antobilang™

Only a life lived for others is a life worthwhile

Untuk Pak Tua, Pengemudi Mobil Tua

Panasnya kota Jogja kian menjadi-jadi waktu sang surya menantang tegak di atas ubun-ubun. Siang itu, kuda besi saya sedang sakit keras, maka kendaraan umum jadi pilihan. Dari jauh, nampak terseok-seok sebuah minibus tua mengarungi jalan raya, bersaing dengan mobil mulus keluaran terbaru dari merk-merk terkenal.

Saya lambaikan tangan untuk minibus itu.

Begitu masuk, suguhan wajah pucat para penumpang yang disimpan dalam panasnya kendaraan minibus tak ber-AC yang seharusnya tak lagi layak beroperasi. Sebuah stiker uji layak jalan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat menghiasi kaca depan minibus tua itu. Tidak tau bagaimana stiker itu didapatkan oleh minibus tua tersebut.

Asap hitam yang mengepul dari pantat minibus itu tak kalah hitam dengan bongkahan batubara. Pak supir yang ada di depan, tanpa seorang kenek. Konon katanya itu demi penghematan. Tak soal, jika ada penumpang turun lari dan tak membayar.

“Kiri pak!”, seorang wanita muda dari bangku belakang mengetuk atap minibus dengan sekeping koin. Pak tua tak mendengar. Saya yang duduk di samping, mengulang perkataan si wanita muda untuk pak tua. Rem berderit dan minubus tua itu terengah-engah menghentikan laju. Selembar uang dua puluh ribuan dikeluarkan dari sebuah tas bermerek mahal yang bisa didapatkan dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.

Pak tua menghela sedikit nafas melihat besar uang itu. Terlihat agak malas, dia mengeluarkan uang untuk kembalian bagi si wanita muda. Banyak sekali yang dia keluarkan dari saku bajunya, namun semuanya adalah pecahan seribu rupiah. Awalnya saya menduga jumlahnya tak kurang dari lima puluh ribu. Tapi dengan delapan belas lembar yang dikembalikan kepada si wanita muda, serta tak kurang dari 2 lembar yang dikembalikan ke saku, saya jadi tahu dia hanya mendapat dua puluh ribu untuk jalan sampai sesiang ini.

Dalam kondisi perekonomian bangsa yang carut-marut belakangan ini, pemerintah pun dengan (katanya) terpaksa harus menaikkan (lagi) tarif BBM. Alasan apapun, itu selalu demi kepentingan bersama. Pak tua -sopir kendaraan semacam ini- yang masih harus menghadapi persaingan dengan kendaraan modern ber-AC yang kian menindih lapak rejeki dan mereka harus dibebani dengan setoran kepada juragan pemilik minibus.

Sore ini, saat saya pulang. Kondisinya masih sama, senyum getir pak tua tertahan oleh bayangan akan makin mahalnya BBM. Dua kali lipat uang yang saya bayarkan untuk pak tua, tak yakin akan mampu menutup kegelisahannya malam ini.

Filed under: In My Search

27 Responses

  1. cK mengatakan:

    ahh…prihatin dengan kenaikan BBM. apa kita sekarang naek becak aja ya?? :-?

  2. kabarihari mengatakan:

    ah sepertinya untuk orang-orang seperti merekalah bensin bersubsidi itu seharusnya diberikan, bukan untuk orang bermobil mewah…

  3. sluman slumun slamet mengatakan:

    trenyuh………..

  4. Anang mengatakan:

    diamput!! nyapo mundhak neh bbm ki…. jingasu tenan ki… jaman arep brakir kayake…

  5. Nayantaka mengatakan:

    Kuda besi sakit keras, opo lagi disekolahke To?

  6. Luthfi mengatakan:

    lulussssssssssssssss

  7. ManusiaSuper mengatakan:

    Pantesan waktu nebeng kemaren bensinmu abis ya to…

    Ngemeng-ngemeng, soal BBM katanya kalau dihitung secara bener, Indonesia masih belum perlu menaikkan harganya. Karena ekspor BBM kita masih ngasih untung sampe 168 trilyun…!

    Ini postingnya

  8. brainstorm mengatakan:

    hidup sangat keras kawan.. sekeras KEPALA para PEJABAT2 sinting yang ga perduli sama rakyat karna bensin mobil mereka “bersubsidi”

    mau jadi apa bangsa ini..

  9. abasosay mengatakan:

    Jadi inget lagunya Iwan Fals,
    “BBM naik tinggi, susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi…”

    Eh, lagunya salah ya… :twisted:

    *bongkar koleksi empetri…*

  10. leksa mengatakan:

    BBM njengking?

  11. poetra mengatakan:

    Saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Saya cuma bisa menghemat bensin sebisa saya, yaitu dengan cara naik angkutan umum seperlunya. Kalau masih bisa jalan, ya jalan saja.

    Lebih baik naek sepeda saja kita semuanya :)

  12. alex® mengatakan:

    Hohoho….
    Lama juga ndak liat pikiran kritis protester Jogja ini.

    Di Jogja sudah mulai desak-desakan BBM kah? :?

  13. Hedi mengatakan:

    tapi dari sudut pandang ekonomi makro, BBM harus naik (karena tekanan harga dunia) *halah…kemeruh aku iki yo*

  14. GR mengatakan:

    Akibat BBM naik, harga-harga pada naik, otomatis hidup makin mencekik, segala pendapatan menukik tajam, jeritan rakyat miskin pun makin memekik mengguncang alam.
    Sungguh pelik bangsa kita ini… :(

  15. kangtutur mengatakan:

    jadi inget lirik lagu….

    Pak Tua… Sudah…lah….!!!

  16. zam mengatakan:

    ah.. dasar orang miskin..

  17. funkshit mengatakan:

    dasar wong sugih kemaki

  18. bangzenk mengatakan:

    sudah saatnya kita turun ke jalan..

    SBY-JK sudah tak lagi mereprentasikan kepentingan rakyat kecil. (kapan juga mereprentasikan?)

    bangkit!!! lawan!! hancurkan tirani!!!

  19. westnu mengatakan:

    nggak habis pikir tentang banyaknya skenario naiknya harga bbm

  20. dil mengatakan:

    makanya tok… blajar nyetir sana… gantiin pak tua..kesian dah tua.. hihihihikhikhik…

  21. Rindu mengatakan:

    *terharu saya … * sejak kapan mas Anto jadi sopir minibus :)

  22. iman mengatakan:

    sekadar mengingatkan negeri ini sudah bukan gemah ripah loh jinawi

  23. chic mengatakan:

    makin terbukti kalo negara ini sudah tidak punya cinta untuk warga negara-nya.. *ironic*

  24. titov mengatakan:

    BBM kaing-kaing sejak dulu kala, masih juga negri ini anggota OPEC…

  25. Abeeayang™ mengatakan:

    itu baru sopir angkot…trus yang laen? :twisted:

  26. Wawan mengatakan:

    Masih untung masih ada pemasukan yang menjadi tumpuan hidup.

  27. stey mengatakan:

    mau prihatin, mau sedih, mau marah, mau teriak, mau misuh..percuma kayaknya..

Leave a Reply

Beli Buku?

Side Link