran Kali Code itu memiliki mitos tentang adanya hantu jenis Wewe Gombel yang gemar menculik anak kecil (beda dikit lah, dengan pemerintah orba yang gemar menculik aktivis). Anak yang diculik ini biasanya akan kembali dalam keadaan gila atau mati.

Dari pementasan yang dibawakan dengan bahasa jawa ‘ngoko’ ini, memiliki beberapa babak yang cukup menarik bagi saya pribadi. Bagian pertama adalah saat para pemuda sedang mencari anak yang hilang diculik Wewe Gombel. Bukannya menemukan si anak kecil, tapi pemuda justru menjumpai salah seorang petinggi desa sedang berselingkuh dengan salah satu janda kesepian di kampung itu. Potret demikian sangatlah majemuk di masyarakat kita saat ini. Pemimpin yang berasyik-masyuk mesum dengan segala fasilitas milik rakyat di saat rakyat itu sendiri sedang ‘berkarya’ sekaligus ‘menderita’. Untung saja jaman yang menjadi latar belakang cerita ini belumlah ada handphone yang bisa merekam dalam format 3GP.
Bagian kedua adalah saat ada sekelompok pemuda sedang mengadu ayam (sabung ayam) di sebuah lahan kosong milik kas kampung. Konon di lahan kosong itu akan dibangun sebuah tempat ibadah. Sekelompok pemuda lain yang mengklaim kelompoknya lebih ‘bersih’ datang dan membubarkan kumpulan pemuda yang sedang menyabung ayam. Cara membubarkannya pun dengan pukul sana dan pukul sini, tak ada diskusi. Sampai di sini, wajah kita dicorat-coret oleh kritik dari kethoprak kampung ini. Bagaimanapun juga kita bisa menyaksikan upaya pemaksakan kehendak yang (katanya) dilandasi dengan perintah agama yang tumbuh subur di negeri ini. Kekerasan pun lengkap dijadikan senjata untuk meratakan pemahaman dan kesepakatan.
Selain dua bagian yang saya kutip di atas, masih ada bagian lain yang sesekali saya lewatkan karena sibuk mengabadikan gambar dan berbincang-bincang. Pada intinya kethoprak ini ingin bercerita bahwa ada mitos yang hidup dalam keseharian masyarakat, utamanya soal sesaji kepada Wewe Gombel jika dia menculik anak kecil di kampung itu. Dan juga, adanya mitos Lampor (pasukan berkuda milik Nyi Roro Kidul) sebagai tanda akan datangnya pagebluk, bisa berupa bencana alam atau kelaparan. Namun jika melihat sisipan-sisipan cerita soal bobroknya moralitas pemimpin (bagian 1) dan tatanan sistem masyarakat (bagian 2) maka kita bisa menyimpulkan bahwa munculnya bencana yang melanda adalah karena akibat perbuatan sendiri, baik pemimpin ataupun masyarakatnya.
–***–
Jika ingin menyaksikan pentas kampung di acara Babad Kampung selanjutnya yaitu di Kampung Samirono, pada hari Jumat dan Sabtu (11 dan 12 Juli 2008). Acara yang akan ditampilkan antara lain : Toktok Galeri, pertunjukan religius singiran, macapatan, geguritan, dolanan anak, dan Pementasan Utama ‘TEATER TUTUR JAGAD KAMPUNG SAMIRONO’. Lokasinya di Balai Budaya Kampung Samirono. Jangan lewatkan juga pada hari Minggu [13 Juli 2008] akan dipentaskan KETHOPRAK ONGKEK dengan lakon “KI AGENG PAKER, MBOK RANDHA MBODHON” di Pendhapa Omah Dhuwur, Kampung mBodhon, Kotagede. Selain itu ada beberapa kesenian lokal lainnya seperti keroncongan, wayang, kuliner tradisi dan tok-tok galeri di Kampung Dolahan Kotagede pada pagi harinya.




Juli 9, 2008 at 3:18 pm
Sebenrnya saya kemarin masih ingin menghabiskan cerita kethoprak ini, tapi kok yang lain dah ngajak pulang tho
Juli 9, 2008 at 3:34 pm
ckckckckkck.. aku kok iri ya, surabaya kapan aku bisa nonton begini..
Juli 9, 2008 at 4:18 pm
tradisi dalam arti universal sebenarnya ya memberikan bingkisan kemanusiaan berupa budaya atau hasil inovasi yang semakin memperkaya dan sekaligus merayakan hidup.
Juli 9, 2008 at 5:04 pm
pemain kethoprak nya siapa mas, apa dari masyarakat Ledhok tukangan saja atau dari grop kesenian lain.
Sekarang kan susah nyari seniman kethoprak
Juli 9, 2008 at 5:15 pm
@Funkshit
Sama, aku juga masih pengen melihat wajah bahagianya Momon saat melihat Wewe Gombelnya nongol
Juli 9, 2008 at 5:21 pm
@ jarwadi : pemainya gabungan masyarakat lokalan ledhok tukangan dan dibantu beberapa seniman dari danurejan (kampung sebelah tukangan)
Juli 9, 2008 at 6:23 pm
beh, saya cuma bisa melongos doank. ga bisa nonton…
Juli 9, 2008 at 8:18 pm
WAW….
keren niyh acara…
moga berlangsung terus aja, buat melestarikan kebudayaan indonesia tercinta
Juli 9, 2008 at 11:20 pm
fotonya artistic bgt
Juli 9, 2008 at 11:48 pm
wah bagus banget kalo dinonton sama pemimpin bangsa,sebagai kritis sosial
ngak roadshow kah sampe surabaya? hehehe
Juli 9, 2008 at 11:59 pm
@uLan: Susah Lan, buat ngadain acara macam ituh. Secara Surabaya BELUM PUNYA Gedung Kesenian. FSS ajah ancur mina, liat aja renovasi Bioskop Mitra nanti.
Juli 10, 2008 at 1:34 am
wah..kamu ndak ikutan kuliner jajanan tradisionalnya ??
aku tertarik yg itu tuh….
Juli 10, 2008 at 2:14 am
terakhir kapan ya saya nonton ketoprak???
Juli 10, 2008 at 9:56 am
kok ya saya ga di kabar2i toh….
Juli 10, 2008 at 10:14 am
aku kok yo ra dikandani?
JAHAT!
Juli 10, 2008 at 10:45 am
Acaranya cuma selama bulan Juli? Dari dulu setiap kali ke Jogja, pengennya nonton acara2 begini, tapi gak pernah dapet. huhuhuhu…
Juli 10, 2008 at 3:07 pm
lestarikan terus budaya bangsa yang bagus-bagus.
Juli 11, 2008 at 12:27 am
Babad Kampung adalah inovasi menarik dalam sejarah FKY…
Akan lebih bagus lagi kalau lokasinya juga menjangkau kampung di kabupaten (ndak cuma kota yk thok)…
Bikin di Dlingo atau mana gitu.. toh, ini kan event gaweyane Provinsi.
Juli 25, 2008 at 3:45 pm
walah, cedak omah kok aku ra nonton yo