Hari ini wisuda… (lagi) huf… temen2 yang dulu ospek-nya bareng, kok dah pada lulus yak? (kali ini nambah adik angkatan). Ngomong2 tentang wisuda, jadi inget ada satu hal lucu (menurut saya) hahaha..
Kenapa warna baju+toga yang dipakai wisuda itu kok HITAM?
- Emang kenapa?
Ya, karena menurut pandangan orang awam seperti saya. Warna hitam itu adalah perlambang kematian, misteri, ketakutan, dan kesedihan, pokoknya yang serem2 dan suram2 gitu.
Seperti kita ketahui bersama, bahwa banyak sarjana negeri ini yang kemudian terpaksa menganggur karena tak mampu bertempur di medan laga (jagat dunia kerja)? Betapa panjang antrian setiap ada lowongan pekerjaan dipajang? Bukan bermaksud mengeneralisir bahwa setiap lulusan akan bernasib seperti itu, toh nyatanya juga banyak para sarjana yang kemudian berprestasi bagus yang gemilang karirnya di dunia profesional buktinya tiap hari nge-blog pakai speedy kantor maupun yang berhasil berwirausaha warung (misalnya) hingga mempunyai istri outlet di berbagai daerah!
Akan tetapi ada anekdot yang sempet membuat saya dan dosen saya terpingkal2 sewaktu perjalanan ke kampus tadi pagi :
Masa depan para wisudawan yang suram dapat dihindari seandainya baju+toga yang dipakai tak lagi berwarna hitam !
Nah kenapa ngga, baju + toga para wisudawan di ubah warnanya jadi warna-warni cerah nan menyegarkan sekaligus berfilosofis.

contohnya :
-
Merah buat melambangkan energi, kehangatan, dan cinta?
-
Kuning untuk melambangkan optimisme, harapan, dan filosofis?
-
Biru yang dipercaya sebagai lambang kepercayaan, keamanan, kenyamanan, kebersihan dan keteraturan?
PS :
-
Sengaja REPOST sebagai wujud pengormatan kepada Momon yang akhirnya menambah titel ST di belakang namanya. Mungkinkah Momon akan mengubah nama blog menjadi HermansaksonoST (tak hanya Hermansaksono™)? *menjura ke momon*
-
Tidak menerima komentar : “Kamu kapan lulus, nto?”, “kapan nyusul”, “skripsimu piye?” dan sejenisnya. Atau bahkan ucapan selamat wisuda kepada saya






PERTAMAX!
Mau yang putiiiihhh. Kapan aku lulus, lalalaaaa~~
Hettrrixxx!! Kapan aku SIP ya…
trus kamu kapan pake baju hitamnya to *teuteup*
trus nek udah pake baju hitam dan toganya itu makan makan, trus baru boleh ketemu sama aku
hetrik pisan
)
sms si ndorobedhes ke hapeku :
“Mangan mangaaaaaannn… Selamat diwisuda ya. Seneng kan dah lulus?”
ngeceeeeeee..!!
**plintheng pakdhe**
saya sudah sarjana… *bangga abess*
kamu kapan wisuda ntoh
*anang njaluk dikaplok*
Belum lulus kan bukan berarti sudah lulus To…
wah selamat buat bro anto,,,ngomong2 saya pengen toga warna biru,,lambangnya perdamaian.. *perdamaian..perdamaian..* *sambil geol-geol dangdutan*
Sayah cuman mau komen:
Banner pesenanku piye, Nto….???
ntar keburu lulus, malah situ tambah lupa….
aku wis tekan kantor meneh. klambi wisuda wis dicopot. wis ganti.
saiki nguli meneh…
*ngimpi*
20 februari, 20 mei, 20 agustus, 20 november. selalu saja ada pihak yang tidak ingin hari itu ada *tunjuk diri sendiri*
semoga dilancarkan
cukup dengan Antobilang, SB (SeleBlog™ atau StarBlog™) sama saja lah
Abis lulus jadi entrepeneur dong
Lha wong yg drop out aja bisa sukses, apalagi yg lulus..
ngakak baca komen #12
emang udah lulus nto?
pantesan sampe skrg aku masih nganggur, ini karna toganya warna hitam!
coba klo warna pink
mengapa toga warna hitam?
mungkin agar terkesan sangat formal dan tenang?
soalnya kebanyakan baju baju formal juga hitam.
eh tapi ga nyambung ya..
iya ya, knp toga warnanya hitam ya. dulu juga saya pake toga warnanya hitam..
maap bukan menyinggung yg blm lulus
tetep semangat !!!
Lha kamu kapan pake toga juga?
aku gak nanya kapan kamu lulus lho, to…
*habis baca2 komen*
wah ada yg mesen banner juga to..
ya akhi….
tahukah engkau… ditaman fisipol wisudanya dibawah pohon kamboja… sungguh sesat mereka itu
Antobilang, S.B. (Sarjana Blog) dengan Pagerank 4 dengan predikat Kumlot!
*baca komen*
saya bingung !#@$%
jadi bung anto itu udah lulus apa blum sih?
aku kapan lulusnya yha ???
trus,………………………………
…………………………………..
……………………………….
sampeyan juga kapan lulusnya mas ???????
Secara de facto kamu kan udah sarjana Tok. Tinggal kesarjanaan yang de yurre dilengkapi.
Aku tahu kenapa hitam, karena kalau di pewayangan itu warna hitam adalah untuk karakter protagonis yang arif, tenang, dan bijaksana. Arjuna, bima, yudhisira itu diwarnai hitam semua.
jadi pilih warna apa nich.. yang pink ga ada ya ?
gambar toganya lebih mirip jas hujan tuh
black is sweet..
dan warna itam itu melambangkan ketabahan juga sebenarnya…
jad,… mungkin artinya bisa ditambah
semoga menjadi lulusan yang tabah menghadapi dunia nyata
saya pilih warna hijau aja deh biar kesannya selalu segar seperti dedaunan yang hijau
ah saya mah item juga gpp yg penting lulus!!!
wah …
selamat buat anto. baju wisuda warna ijo, oks bangget tuh.
Setuju ama pangsit, warna toga yang warna-warni mirip jas hujan. Tapi kenapa sih bentuknya standar banget, kenapa ga tiap kampus bikin model yang keren-keren. Misalnya seperti seragam Ultra Squad di pilem Ultraman kan keren tuh.
Dasar ndak kreatip.
Sabar yo Kang ^_^
http://abeeayang.wordpress.com/2007/11/13/horeakhirnya-wisuda-jugax-tapimao-kemana/
repost. cih….:p
Toga yang dipake wisuda di ITB warnanya biru kok, To.
Kamu kapan wisuda, To? *kalem, yakin ga bakal berani nimpuk*
gak mau komeng… ntar kena timpuk :p
imagenya koq basbang sih
serasa pernah liat ntah dmn
yang bener tuh harus lulus…
bukan kapan kamu lulus…
huhauhahuha…
yakan
hitrikxx…
sepertinya aku tahu alasan mas antobilang nunda lulus,
mungkin takut status jadi pengangguran karena kutukan toga dan jas hitam.
yo wis mas kita sama-sama mahasiswa senasib yang siap-gak siap harus nyebur ke jurang,
tapi posisinya lain aku terlalu muda untuk terjun bareng orang tua-tua
*nglirik mas antobilang*
Secara pendidikan formal lulus tapi di dunia kerja nyata mungkin statusnya masih pendaftaran ulang
yah…fadahal tanggal 20 itu hari jadi saia sama facar saia….
(mendink OOT darifada menanyakan sebuah fertanyaan tabu itu…)
mumpung belum lulus juga, siap2 pesen yang warna biru ah
skripsi dulu baru bisa lulus pake toga…
owalah, le kepengen banget nganggo toga..ngantek direpost iki..
santai wae nto … sarah juga belum lulus kok …
)
no koment deh
abis gak boleh nanya yg ituh
klo hetriks? so pasti!!!
*spirit belajar up
‘n’nya ketinggalan..
ah, ternyata dikoreksi..
sekalian hetrik aja, deh..
Huwadooh… aku disebut-disebut, dan, omaigad, konon jadi lambang kematian.
(
syukurna, aku warna sawo mateng kok, mateng menjelang busuk sih, tp yg jelas ngga item! dijamin!
HITAM!!!
berarti ilmu tanpa batas..kedalaman tanpa akhir..saya tetap milih HITAM
Iya Loh, padahal waktu dipake ituh …
Jian membuat ku kemringeth
*cuma ingin memberitahukan kalau, sudah pernah wisuda*
saya mau usul, mending pake toga yang warnanya pelangi. merah, kuning, hijau, dll…
itu menandakan keriangan hati. masak di hari nan bahagia (wisuda) pake warna hitam-hitam. klo warna merah, kuning, biru atau hijau ntar disangka mau kampanye, tul gak mas?
test dulu sebelum berkomentar…..
Suasana wisuda di kamus UGM tiba-tiba kurang hidmat. Pasalnya, beberapa orang berteriak-teriak amat kencang di halaman gedung tempat mewisuda . Ooo ternyata kerasnya suara mereka karena bersambung dengan megaphone. “Batraynya masih baru, sehingga suaranya kencang,” salah seorang penonton disampingku mengatakan kepadaku.
” Selepas berkata itu, penonton itu tersenyum. Puas.
“Mau menuntut apa mereka?” tanyaku kemudian. Aku bertanya itu karena aku mengira –dan memang begitulah kebiasaanya bila ada mahasiswa memegang megaphone– mereka sedang berdemontrasi. Mendengar pertanyaanku, orang itu menoleh kepadaku.
“Entahlah ..”jawabnya singkat. “Aku juga bingung mereka mau menuntut apa. Dari tadi, orang-orang itu berteriak-teriak agar toga wisuda diganti warnanya. Bukan hitam, tetapi warna lain saja. Aku heran masalah warna begitu saja kok diributkan. Kayak tidak punya kerjaan saja. Jangan-jangan dia bagian dari orang-orang sesat.”
Selepas bertanya itu, orang itu ngeloyor pergi, menyelinap diantara ratusan, atau malah ribuan orang yang berlalu lalang di tempat itu.
“Kami minta, mulai tahun depan, warna Toga diganti menjadi warna lain, jangan warna hitam,” seseorang yang memegang megaphone berteriak. “Kalau tetap warna hitam, kami tidak akan pernah wisuda sama sekali. Kami akan kuliah dsini terus, sampai mati.”
Semua orang menolehkan wajah, melihat seseorang yang memegang megaphone. Pernyataan trakhirnya, bahwa ‘pemegang megaphone akan kuliah terus di kampus itu bila warna Toga tidak diganti warna hitam’ rupanya sangat menarik bagi mereka. Sebagaian orang ada yang melongo, sebagaian lainnya tertawa, mendengar pernyataan si pemegang megaphone.
“Memangnya kenapa kalau warga hitam?” tanya seorang penonton.
“Warna hitam adalah warna kematian,” jawab pemegang megaphone itu, “warna yang melambangkan selamat tinggal dunia akademis, dan selamat datang dunia pengangguran. Karena warna itulah, banyak pengangguran di negeri ini.”
“Aku heran kepada kalian,” kata penonton itu, “dulu, diantara kalian ada yang protes bila warnanya kuning, hijau, atau merah, maka warna itu diasosiasikan sebagai bagoan dari partai politik. Bukankah warna hitam itu netral politisasi di negeri ini? Apakah kalian sudah tidak lagi politis?”
Mendengar jawaban itu, si pemegang megaphone menghentikan suaranya. Tangan kirinya naik sampai kepala. Satu garukan, lalu dua garukan tangan itu mengenai kepalanya. Sepertinya sedang mikir, atau malah tidak mengira sama sekali kalau ada ‘aksi demo kok menjadi interaktif’,
“Itu dulu,” kata si pemegang megaphone kemudian. “Tapi sekarang berbeda. kenyataan bahwa banyak pengangguran intelektual, itu sebabnya adalah karena Toga wisuda itu berwarna hitam. Kalau bapak tidak setuju, minggir!”
“Bukannya aku tidak setuju,” kata penonton itu memotong, “tapi ada yang mengganjal di telingaku tentang argumenmu. Masa sih sebab pengangguran adalah warna hitam Toga. Ini lembaga intelektual, kampus, masa argumen semacam itu yang menjadi dasar tuntutanmu. Aku kira, pihak kampus hanya tertawa mendengarnya. Kalau toh besok ternyata warnanya diganti menjadi selain hitam, itu bukan karena apa. Tetapi karena apa sih sulitnya mengganti warna hitam. Sangat tidak ideologis.”
Pemegang megahone kembali menghentikan suaranya. Terlihat di sorot matanya ada sinar keheranan, bukan saja karena ‘aksi demo pagi itu telah menjadi interakif’, tetapi karena ‘ampuhnya argumen penonton itu.’
“Siapa sebenarnya orang itu,” kata pemegang megaphone dalam hati, “melihat tampangnya, dia bukanlah mahasiswa. Tapi orang kampung yang datang ke acara wisuda karena salah satu saudara, atau malah anaknya, sedang diwisuda di kampus ini.”
“Bagaimana?” kata penonton itu lagi, “Apakah masih ngotot menuntut perubahan warna?”
“Lantas, kalau tidak perubahan warna, apa usulan bapak?”
“Ha ha ha ha,” penontotn itu tertawa, keras. Semua mata pengunjung di tempat itu kemudian melihat penonton ini. Orangnya tidak begitu ganteng, berbadan tinggi, dan rambutnya agak sedikit panjang. Bajunya lusuh, dan bersandal jepit berbeda warna.
“Menurutku,” kata penonton itu kemudian. “Kita mesti melihat lebih mendasar pada akar persoalannya. Ini adalah lembaga akademis, yang aku kira tidak begitu peduli dengan output mahasiswanya. Mau bekerja di tempat ini kek, tempat itu kek, lembaga ini tidak peduli. Bahkan mau tidak bekerja, yang kamu menyebutnya mengangur, lembaga juga tidak peduli.”
Penonton itu menghentikan suaranya. Nafasnya trun naik. Lalu dia melanjutkan kembali.
“Aku kira,’ katanya, tetapi suaranya agak lirih, “yang menjadi persoalan mengapa banyak output perguruan tinggi yang nganur itu karena kurikulum kita. Aku sendiri jika ditanya bagaimana solusinya tidak paham, karena aku wong ndeso. Tetapi menurutku kurikulum itulah yang perlu kita robah. Bukan kurikum yang mencipta mahasiswa menjadi “para pencari kerja”, tetapi kurikulum “para pencipta kerja”. Aku kira, kalian semua sebagai mahasiswa paham apa yang aku maksudkan. Kalau tidak paham, ya berhenti saja jadi mahasiswa,
Si pemegang megaphone mengangukan kepala. Lalu, tanpa dia sadari, megaphone diangkat kembali. ”kami tuntut agar perguruan tinggi mulai tahun depan harus merubah kurikum dari kurikulum ”yang mencipta pencari kerja” menjadi kurikulum yang berorientasi “pencipta kerja.” Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir disini setuju?”
Si pemegang megaphone mundur selangkah. Beberapa temanya jga ikut mundur. Mereka semua mundur, karena bersamaan ketika si pemegang megaphone itu brtanya ‘Apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir disini setuju?’, semua orang dsitu, seerti sedang latihan kooor, mengatakan, “SETUJUUUUUUU!!!!”.
“Siapa sebenarnaya si pemegang megaphone itu?” aku bertanya kepada seorang mahasiswa yang berdiri di samping kiriku.
“Dia itu kan blogger,” jawabnya. “Namanya antobilang. Biasanya kalau protest pake tulisan, kini protes kok pake megaphone. Ya beginilah jadinya, aksi demo menjadi interaktif, lalu sesat kemudian menjadi pengajian.”
Halah…
http://akhmadmurtajib.com/
http://khayalane.akhmadmurtajib.com/
mao warna apapun, wisuda adalah ajang bisinis kampus
Wakakakakakkakaka.
Maksih kang pencerahannya
Kang Tajib Ngeblog
saya kok gampang ya cari kerja setelah lulus…
( …maap maap. )
# biar nggak pesimis cari kerja
saya pesen toga warna pink. ada ga?
sudah telanjur wisuda bertoga hitam..
meski dulu sempet ditegur pembantu dekan, kerana kucir toganya digantung di blakang
padahal seharusnya kan di kloworin di depan topi toga, biyar bisa disampluk kesamping sama pak pembantu dekan …
btw, kurikulum ku dulu masih “pencari kerja”, makanya lulusan2nya banyak yg kerjanya mburuh. kalo kurikulum diganti “pencipta kerja”, bisa2 lulusane bakulan kabeh … mesakke bakul2 beringharjo banyak saingan …
repostnya ama komennya kang Tajib kok malah bikin gw bingung yang entry yang mana yak
mo tau rasanya wisuda???
SUMUK!!!!!
anto kalo pake baju wisuda warna pink jadi bayut beneren dah
Huehehe, bagus juga idenya ya mas.
*Siap2 tebar knowledge di kampus*
Kapan kamu kerja?
Mo CEPAT DAPAT KERJA di dunia IT???
Belajar dulu dari Ebook Gratis ini!!!
http://ebookgratisgituloh.blogspot.com
Ntar jadi Pelangi deh mas……….!!!!
Menurutku sih hal itu bukan sesuatu yang substansial
lagian warna bajunya juga warna-warni,,,,,,,,,
Mau pake warna yang sekarang belum ada n ngracik sndiri juga boleh kok!!!
Toga hitam karena Universitas sedih kehilangan Anda.
Anda sebagai salah satu penyelaras kehidupan banyak staff dan dosen.
Anda penyumbang uang gedung sehingga bisa dibangun menara gading semegah mungkin.
Universitas harus melepaskan Anda ke wilderness, dan in imenyedihkan.
Karena itulah Toga berwarna Hitam