Simbok Gendong
Juni 29, 2007
Mungkin pasar tradisional tak lagi menarik bagi banyak orang. Berdirinya berbagai pusat perbelanjaan yang menawarkan kebersihan dan kemudahan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, membuat pasar tradisional semakin terpinggirkan. Di pasar tradisional ini, suasana yang ada benar-benar terbatas. Jangan harap ada pendingin ruangan, bandrol harga, keranjang belanja, atau bahkan mau lihat-lihat cewek cantik yang menjadi SPG.
Satu hal yang membuat saya kagum kepada simbok gendong, adalah beliau tidak memasang tarif atas jasa memanggul belanjaan kita! Menurut beberapa orang yang pernah belanja sih, katanya tarif sekali gendong sekitar dua ribu rupiah. Namun tak jarang yang memberikan uang lebih kepada si simbok. Berat beban yang dibawa oleh si simbok tadi bisa mencapai lebih dari 50 kilogram. Apabila saya memposisikan diri sebagai beliau, dengan jumlah pendapatan (10 gendongan x Rp 3.000, 4.000,-) sebesar Rp 40.000,-. Sudah cukup besar? Oh tentu saja, tapi kalau setelah pulang dari bekerja sebagai penggendong belanjaan tersebut, saya harus pergi ke tukang pijat plus-plus refleksi yang bisa mencapai Rp 30.000 se jam. Waw! habis dong uang hasil bekerja seharian. Belum lagi buat ngenet, wuaaa….
Simbok gendong, merupakan potret kebanyakan warga kelas bawah negeri ini. entah masih berapa banyak profil-profil kerja keras yang ada di sekitar kita, yang berjuang demi sekian rupiah dengan mengorbankan sekian jumlah tenaga dan waktunya. Tak jarang, apa yang dihasilkan masih jauh dari kata cukup.
Ada yang menarik dari fenomen pasar tradisional. Bahwa komunitas ini merupakan lahan manjur untuk menunjukkan kepedulian calon kepala daerah, misalnya. Atau untuk ajang penenang massa bagi para menteri ketika ada kenaikan harga kebutuhan pokok. Saat berada di pasar, tampak sekali si badut calon kepala daerah ataupun menteri pura-pura begitu menikmati jamu gendong. Atau begitu terlihat rona wajah simpatik kepada para pengemis dan pedagang-pedagang kecil itu. Tampak sekali mereka seperti benar-benar mendengarkan keluh kesh si pedagang kecil. Terlihat sekali mereka seperti berwujud malaikat penolong di pasar tradisional kala itu. Namun apa yang terjadi saat mereka sudah kembali ke kantor yang berAC, semua lupa akan apa yang barusan mereka lakukan di pasar. Mereka lupa dengan janji yang sudah membuat para rakyat kecil itu terbuai.
Jadi, hati-hati sama calon kepala daerah yang tiba-tiba datang ke pasar wahai para simbok! mereka itu banyak maunya, jangan sampai salah pilih, senangnya sebentar, menderitanya bertahun-tahun.




Juni 29, 2007 at 3:35 pm
Pokoknya™ PERTAMAX
komen belakangan…
Juni 29, 2007 at 3:39 pm
atas saya spammer.
Pokoknya keduax
Juni 29, 2007 at 3:59 pm
yang atas saya…sirik karena ga dapet pertamax 8)
Juni 29, 2007 at 4:01 pm
semuanya spammer… saya aja yang enggak
keempataxxxxxx
*ngakak, terus kabur…
Juni 29, 2007 at 4:07 pm
Juni 29, 2007 at 4:08 pm
Waks… telat submitttttt…..
Juni 29, 2007 at 4:17 pm
* cK : hiya…..sepam profesional.
* Roffi : chika itu pengganti kang biho ya? wahahahhaa
* iseng : aih..mas iseng..hiatus kok komen…wakaka
* wiku : lha…kok terharu? gag baca lengkap ya?
waks…semua SEPAM!!!
resiko….
Juni 29, 2007 at 4:41 pm
resiko seleb blog
habis ini jangan bunuh diri ya nto
Juni 29, 2007 at 5:09 pm
Mencerahkan euy…
Juni 29, 2007 at 5:59 pm
pilkada Jogja masih agak lama loh tok….apa kamu maksudnya nyinggung pilkadanya Jakarta yang udah mulai tebar pesona dan janji sana sini..
ahh…tapi saya bukan warga Jakarta kok
Juni 29, 2007 at 7:40 pm
hmm… kasihan banget ya para simbok gendong itu. Padahal harapan-harapan mereka sederhana banget, jadi ajang pemanfaatan gitu…
Gimana ya kalau artikel ataupun wacana pembicaraan ini bilangnya tuh langsung di depan para `petarung-petarung` itu?
Juni 29, 2007 at 11:11 pm
Bos² itu mungkin tidak lupa, mungkin punya prioritas lain yang lebih penting. bos² kemungkinan besar inget merela nya pas butuh saja.
Juni 29, 2007 at 11:35 pm
hmmm…. tapi kan gak semua bos2nya kayak gitu…
siapa tau di antara mereka ada setidaknya 1, yang benar2 tersentuh dan simpati…
Juni 29, 2007 at 11:49 pm
* cK : bukaaaaan!!!

* Kopral Geddoe : berniat mencalonkan diri jadi kepala daerah?
* ekowanz : ahem… semua pilkada kan ajang tebar pesona, mas?
* jejakpena : waks..bisa-bisa masuk bui saya.
* Roffi : ya ya, masalah skala prioritas ya?
* Nisa : mari berdoa agar mereka yang ‘pura-pura’ masuk neraka.
BAGUS! sepam berkurang kecuali dari manusia berinisial “cK”, jiakakakkaa.
Juni 30, 2007 at 12:26 am
Belum lagi buat ngenet, wuaaa….
emang kowe pernah bayar???
bukannya punya target bikin bangkrut ugm dengan ngabisin benwithnya tiap malem pake 1 kompi dan 1 leptop ????
Juni 30, 2007 at 2:12 am
bingung mo komen apa …
nyepam aja ah … hehehehehehe
Juni 30, 2007 at 2:36 am
Wah.. adkemarena afa ini…
Fadahal kemaren ztatuz Y!M-nya nafzuan fengen liyat gadiz-gadiz EzPeGe…
Juni 30, 2007 at 3:23 am
nggak salah itung tuh?
Juni 30, 2007 at 3:37 am
mampir aja deh
Juni 30, 2007 at 4:03 am
@ndoro kakung
Belum diitung uang tipsnya kali ndoro…
Ide bisnis bagus…
Penyediaan spg buat pedagang di pasar…
Hmm…
Juni 30, 2007 at 6:49 am
Skrinsyutnya mana ?
Pejabat ke Pasar tradisional ? halah, mbel !!!
Juni 30, 2007 at 7:46 am
kalo penulis ada diposisi itu aku ah tau paling juga saling adu harga… salah-salah malah yang mau pake jasamu itu pulang dengan baju compang camping wakakakak…
hmm… potret Indonesia seperti itu, kita semua sudah tahu… tapi beneran dech disini aku belom pernah liat calon kepala daerah masuk ke pasar tadisional… atau memang aku yg kuper kali ya
Juni 30, 2007 at 8:00 am
oh iya lupa mau ngasih saran belajar matematika dulu gih ama pak deking
pantesan ga lulus2 jadi sarjana
Juni 30, 2007 at 9:53 am
sinauuuu….
ngeblog aja kenceng! kuliah ga kelar2!! huh…
Juni 30, 2007 at 9:59 am
tak kiro simbok “gendong” ki typo, e keganti o, dadine simbok gendeng alias…
*ngelirik nduwur*
Juni 30, 2007 at 2:28 pm
Apabila saya memposisikan diri sebagai beliau, dengan jumlah pendapatan (10 gendongan x Rp 3.000,-) sebesar Rp 40.000,-.
Err, opo perlu tak pinjemi kalkulator?
Juni 30, 2007 at 3:51 pm
Weits! Setoejoe to,….
calon raja2 kecil itusaat ada maunya aja keliling ke pasar2 tradisional. tapi kalau dah dapat kursi panasnya, maen sulap2an, pasar tradisional dirubah menjadi kelas hypermarket.Juli 2, 2007 at 10:08 am
pye nek pas neng pasar di racun wae?
)
gimana kalo jamu ne di kasih arsenik wae?
kita tiru gaya nya om Poli…
Juli 2, 2007 at 5:12 pm
biarlah, walo dapet di bawah yang penting nyepam….
keduapuluxsembilanx
top dah tu mbok gendong….. yang nggak nganggep mbok gendong top, berarti musuhan sama sayah
Juli 2, 2007 at 5:13 pm
nyepam lagi, mumpung internetnya lagi cepet
ketigaxpulux
Juli 2, 2007 at 5:32 pm
eh tau nggak, awalnya gue kira ini tentang simbok venus gendong siapaaa gitu… wakakakakk…
*kabur sebelom simbok yang aseli™ baca*
Juli 2, 2007 at 5:37 pm
harusnya ganti simbok warnet koq ya…
Juli 5, 2007 at 4:28 am
Udah ngomong langsung ke simboknya belom?
Juli 6, 2007 at 4:05 am
apalagi kalo pake-nya pijet plus..
bisa tekor tuch…
Juli 13, 2007 at 8:01 am
* lutpi : hush! ojo banter2.
ada aja!
-nutupin muka-




* Joerig : kenapa bingung?
* Master Li : hihihihi
* ndoro kakung : iya ndoro, salah…
* Anang : mau minum apa? dingin apa panas?
* dnial : hehe..saya memang salah nulis. udah diganti tuh.
* cakmoki : halah, malah minta skrinsyut.
* Aini : hwehehehe…sama deking malah diajari ngeblog tuh.
* venus : iyo mbooooooook
* zam : aku gak melu-melu
* Luthfi : sudah punya, makasih.
* Sugeng Rianto : ya begitu mas mental pelupa pemimpin kita.
* diditjogja : ide brilian!
* ndarualqaz : weh, kok malah ngajak padu ki
* cK : wah, gw gak ikut2 lho.
* tooooooooooopics : lha? kok malah simbok warnet
* chie : belum chie! ga sempet, natr aja pas mau calonin diri jadi bupati
* Sezsy : iya, tekor biaya tekor tenaga
Juli 14, 2007 at 2:42 pm
walah…
tak kirakno to Mas Anto njaluk gendong Simbok…
Maret 12, 2008 at 12:56 pm
[...] angkut yang juga akan menetukan banyaknya sisa uang untuk dibawa pulang. Simbok yang sama, dulu pernah tertulis di sini, masih didera derita yang sama. Derita yang sama dan beban yang lebih berat. Di sebuah kolom lokal [...]