Hujan Imlek di Semarang
Februari 8, 2008
Sesuai janji untuk merepot-repotkan Kang Fian dkk di Loenpia, Kasultanan Ndoyokarta Hadiningrat mengirimkan tim khusus untuk menyerbu semarang. Awalnya ribuan eblis yang menyataken kesediaannya, tapi dalam menit-menit terakhir kami memutuskan untuk berangkat hanya dalam kondisi bertujuh. Beberapa eblis lain tidak diikut sertakan untuk menjaga kestabilan kondisi kasultanan dan sebagai bentuk kewaspadaan jika terjadi serangan dari negara lainnya.
Kondisi cuaca buruk tanpa peringatan terlebih dahulu itu, membuat kami tidak bisa datang tepat pada waktunya. Meskipun sebenarnya tanpa hujan lebatpun, keadaannya akan sama saja. Berhubung hujan tak bisa membaca layaknya angin, maka dia saja yang disalahkan.
Berangkatlah the Magnificent Seven itu ke kadipaten semarang dengan menggunakan bus. Sempat digilir sekitar 10 pengamen yang bergitar sama, kamipun dipaksa satu jam mendengar genjrengan mereka dan menunggu pak sopir yang laknat itu mengantar kami ke Semarang.
Sampai di Semarang, mengganjal perut dengan Mie Ayam yang rasanya tidak perlu kami ceritakan, namanya juga cuma mengganjal. Tujuh armada Loenpia yang datang siap memboyong kami menembus hujan menuju rumah Kang Didut. beberapa melepas lelah, klekaran di depan televisi, gojek kere, nonton majalah saru seru, dan serangkaian aktivitas dewasa lainnya. Sampai dini hari, sayup-sayup terdengar beberapa masih mengobrol dan beberapa lainnya sudah tewas terkapar.
Paginya, belum puas tidur sebenarnya. Mas Iman Brotoseno yang akan datang pagi ini ke Semarang. Seksi penjemputpun kebingunan, akibat jalan akses ke rumah terendam sampai setengah meter! Whalah. Akhirnya sebuah mobil sewaan yang diandalkan untuk menjemput Mas Iman.

Skrinsyut Sementara
Sarapan di Warung Bubur Ayam Pak Brewok, yang menurut informasi juru kunci adalah terletak di kawasan mahasiswi. Namun selama kami sarapan, tak muncul seorangpun mahasiswi kece. Mungkin karena hujan yang terus mengguyur, tak henti-henti.
Adalah Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong, yang menjadi tujuan pertama jengjeng Imlek kali ini. Kabut yang sesekali turun membuat suasana damai dan tenang di pagoda itu. Terlihat beberapa orang yang sedang menjalankan ibadah, dan beberapa yang berjalan-jalan dan memotret.
Tak komplit sepertinya jika acara Imlek kalau tak ke klenteng Sam Poo Kong. Sebuah Klenteng yang dipersembahkan untuk Panglima Cheng Ho, sang penjelajah lautan dari Negeri Tirai Bambu itu. Sesaat kami merapat, pasukan hujan sudah datang, pertunjukan Barong Sai Liong pun masih digelar di lapangan. Karena pasukan hujanpun semakin keras membombardir, pertunjukan itupun bubar. Menerobos sela kerumunan hujan, kami mencoba untuk masuk ke kuil, tapi gagal. Karena bukan waktu kunjung wisata, maka tidak diperbolehkan kecuali akan beribadat.
Waktunya memberi jatah kepada perut yang sudah didzolimi dengan rasa lapar, kami segera menuju ke jalan kusumawardani. Menikmati ayam bakar kendil untuk menyuplai energi yang habis karena berlari-lari seharian menghindari hujan.
Wisata imlek pun dilanjutkan dengan wisata klenik ke Lawang Sewu. Semua cerita horor tentang Lawang Sewu memang mendesain image tentang kemistisan bangunan ini ketimbang sejarah yang melekatinya. Tidak perlu heran sebenarnya, masyarakat kita memang lebih suka hal klenik daripada ihwal sejarah. Menyusuri ruang gelap dan selayak tak bertuan, pasti akan membuat bulu kuduk berdiri jika harus melewatinya malam hari dan sendirian. Kami juga berkesempatan untuk mengikuti tur selokan bawah tanah yang pada tujuan desain awalnya adalah sebagai pendingin bangunan. Sistem pendingin ruangan dengan metode kolam bawah tanah ini konon memang teknologi belanda yang sudah eksis sejak dahulu kala. Namun pada masa penjajahan Jepun, dialih fungsikan sebagai tempat untuk memenjarakan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Kejamnya penjajah kala itu bisa dibaca dari cerita-cerita di balik bangunan ini. Fyuuh. Kalo inget-inget kekejaman Jepun, rasanya saya jadi ilfil untuk nontonin mbak-mbak bintang JAV beraksi.
Nyesel juga sih nggak sempet ke Kota Lama Semarang. Berdasar informasi dari Si Manis Banjir Kanal Timur Kaligawe kemungkinan besar Kota Lama juga terendam banjir. Ya sudah, semoga lain kali bisa berkesempatan untuk jengjeng ke Semarang dan menengok Kota Lama.
Akhirnya, pulang ke Jogja! Yihai! Besoknya masih lanjooooot jengjeng dengan beliau, si Sutradara Ndoyok Indonesia!




Februari 8, 2008 at 3:00 pm
udan ntox…rak ketemu kowe…
jane meh tak jitaki..
hwakakakakak
Februari 8, 2008 at 3:28 pm
Trus mana mbak-mbak bermata sipit itu?
Februari 8, 2008 at 3:39 pm
Huah, bener to, Semarang kaline banjir…
Februari 8, 2008 at 3:50 pm
ning kaltim …bulungan gak ujan pas imlek kemarin…jadi gimana neh, apa rejeki nggak akan turun hehehehe. Semoga tetep melimpah rejekine biar gak ujan ya.
Februari 8, 2008 at 4:14 pm
kirain ujan angpau?
Februari 8, 2008 at 4:47 pm
“Trus mana mbak-mbak bermata sipit itu?”
dapetnya cewe oriental dari padang pasir . ..
Februari 8, 2008 at 5:15 pm
lah…, foto rintikan ujannya mana??
Februari 8, 2008 at 5:27 pm
antok! masa sopir dibilang laknat? untung kamu bisa nyampe semarang!
*sabda juga ini…!
Februari 8, 2008 at 5:44 pm
Selamat Tahun Baru Imlek 2008 – 2559.
Februari 8, 2008 at 5:54 pm
ke Semarang,gag ke lawang sewu??
Februari 8, 2008 at 6:04 pm
Sekalian bersih-bersih kali biar Semarang gak kebanjiran
Februari 8, 2008 at 6:56 pm
jadi, sudah ketemu sama yang mberi inspirasi BAB II belum? *ngumpet dibalik meja*
Februari 8, 2008 at 7:01 pm
lha. fotone kok cuman gitu tok?
btw si sarah ketauan baca skip skip… :p
Februari 8, 2008 at 7:15 pm
Walah, Jengjeng terus. Kami yang ada di Bandung baru mau jalan – jalan saja harus melihat cafe dan FO berjejal – jejal di setiap sudut kota.
Februari 8, 2008 at 7:15 pm
Heh?? Ke lawang sewu juga yaa… Maaph baru baca lagiii hahaha
Februari 8, 2008 at 8:13 pm
Met Imlek…..
Februari 8, 2008 at 8:49 pm
aihhh..
aihhhh…
fengen ikodhhhh…
Februari 8, 2008 at 9:41 pm
waaa … sayang yaa .. hujan mulu …mas iman ampe ga ngeluarin senjatanya …
Jog Jaaaaa!!!
Februari 8, 2008 at 11:05 pm
Wah knp kopdar sm mas iman mendadak mlm bgt? Saya kan ndak bisa mengajak para eblizwati soale jam besuk kosan mereka cm sampe jam 9.
*alesan mls dtg soale dah tau gada eblizwati*
Februari 8, 2008 at 11:10 pm
jengjeng kota lama semarang?
ha ha ha …. sudah !!!
Februari 8, 2008 at 11:13 pm
waahh, kenapa dari ribuan eblis yang menyataken mau ikut kok malah jadi tinggal tujuh? hehehe
salam kenal bos.
bima
Februari 9, 2008 at 12:52 am
ditunggu yag jeng jeng seharian hari ini
Februari 9, 2008 at 1:50 am
[...] Liputan Antobilang [...]
Februari 9, 2008 at 3:27 am
lain kali saya siapin pawang ular
*lho…
Februari 9, 2008 at 4:30 am
*garuk²*
*tolah-toleh*
*bobo manis*
pppssstt : “saya minta Foto Gadis “Orientalis Arabica” nya yahhhhhhhh”
.::he509x™::
Februari 9, 2008 at 4:37 am
anto balikin playboy-ku!!!
Februari 9, 2008 at 5:16 am
Hah, Semarang banjir juga rupanya,
Februari 9, 2008 at 6:33 am
wah pasukan jengjeng selalu berpetualang dengan seru, nampak asyik sekali
( catatan perjalanan yang seru To… sampai tiba-tiba ngonekin sejarah dengan JAV *halah* )
Februari 9, 2008 at 8:39 am
oleh-olehnya kueh moachi mana? lempar ke surabaya 1 dos dong.. wekekeke…
Februari 9, 2008 at 9:17 am
ketemu ra kro amoy2 e bos?
Februari 9, 2008 at 10:26 am
Tuh kan, gw nggak dikabarin kopdar lanjutan-nya kan?
Hihihi, padahal gw juga tepar™ kena plu habis dihajar hujan seharian di SMG.
Februari 9, 2008 at 11:23 am
waahh.. asik ya jalan2 nya . .
Februari 9, 2008 at 11:35 am
[...] Hujan Imlek di Semarang [...]
Februari 9, 2008 at 2:09 pm
Anto si pembawa hujan….
Februari 9, 2008 at 3:52 pm
[...] Antobilang [...]
Februari 10, 2008 at 10:58 am
enaknya jalan-jalan…
Februari 11, 2008 at 11:26 pm
HUAAAAAA…hujan dan ngantuk bikin saya g bisa ikut..huhuhu