Menari Tarian Kepedihan Rakyat
Juni 10, 2008
Anter Asmorotedjo (Lulusan ISI Yogyakarta) di panggung Amphiteater, Taman Budaya Yogyakarta arena Festival kesenian Yogyakarta XX 2008 menyajikan karya koreografinya dalam salah satu sesi pagelaran bertajuk “Emergency next young choreographer”.
Tema yang menjiwai tarian, bisa ditebak, yaitu permasalahan bangsa bernenek moyang pelaut ini yang jumlahnya pasti bertumpuk-tumpuk. Anter mengolah beberapa fragmen permasalahan bangsa (baik itu kenaikan BBM, rusaknya moral pejabat negara melalui korupsi yang merajalele, ontran-ontran perebutan kekuasaan, dan juga suasana teror yang membuat rakyat harus membayar mahal untuk sebuah rasa keamanan) dalam lima judul tarian.

Pertama kali, berjudul RERESIK, dimainkan oleh tiga pemuda bertelanjang dada dengan properti sapu lidi dan gerakan-gerakan fisik semacam salto atau koprol. Intrepretasi pun dibebaskan kepada setiap imajinasi penonton. Dalam bayangan saya, maksud dari tarian ini adalah sebuah kritik terhadap kotornya sistem birokrasi dan hukum negeri ini. Bagaimana proses keadilan dan kebijakan-kebijakan disusun di atas uang-uang kotor tidak akan pernah membuat rakyat sejahtera, tapi justru semakin menderita. Sebuah ajakan untuk membersihkan semua itu agar rakyat terbebas dari semua permasalahan bangsa yang sungguh rumit.
Tarian kedua, berjudul ARUS BAWAH, dimulai dengan beberapa pemuda-pemudi mengenakan helm berlarian kesana-kemari. Belasan pemuda-pemudi itu tumbang satu persatu. Tiga kali berturut-turut ada pemuda/pemudi maju ke depan, menampakkan raut muka kaget dan bingung. Melambangkan bagaimana kekagetan masyarakat atas episode kenaikan BBM yang sudah 3 kali terjadi. Lalu dipentaskan bagaimana suasana kepanikan dalam mengantri BBM, dan seorang pejabat yang masih lenggang-kangkung selama para rakyat tadi kesusahan mengantri BBM. Mungkin si pejabat mendapat hak istimewa? atau ada stok BBM khusus pejabat? Lha, puncaknya, si pejabat tadi pun harus kehabisan BBM dan ikut kebingungan mengantri BBM! Kapok!

Ketiga, parodi ontran-ontran pemimpin negeri yang gemar sekali berebut kekuasaan. Divisualisasikan seorang bawahan yang (selalu) dikendalikan oleh atasan, semua gerakannya diatur. Sampai kemudian sebuah puncak kejenuhan itu membuat si bawahan berontak, dan posisinya berubah menjadi atasan. Tapi tetap saja, sepandai-pandainya bawahan, ya masih tetap lebih licik si (mantan) atasan. Upaya membalas perlakuan atasan pun kandas dalam sebuah geger genjik yang tiada habisnya. Saya tidak tau persis siapa yang disasar oleh Mas Anter. Ya, karena pola begini memang majemuk di pentas politik negeri ini. Melihat judulnya PARTAI KANTONG BOLONG, ya mungkin kita langsung menunjuk hidung sebuah partai berlabel agama yang dari beberapa bulan ini selalu geger sendiri, ontran-ontran rebutan posisi. Dulu yang merasa ditindas, balas menindas mantan penindas. Tindas-menindas. Siapa kuat, dia menindas yang lemah, Yang lemah, merintih-rintih minta belas kasihan.
TEROR, adalah judul keempat pementasan tari dari Anterdans Art Community menampilkan 4 pemuda berbaju salur putih-hitam ala narapidana. Beberapa menggunakan penutup kepala ala teroris. Parodi yang dimainkan oleh keempat pemainnya mengingatkan saya kepada beberapa tokoh yang dituduh sebagai tersangka beberapa kasus peledakan bom di tanah air. Beberapa mengaku dia yang paling bersalah, meski sering tidak sinkron dan selalu merasa paling siap mati. Yang selalu lolos, akhirnya memilih bunuh diri.

Terakhir ini yang paling segar, Bung Anter tau betul bagaimana menyajikan sebuah menu yang bagus. Penutup tarian berjudul GLOBALISASI JATHILAN, yaitu atraksi kuda lumping dengan iringan musik hip-hop. Tidak terlewatkan, para pemain jathilan ini pun bertanding battle layaknya para pemarin breakdance. Menyematkan pesan bagaimana nilai-nilai budaya lokal sudah disusupi oleh budaya asing. Bukannya mana lebih baik dan lebih buruk, tapi memang siapa yang bisa bertahan sampai akhir. Kompromi adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh. Menikmati budaya asing dengan tetap mempertahankan budaya lokal warisan nenek moyang.
Dan seniman memang tidak pernah kehabisan bahan untuk mengkritik-dan terus mengkritik dengan gaya mereka masing-masing. Beruntunglah seniman di negeri dongeng ini, begitu banyak hal yang bisa dijadikan bahan dalam pentas kepedihan rakyat kecil. Semoga pentas demikian, bisa menjadi obat bagi sakitnya hati rakyat atas pemerintahnya yang semakin tidak peduli.
Foto lainnya : Flickr




Juni 10, 2008 at 7:42 am
Pertamax!
Juni 10, 2008 at 8:17 am
weh foto nya keren, edit nya bagus
Juni 10, 2008 at 8:52 am
huaaa…
pengeeennn…
Juni 10, 2008 at 10:37 am
tumben kamu nonton opera
bukan ngurusin skripsi…Juni 10, 2008 at 11:27 am
mantaf banget ulasan kang anto
Juni 10, 2008 at 11:30 am
Menari Tarian Kepedihan Rakyat……..ato
Menari diatas Kepedihan Rakyat ???
Juni 10, 2008 at 11:31 am
salut…..kreatif bangets
Juni 10, 2008 at 11:32 am
moga arti tersirat dalam pementasan itu diliat ama kang UCUP JK
Juni 10, 2008 at 12:26 pm
suka nonton tari to?
fotone keren tuh
Juni 10, 2008 at 12:28 pm
wah poto yang pertama keren banget kang… sayang yang pas jathilan malah ngga ada potonya babar blas inih
Juni 10, 2008 at 3:40 pm
gratis ra nontone…???
[mental gretongan...]
Juni 10, 2008 at 4:12 pm
Wahh… ada rekaman pidionya ndak, Nto?
Kalo ada rekamannya, ya diaplodkan kenapa?
Kurang pementasan karya yang bagus di sini…
Juni 10, 2008 at 5:32 pm
Wah sungguh gawat…gawat,
benar mengundang keingintahuan saya..
Juni 10, 2008 at 6:06 pm
paling tidak ada cara untuk sedikit ‘mengobati’ kepedihan kaum yang terzolimi.
Juni 12, 2008 at 7:47 am
kreatip, tapi yang disentil nonton ga yah
Juni 12, 2008 at 9:37 pm
emang kang anto magh…top pisan uey
kreatif bgt
Juni 12, 2008 at 9:44 pm
heh…slesein skripsi… tak laporin Pak Ibnu lhoh maen mulu.. hehehe peace
Juni 14, 2008 at 1:13 pm
awal ketertarikan saya, pada jenengan mas antok, saat baca komen2 kamu diblognya Ndoro Kakung pecas ndahe.
jadi penasaran sama antobilang dech…
ehhh…tnyata gak salah pilih. blognya oke banget.
gak kalah sama punyanya Ndoro itu.
semoga tetap berjaya di****
lam nal mastok.
Juni 15, 2008 at 10:24 pm
[...] lagi motret apaan sich? motret saya yach?” GeeR banget sich mbak! Bayangkan jika Anang dan AntoBilang ada di sini. Pasti mereka seharian sibuk melengkapi koleksi foto [...]
Juni 16, 2008 at 3:41 pm
saya cuma mau komentarin.. fotonya.. keren…
Juni 18, 2008 at 9:57 am
Mudah-mudahan ada pengaruhnya terhadap perbaikan nasib rakyat. Eh ada pengaruhnya ngga? Terus kalo ga ngaruh, kenapa harus nari?
Oktober 13, 2010 at 11:21 pm
mksih mas Anto ulasannya.. makasiih smua koment nya…