Sultan Berpamit, Jelata Menjerit. Ranjang Sempit, Tak Lagi Berderit.
Terlalu lama ngempeng sama Zam, kini jelata-jelata Kasultanan Ndoyokarta harus siap dengan sebuah kenyataan hidup yang keras, berpisah dengan Zam. Dia memang tak pergi jauh, wong cuma ke jakarta ini. Cuma ya, tetep saja bukan di Jogja.

Awalnya Juminten kemarin berjalan normal seperti sedia kala. Guyon goblok dan gojek kere. Ada sedikit penjelasan dari kawan-kawan Combine berkait dengan rencana kegiatan workshop di Kaliurang awal Mei mendatang. Selain itu juga ada insiden “siapa menanam, maka dia akan menuai” yang membuat Goen merasa gundah gulana dan berkalang dosa.
Saya mulai merasakan aura tak nyaman saat makan di warung gudeg beratap langit di depan sebuah ATM itu. Terutama saat pembayaran tiba, Sultan merogoh koceknya untuk menafkahi jelata. Lalu dia bilang “aku pengen ning angkringan tugu“. “Mbok sesuk wae kang, semalam sebelum koe mangkat Jakarta” begitu saya menawar. Lalu saya kok merasa ada yang nabokin wajah saya pake duit, tiba-tiba saya sadar itu adalah tanda Zam benar-benar ingin menikmati saat terakhirnya di kota ini. Segera pesan berantai tersebar ke kalangan jelata yang sebenarnya beberapa sudah berniat pulang untuk ikut nderekke sultan nongkrong di Angkringan Tugu dalam sisa pagi itu. Dan beriringan kami menembus kelam kota jogja menuju Angkringan Tugu.
Berteman dengan air mata langit (baca : hujan) yang datang tumpah seketika saat anak-anak bersalaman dengan Zam. Saya ndak bermaksud membesar-besarkan, tapi memang beginilah kondisi malam itu. Dengan bau tanah basah selepas hujan, kami melanjutkan tongkrongan di Angkringan Tugu. Lewat suguhan kopi joss dan teh hangat, kami melepas cerita saat pertama kali bertemu Zam dari sudut pandang masing-masing jelata. Mengharukan, begitu bagi saya.
Momom bercerita perihal pertemuan dengan Zam saat terlibat dalam proyek helpjogja.net (Gempa Jogja Mei 2006). Lalu jeung Tikabanget yang bertemu Zam ketika CA 1st Anniversary, kesannya Zam saat itu begitu ceria setelah mendapat hadiah HP baru dari sebuah lomba blog. Saya sendiri (Antobilang) yang mengenal Zam pertama kali melalui jasa Simbok Venus, lalu berjumpa dengan Sultan itu saat kopdar kali pertama saya. Lokasinya di Angkringan Tugu, kala itu ada Chika, Fame, Arya, dan Ekowans. Jelata lainnya pun bergiliran memberikan testimoni, kecuali Funkshit. Funkshit saat itu hanya terdiam, bungkam seribu bahasa. Mungkin kesedihan mendalam membuat dia tak mampu berkata-kata.
Meski penuh tawa menggelegar di malam itu, saya menangkap kesan sedih dan kehampaan mendalam. Tawa itu rasanya getir, gak ngesoul kalau kata annots. Mungkin untuk mengeluarkan air mata tak harus dengan menangis, cukup dengan tertawa terbahak-bahak.
Zam akan meninggalkan Jogja, kota yang begitu dicintainya. Menuju kota Jancukarta yang (katanya) dia benci setengah hidup. Kota Jogja yang sudah membesarkan namanya di ranah blogosphre harus ditinggal untuk sebuah mimpi kehidupan.
Apa yang istimewa dari sosok Zam sehingga saya pun dengan bangga menuliskannya di sini? Semangatnya! yang membuat saya bangga akan sosok bercelana kuning itu. Waktu itu dia pernah bilang, akan mengungkap misteri bangunan heritage di Jogja agar tak hilang tertelan zaman. Lihat saja semangat dia mengungkap budaya leluhur dalam berbagai postingan soal candi yang melegenda itu? Sebuah semangat anak muda yang patut dicontoh siapapun. Terlepas dari kemesuman dan kekonyolan yang bersangkutan, dia memang benar-benar Penghuni Jogja Terbaik.
Kono le minggato ning Jancukarta. Pesenku mung siji kanggo sliramu, ojo lali karo kutho sing ndeso iki.
Jancukarta! Kota Jancuk yang merenggut Zam dari jelatanya….
Lalu bagaimana dengan kelangsungan Negeri Ndoyokarta ini? meski banyak wacana soal pemindahan ibukota atau bahkan pemilihan sultan yang baru. Di sini saya menyatakan pernyataan politik bahwa Kasultanan Ndoyokarta tak berpindah kemana-mana dan tak ada pergantian sultan. Karena Kasultanan itu letaknya di hati para jelata, begitu juga sultannya.
Kalau pakde bilang kepada saya soal kepergian Zam : ” pergilah sultanku, nasibmu harus diadu, jelatamu selalu berpadu, mendukung semua kiprahmu. ” Rasanya begitulah suara hati para jelata sekalian.
Filed under: In My Search





[...] Antobilang : Sultan Berpamit, Jelata Menjerit [...]
Jakarta … be afraid, be very afraid.
zaaa~~~m~~~
padahal aku nggak pernah ke candi sama zam….
aku belum join ca kok sultannya udah nggak adazammy jangan nakal disana yaaaa
kamu pasti sangat kehilangan teman intimmu itu ya, tok…
rupanya kejadian ini harus terjadi juga
demi pengharapan yg lbh baik
teriring doa..halah..
«« sukses ya mas zam »»
biarkan pantatmu beristirahat sejenak tok…
relakan zam…
wah…tok….
aku bisa menangkap curahan perasaan yg tulus dan dalam dr seorang sahabat…..
*soale hr ini aku jg melepas sahabat yg uda spt soulmate-ku*
yg tanah tok…kl jodoh takkan kemana….
fisiknya boleh pergi, tapi semangatnya selalu tertanam dihati.
opo ki :O
aku bisa merasakan bagaimana kehilangan kekasih Mas…
yah…kurang lebih sama kayak kehilanganmu saat ini…
[...] Terkait: 1. Peter kembarannya Leksa 2. 3dnya Jeng Tika 3. Selingkuhannya Mas Momon 4. Sinuhun Antok 5. Pak Dhe 6. Eko Kasela, sodaranya ian Kaselak 7. Sri Bagindi tercinti 8. Jeng Memet [...]
Sultan Berpamit, Jelata Menjerit,
Sepi dong jogja ngga ada Mas Zam ya,
saya bakal merindukan makian2 bahasa jawa yang biasa kluar dari mulut sultan tercinta
knp saya gak dihubungi buat gabung di angkringan tugu?
argghhhhh……….!!!!!
[...] terkait: Antobilang Sri Bagindi Pak De Mbilung Suwiiiiiiii Mbak Memeth Ekowanz Tikabanget Tikabanget 3D Momon [...]
postingan mu malah bikin aku bener2 sedih iki.. SYIAL!!
mugo2 slamet le..
*siap -siap menyambut… pakai kalungan bunga
sugeng tindak sinuhun
nderekaken sugeng tindak sinuhun
mugi tansah raharja kalis ing sambikala
-amin-
akhirnyaaaaa……
selamat berjuang, sultan!
kami yang di jakarta akan menyambutmu, zam..
setuju dengan leksa, postingannya bikin mrebes mili ….omong-omong titipan di rumah kapan ya mau diambil
opo betah yo pa sultan neng kutho kene
, paling2 mung misuh2 thok..
mungkin ini hikmah bagi CA, ujian sesungguhnya, bisa ndak berjalan terus tanpa zam. ini tantangan, nto?
setiap baca postingan CA tentang mas zam…isinya makin menambah duka saya
kau tahu ntok, kenapa saya cabut duluan gak ikutan makan gudeg? saya,.. gak kuat nahan sediiih huhuhu..
*halah*
*jlebb
komentnya ndoro dalem nich . . . namun benar adanya
mri kita sambut tantangan ini dan tetap tegakkan kasultanan CA dengan Sultan di pengasingan nya
Zam has join the dark side …
sedihnya…
semoga sultannya sering pulang aja.. hehhe
Sultan, kami yang sudah lebih dulu ngluru menir di Jancukarta siap nungging menyambutmu.
Perlu diadakan kopdar penyambutan kayaknya.
hidup zam!!! hihihihi….
mari mari taklukan Jakarta …
( siapa menyusul ? )
sepertinya kita juga mesti belajar, bagaimana mencipta sistem, sehingga ketika *sang sultan* lengser ke prabon (eh… lengser gak seeh?) program – visi – dan misi tetap berjalan!
“toh, hanya fisiknya yg pindah, hatinya tetep untuk Ndoyokarta!!!”
jo lali dalan bali, Le
[...] Sultan Berpamit, Jelata Menjerit by Antobilang™ [...]
kaya waktu presiden bahtiar pergi ke riau waktu itu kali ya. ada sesuatu yang hilang..aneh rasanya. tapi untung mas bah balik lagi kesini hahahah…nggak tau kalo sultan mu, balik apa nggak?
mak dheg baca komengnya mas veta….
ZAAAAMMMM, BALIK KAMUUUUU !!!
MASIH ADA UTANG NIHHHHHHHH !!!!!!!!!!
SIC pasti merindukanmu, sultan…
gyahahaha…..
waaaah… ada kekosongan kekuasaan nih?
@ chic : ndak ada kekuasaan di CA, adanya kekeluargaan.. cieh..
*@ Zam: semoga sukses di perantauan…*
Eh habis ini kita jadi bahas futsal, beli sepeda gunung kan?
*mata berkaca-kaca menyembunyikan wajah sedih melepas kepergian Zammy ke jakarta*
Taklukkan Jakarta ZAM !!!
haiiiiiiiiii semua aku boleh gabung engga
sekalian aja dehhhh salam kenal
buat yang punya blog ini
piye kie…..!
– nangis –
semua sayang kamu zam..
mungkinkah CA pindah ke jakarta juga?
semoga sukses mas zam…
i ll be miss you..
Mas Zam?saya belum ke Jogja buat ketemu beliau, kok dah pindah siihhh???
Zam…
Sosok yang memang luar biasa. Di balik kurus badannya ada semangat yang mirip virus, MENULAR!
Sekali ketemu Zam, mau ga mau kamu akan menganggapnya sahabat.
@ anto
Jakarta kan masih indonesia to…
NJRIT… rasane kok sedih ya? tp zam siap mengkudeta bunderan HI lho.. hihihi
)
kopral gembul jg sudah bilang katanya rela buk BHI dikuasai CA nantinya
ternyata jakarta dipisuhi tp dirindu…
moga betah dech sultan ndoyok di jancukarta
bosen.. beginian mulu isinya..
BUBAR!!! BUBARR!!!!
*jancuk. aku kangen Jogja!!!!*
wakakakkakakak…
)
kang, mengko bengi ngumpul ning jambur, sepeti biasa, jam pulang buruh….
semoga gak kena razia…
Goodbye mas Zam…Saya peserta IT Caravan Atma mengucapkan terima kasih atas bimbingannya… Saya pun turut bersedih entah knpa?? Padahal ketemu mas zam jg br 1 hr.. cm bbrp jam.. Tapi setelah mendengar dan membaca bahwa mas zam akan pergi ke Jancukarta.. Saya ingin menangis.. Berat rasanya.. Canda tawa, kegokilan, n celetukkannya pada saat IT Caravan.. Membuat saya menjadi rindu dengan mas zam.. Pertemuan yg pertama itu sekrang menjadi pertemuan yang terakhir bagi saya n mas zam.. Kami seluruh peserta IT Caravan mengucapkan.. Selamat berjuang mas zam… Jangan lupakan kami.. Mas Anto, titip salam dari kami…
Baru sekali ini baca CA punya. Dan baru tau klo Jakarta (nggon-e ngluru menir) punya sebutan Jancukarta…
Walah…..dadi kangen karo Jogja….kapan iso balik yooo….
Pak Dhe Zam & rakyat Kesulthanan Ndoyokarta…salam kenal…
welcome to the jungle.