Perempuan lusuh di ujung lorong itu sudah melewati separuh abad lebih menghisap udara di dunia penuh kebohongan ini. Tulang yang sudah semakin renta, dipaksakan untuk tetap berdiri kokoh menyambut semua jatah angkut yang juga akan menetukan banyaknya sisa uang untuk dibawa pulang. Simbok yang sama, dulu pernah tertulis di sini, masih didera derita yang sama. Derita yang sama dan beban yang lebih berat.
Di sebuah kolom lokal harian nasional, ditulis lagi soal kehidupan buruh gendong di pasar tradisional. Penghasilan harian yang dulu pernah saya tulis sebanyak Rp 40.000,- rupanya cukup sulit diperoleh dalam masa sulit seperti sekarang, paling cuma separuhnya saja, itupun jika sedang beruntung. Kebutuhan hidup yang semakin mencekik membuat para buruh gendong di pasar Beringharjo harus mengubah pola makan. Jika orang kaya mengatur pola makan demi menghindari penyakit, simbok-simbok ini mengatur pola makan demi melanjutkan hidup. Menu harian yang tadinya berupa nasi sayur dan sepotong tempe atau tahu dihargai Rp 1.500,-. Kini cuma bisa digunakan untuk makan nasi sayur saja, tanpa lauk. Semua itu mereka lakukan karena pendapatan harian masih harus dibagi dengan biaya transportasi (kebanyakan mereka berasal dari luar kota Jogja), dan seharipun bisa melahap jumlah Rp 6.000,- dari kantong mereka. Sisanya untuk sekolah anak, dan membiayai keluarga.
Jikapun dibilang negeri ini susah, lalu bagaimana dengan tumpukan uang di brankas orang-orang kaya negeri ini. Setiap tahun pun diperingkatkan dalam daftar berita di media. Tepat atau tidak, mungkin sebuah kepura-puraan jika menampakkan mimik sedih atas semua ironi ini. Memang sangat tak bijak bila mengatakan mereka itu sedang ditimpa sial. Tapi apa mau dikata, mereka itu sekali lagi cuma tumbal atas parodi kekuasaan negeri koruptor ini.
Penyiksaan fisik dan nurani dipentaskan berkali-kali, dan penonton yang tak bertepuk tangan itu tetap diam, tidak beranjak dari kursinya. Nyaman menikmati hidangan yang tersaji untuk menggendutkan perut-perut yang sudah membuncit itu.
Paradoks yang sama, terjadi berulang-ulang, dan jika ditanya selalu memberikan jawaban buntu. Lalu siapalah saya ini? tak lebih baik dari para koruptor itu. Hanya ingat kebobrokan negeri ini di kala kekurangan, dan sekejap saja melupakan jika sedang perut terasa kenyang. Cuma bisa teriak-teriak saat ingat, tapi kemudian lena karena menang sumpeknya persoalan hidup sehari-hari.
Buruh di pasar tradisional itu pun masih tetap menggantungkan nasibnya pada sebuah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang masih sangaaaaat jauh dari kenyataan, karena keyakinan mereka atas perubahan itu tak banyak dijawab oleh kaum bijak di negeri ini.









keyakinan dan gantungan yang ikut bersama awan berjalan
jah….
paradoks memang selalu terdengar sumbang, kawan, paling tidak kita bisa bersikap dan bertempat di sisi yang tidak merugikan siapa-siapa..
saatnya kita berbagi. sudahkah kita membayar zakat?
kalo kamu percaya statistik,..
denger tuh kata SBY,..
negeri ini makin kayak kok …
*baca data BPS sambil ngemil brownies, plus Rum dan wine…
n paradoks ini selalu terjaga dengan rapi dituntun bahkan diteladani dari generasi ke generasi
waduh
makin kaya..sekaligus makin miskin?
memang sial kita jadi rakyat indonesia. makin kasian para buruh gendong itu karena ada pasar-pasar hyper
tulisan yang merakyat, mau ndaptar anggote legislatip kang? dari partai apa?
Loh, bukannya simbok gendong itu memanggul barang belanjaan?
denger sih katanya negeri kita ini kekuatan ekomoninya bertambah beberapa persen gitu… iya juga sih, yang kaya tambah makin kaya raya sak puuuuuole, yang miskin masih aja tetep miskin…
ralat dikit Ntok, yang merubah pola makan untuk bertahan hidup bukan cuma mbok-mbok itu, awak juga Ntok, warung di sekitar kampus naikin harga…
kalo di pikir-pikir, orang2 kaya itu ngerubah pola makan juga untuk bertahan hidup, coba aja kalo gak berubah, udah habis Ntok orang kaya di negeri kita, mati gara2 stroke sama jantungan semua…
lakukan apa yg kita bisa lakukan untuk mereka..that’s it..
ini pararel dengan angka pengganguran sebanyak 36 juta dan bisa bertambah menjadi 40 juta…
ada yang bisa sayah bantu?
Lah…trus pas liat perempuan buruh gendong itu kamu ngebantuin gag nto?? Apa cuma ngeliatin aja nih? hemm….
aduh saraaaaah, saya cuma berimajinasi kok
*ditimpuk hak 17cm*
Tahun sudah 2008. Tapi kesulitan hidup masih saja merupakan hal yg dirasakan dan dilihat setiap hari. Tanpa ada tanda2 akan berubah.
Jangan2 malah sebaliknya, semakin buruk.
Saya jg pusing nto, bahan baku naik semua.
mana sewa tempat juga mahal….usaha sejenis aja dah naikkan harga.
sedang saya belum….kalo gak gitu makan apa neh hehehehe
yak mari kita berubah? berubah apanya?
mbuh wes…saya aja pusing bagaimana meningkatkan omset.
coba kamu ajari buruh itu ngeblog nto. ajarin pasang adsense…biar hidupnya lebih baik…
*komen ngaco*
duh…adakah yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka??
Soalburuh gendong ini, saya teringat sama acaranya ANTV yg pembawa acaranya Wahyu - bule gila itu. Si Wahyu nyobain bagaimana beratnya gendongan yg harus dipikul dan heran sekali bagaimana dia (yg nota bene bule sehat) bisa ngos-ngosan setengah mati nggotong satu gendongan sementara si mbok bisa melaukannya berkali-kali.
Yg bikin trenyuh lagi si mbok selesai kerja ngajakin wahyu pulang ke “rumah”-nya si mbok dan menyuguhkan minuman hangat seadanya. Semua dilakukan secara alami tanpa dibuat-buat. Mungkin karena pengaruh pembawa acaranya yg nggak “jaim”.
Pengen nangis rasanya kalo inget acara itu, gambaran “rakyat kecil” yg tetep ramah, rendah hati dan menunjukkan ke-”besar”an hatinya dgn “suguhan kecil”-nya.
“Rakyat kecil” yg dgn kehidupan “berat”-nya tetap menunjukkan sisi kemanusiaannya (sisi manusia Indonesia yg digambarkan dalam buku-buku pelajaran SD dulu)
apa kabar raskin dan sukhoi? sudah bulan ke tiga di 2008
minimal doa, katanya itu sudah sangat berarti…
Kalo mbak gendong yang bahenol mau bantu ntok?
Aslkm…mas Anto
saya tersentuh mbaca postingan ini…nice posting deh..
ternyata masih banyak orang2 yg susah dari kita..
salam kenal mas Anto
innalillahi..
inilah kondisi realnya..
Aku cuma bisa berdoa semoga ada perubahan……..
Ngenes tenan yo Dhab
Iso ngewangi opo ki awake dewe?
Sebagai bentuk kepedulian … Dukung mbok Gendong dengan apa om?
owalah…. ndunyo kok isine susah thok. piye ki?
aku yo ora kuwat nggendong sak mono kuwi
hidup indonesia..!!!
kalo ga salah, Pramoeya Ananta Toer pernah bilang: ga ada gunanya merasa kasihan kalo ga mengubah apa2, ga berbuat apa2…
:d
butuh KORLAP gak?
*gak sabar mo demonstrasi lagi*
tulang kok renta…. aenh
sing bener opo yo nang? kandani yo, japri ae
…Dan si mbok buruh gendong akan terus dan mungkin akan slalu terus menahan beban berat yang harus dipikulnya demi sesuap nasi. Duh, sampai kapan si mbok mengistirahatkan organ2nya dan menabung sisa2 tenaganya ???…
jadi imajinasimu selama ini sama buruh gendong ya?
Ntok,
Kok pertanyaan blogger (Katemo,Chika, Tika) yg tanya apa yg saya bisa lakukan utk buruh gendong itu ngga dijawab????????????
Biar sedikit2 kali aja bisa meringankan beban hidup mereka utk sehari.
pake poto lebih dramatis…
sama halnya dengan postingan ini, memang semakin susah zaman sekarang, semuanya serba mahal, cari kerja susah, dsb…gimana dong, mari bantu !!!
pemandangan satire di tengah arogansi konsumsi belanja yang berlebihan dari bangsa yang sedang sakit ini.. Beringharjo, beragam entitas bertemu.. entah menyatu atau saling mengolok..
Repotnasi? Revolusi jawabannya bung..
Revolusi.
turunkan harga minyak dunia secepat-cepatnya!!!
liat kendaraan yg lalu lalang di jogja…. dengan PLAT AB ….. X .. yang merupakan plat dealer… ternyata masih banyak yg sanggup beli motor dan mobil… selain dari plat yg masih 03.13 juga kendaraan yg masih mengkilat tanda belum tersentuh sengatan matahari kemarau..
mungkin bener yg di omongin oleh salahsatu pejabat, gotong royong di negeri ini dah punah… kecuali Korupsi Kolusi dan Nepotisme tentunya
http://restlessangel.wordpress.com/2007/08/30/diary-si-bule/
tok, jd inget, aku masih punya utang ma simbok gendong itu jhe…..
kapan2 tak kontak utk nemenin aku nglunasi utang, mau tak??
eh lha, komennya pd ngenes2 kabeh to ?? mbok optimis to….
bersama, kita bisa !!! ^^
*RZI dengan program rumah sakit gratis (eh rumah bersaling gratis ya) itu sgt membantu mrk lo. dlm teori com-dev, gmn caranya utk memberdayakan mrk.
tp aku masih bingung caranya.
kl misal mslh mrk (yg dirasa berat selain urusan makan) adl biaya sekolah, kita bs bantu kasi beasiswa anak2 mrk. kl biaya kesehatan yg mahal, program2 ky RZI itu bagus bgt.
dari ibu-ibu di pasar bringhardjo
seandainya ada penghasilan yg lebih baik… tak kan ada yg mau jadi buruh gendong
seandainya ada skil yg lebih baik tak kan… ada yg mau jadi buruh gendong
seandainya ada uluran modal sedikit saja … tak kan ada yg mau jadi buruh gendong
karena buruh gendong tak pernah menjadi cita-cita kami
kelas sosial di Indonesia terlihat begitu jelas, banyak yang kaya namun jauh lebih banyak yang miskin.