Angkringan berpenjual sangat ramah itu sering saya kunjungi sekitar tiga tahun silam. Setiap calon pembeli selalu disapanya dengan riang. Cara dia menghitung total kerusakan pun cukup membuat geli, belum lagi salam perpisahan yang kadang terdengar sedikit usil tapi menarik. Menunya seperti angkringan lainnya, ada nasi kucing, jajanan gorengan, roti sisir, sate telur dan kerupuk serta berbagai jenis makanan lainnya.
Siang itu, tiba-tiba saya rindu nasi kucing isi sambal teri dan kadang jika beruntung akan menemui nasi dengan sedikit potongan telur dadar. Yang jelas, sambalnya enak sekali.
Saya memesan segelas es teh manis, yang tak sampai semenit sudah terkirim ke tangan saya. Udara panas di siang bolong yang menyengat, ingin saya redam dengan es teh ini.
Di samping angkringan itu, penumpang transjogja hilir-mudik di sebuah halte transit. Selain saya, ada seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun-an, juga ikut duduk di bangku panjang angkringan beratapkan terpal warna biru muda. Tidak tahu persis menu apa yang dimakan oleh si lelaki. Yang jelas, dia tidak makan nasi. Pada dasarnya saya pun tak suka memperhatikan urusan makan orang lain, apalagi orang tak dikenal.
Rasa penasaran terhadap laki-laki itu muncul begitu kuat saat penghitungan total kerusakan.
“Roti ini harganya berapa?“, tanya laki-laki itu.
“Satunya Seribu“, dijawab oleh pemilik angkringan sembari menata dagangannya.
Lelaki tua mengeluarkan beberapa uang receh untuk membayar dua roti pengganjal perut siang itu. Selain itu, dia juga menukar sisa recehannya untuk mendapat sekitar empat lembar uang seribuan. Uang itu dilipatnya lekat-lekat, dan dimasukkan kantong dalam-dalam. Dengan langkah berat, dia keluar dari warung angkringan itu menembus jalan raya. Deru kendaraan di jalan raya beradu dengan kepulan asap kendaraan, menenggelamkan bayangan laki-laki itu di ujung jalan.
Dia adalah orang yang tidak peduli dengan naiknya BBM. Tidak pernah risau akan desas-desus kenaikan harga BBM yang sudah mengguncang kalangan yang selama ini menikmati subsidi. Karena dia tak memakai satu jenis kendaraan pun untuk mengantarnya mengarungi hari-mencari rejeki.
Dia tak perlu memaki dan merengek-rengek dengan kenaikan harga BBM. Dia cuek. Tidak peduli. Tapi dia akan menjerit saat nanti harga kebutuhan bahan pokok melambung tinggi, sesaat setelah BBM merangkak naik. Dia yang akan menjadi orang paling tersiksa dengan drama kenaikan harga BBM. Roti yang dimakannya, tak akan lagi cukup dibayar dengan uang recehan.
Tenggorokan saya tercekat, rasanya tidak tepat waktunya untuk memanjakan perut saya terlalu kenyang. Segera membayar sebungkus nasi dan segelas es teh, yang harganya pasti tak akan sama sampai akhir bulan ini.










Komentar